Pagi di Dermaga Air Bangis, Kecamatan Sungai Beremas, Kabupaten Pasaman Barat, biasanya dimulai dengan kesibukan yang akrab dengan kehidupan masyarakat pesisir. Perahu datang dan pergi. Sebagian warga membawa hasil tangkapan, sebagian lainnya mengangkat kebutuhan untuk aktivitas sehari-hari. Namun, pada Kamis pagi, 13 Agustus 2026, ada pemandangan berbeda di antara kesibukan itu.
Sejumlah tenaga kesehatan terlihat membawa peralatan medis menuju sebuah kapal. Mereka tidak sedang hendak melaut untuk mencari ikan. Tujuannya adalah Pulau Panjang, sebuah pulau berpenghuni yang berada di tengah laut dan menjadi tempat tinggal sekitar 1.328 jiwa. Sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup sebagai nelayan.
Di dalam kapal itu terdapat alat pengukur tekanan darah, perlengkapan pemeriksaan laboratorium, stetoskop, obat-obatan, serta tenaga kesehatan yang bersiap memberikan pelayanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) kepada warga.
Pulau Panjang bukan tempat yang bisa dicapai dengan perjalanan darat. Dari Dermaga Air Bangis, perjalanan menuju pulau tersebut membutuhkan waktu sekitar 45 menit dengan perahu dan berjarak sekitar empat mil laut. Dari ibu kota Kabupaten Pasaman Barat, Simpang Empat, perjalanan menuju dermaga mencapai sekitar 65 kilometer.
Jarak itu membuat layanan kesehatan memiliki cerita tersendiri bagi masyarakat Pulau Panjang.
Ketika layanan kesehatan harus menyeberangi laut
Sekitar pukul 09.32 WIB, kapal mulai meninggalkan Dermaga Air Bangis. Cuaca pagi itu mendung. Ombak juga lebih tinggi dibandingkan biasanya. Kapal perlahan membelah laut menuju pulau yang menjadi tujuan para tenaga kesehatan.
Perjalanan itu bukan sekadar perjalanan menuju sebuah lokasi pelayanan. Bagi masyarakat Pulau Panjang, kedatangan tenaga kesehatan membawa pelayanan lebih dekat kepada mereka.
Kepala Dinas Kesehatan Pasaman Barat Gina Alecia mengatakan pihaknya membawa tenaga kesehatan dari Puskesmas Air Bangis, Dinas Kesehatan, serta dokter untuk memberikan pelayanan kepada warga.
“Warga Pulau Panjang berhak memperoleh pelayanan cek kesehatan gratis,” kata Gina.
Sesampainya di Pulau Panjang, suasana berbeda kembali terlihat. Di sebuah rumah sederhana milik warga yang dijadikan lokasi pelayanan, masyarakat telah menunggu sejak pagi. Ada yang datang berjalan kaki bersama keluarga, menggandeng anak-anak, hingga membawa orang tua untuk mendapatkan pemeriksaan.
Tenda sederhana dari terpal dan kursi plastik disiapkan untuk warga yang menunggu giliran. Bagi warga lanjut usia, tempat duduk itu menjadi bagian penting dari pelayanan karena mereka tidak harus berdiri terlalu lama.
Satu per satu warga mendaftarkan diri dengan membawa dokumen identitas. Setelah data dicatat, pemeriksaan dimulai. Tekanan darah diperiksa, darah dicek, kondisi kesehatan dinilai, kemudian warga mendapatkan penjelasan mengenai hasil pemeriksaan serta obat dan vitamin sesuai kebutuhan.
Gerimis sempat turun. Namun, pelayanan tetap berlangsung.
Hari itu, lebih dari seratus warga Pulau Panjang mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Di antara mereka ada Zahharuddin, 66 tahun.
Bagi Zahharuddin, pemeriksaan kesehatan gratis bukan sekadar pelayanan yang datang tanpa biaya. Ia merasakan manfaatnya karena akses menuju layanan kesehatan di daratan membutuhkan perjalanan laut.
“Kami sangat bersyukur dengan adanya pemeriksaan cek kesehatan gratis ini,” kata Zahharuddin.
Selama ini, warga Pulau Panjang mengandalkan Pustu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Jika kondisi penyakit membutuhkan penanganan lebih lanjut, mereka harus menuju Puskesmas Air Bangis.
Karena itu, ketika pemeriksaan datang langsung ke pulau tempat mereka tinggal, kesempatan tersebut tidak ingin dilewatkan.
Hari itu, Zahharuddin mendapatkan kabar yang melegakan. Setelah diperiksa, tekanan darahnya berada dalam kondisi normal.
“Alhamdulillah setelah dicek tekanan darah saya normal,” ujarnya.
Bagi sebagian orang, mengetahui tekanan darah normal mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi seseorang yang tinggal di pulau dan harus menempuh perjalanan laut untuk mendapatkan layanan kesehatan, kepastian itu memiliki arti yang lebih besar.
Ia pulang bukan hanya dengan hasil pemeriksaan, tetapi juga dengan pengetahuan mengenai kondisi tubuhnya.
Bukan hanya Zahharuddin
Zahharuddin bukan satu-satunya warga yang berharap pelayanan kesehatan datang lebih dekat.
Nuraida, 66 tahun, juga menjadi salah seorang warga yang mengikuti pemeriksaan. Ia berharap kegiatan seperti itu tidak berhenti pada satu kunjungan.
“Terima kasih kami telah dilayani dan mudah-mudahan kegiatan ini terus berlanjut,” ujar Nuraida.
Harapan itu muncul dari kenyataan bahwa jarak geografis masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pulau Panjang.
Bagi warga yang tinggal di daratan, pemeriksaan kesehatan mungkin dapat dilakukan dengan mendatangi fasilitas kesehatan terdekat. Namun bagi masyarakat pulau, perjalanan menuju daratan membutuhkan waktu, kendaraan laut, serta kondisi cuaca yang tidak selalu bisa diprediksi.
Naf, 50 tahun, seorang nelayan Pulau Panjang, juga mengungkapkan harapan agar sarana dan tenaga kesehatan di wilayah tersebut dapat semakin memadai.
Saat ini, pelayanan di Pulau Panjang didukung oleh Pustu dan bidan jorong. Namun kebutuhan masyarakat terus berkembang.
Harapan mereka sederhana: layanan kesehatan semakin dekat, mudah dijangkau, dan dapat diberikan secara berkelanjutan.
Di balik angka 151.925
Kisah masyarakat Pulau Panjang hanyalah satu bagian dari cerita besar Cek Kesehatan Gratis di Pasaman Barat.
Hingga periode Januari-Juli 2026, program CKG di Kabupaten Pasaman Barat telah menjangkau 151.925 orang atau 32,28 persen. Capaian tersebut melampaui target sampai Juli yang ditetapkan sebesar 26,83 persen.
Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat menargetkan pelaksanaan CKG sepanjang 2026 mencapai 46 persen dari sasaran 470.700 orang.
Jika angka 151.925 itu hanya dibaca sebagai statistik, ia mungkin sekadar deretan angka dalam laporan pemerintah. Namun, angka tersebut sebenarnya terdiri atas manusia.
Ada bayi yang baru memulai kehidupannya. Ada anak-anak sekolah yang sedang tumbuh. Ada orang dewasa yang setiap hari bekerja. Ada orang tua yang mulai menghadapi perubahan kondisi tubuh karena usia.
Kelompok dewasa usia 18-59 tahun menjadi penerima CKG terbesar di Pasaman Barat dengan 118.989 orang. Sementara warga berusia 60 tahun ke atas yang telah mendapatkan layanan mencapai 12.212 orang. CKG juga menjangkau bayi, balita, anak prasekolah, serta anak sekolah.
Angka-angka itu menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan tidak hanya ditujukan kepada orang yang sedang sakit.Justru, inti dari pemeriksaan adalah mengetahui kondisi tubuh
keluhan berkembang menjadi penyakit yang lebih berat.
Menjemput kesehatan hingga ke nagari
Untuk mengejar cakupan pemeriksaan, layanan CKG tidak hanya dilakukan di fasilitas kesehatan. Dinas Kesehatan Pasaman Barat mengerahkan jajaran 20 puskesmas untuk menjangkau masyarakat di berbagai nagari. Pelayanan juga dilakukan melalui kegiatan masyarakat, kunjungan ke rumah warga, serta layanan terpadu di kecamatan. Model pelayanan seperti itu menjadi penting bagi wilayah yang memiliki hambatan geografis.
Pulau Panjang menjadi salah satu gambaran bagaimana pelayanan kesehatan harus bergerak mengikuti kondisi masyarakat. Tenaga kesehatan tidak menunggu seluruh warga datang ke fasilitas kesehatan. Mereka membawa pelayanan menuju masyarakat, bahkan ketika perjalanan harus dilakukan dengan menyeberangi laut.
Di sinilah makna “jemput bola” menjadi lebih dari sekadar istilah pelayanan. Ada tenaga kesehatan yang harus membawa peralatan, menaiki kapal, menghadapi gelombang, kemudian melanjutkan pemeriksaan di tempat sederhana. Semua dilakukan agar masyarakat yang tinggal jauh dari pusat layanan tetap memperoleh kesempatan untuk mengetahui kondisi kesehatannya.
Bagi Gina Alecia, keberhasilan CKG bukan hanya soal jumlah masyarakat yang diperiksa. Kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan sejak dini menjadi bagian penting dari program tersebut.
“Terpenting sekali kesadaran masyarakat untuk CKG. Mari cegah dini penyakit dan kami siap mengobati,” katanya.
Dari pemeriksaan menuju kesadaran
Kisah Zahharuddin memperlihatkan bahwa pemeriksaan kesehatan dapat memberikan kepastian. Ia datang karena kesempatan mendapatkan pemeriksaan di wilayah tempat tinggalnya. Setelah tekanan darah diperiksa, ia mengetahui kondisinya normal.
Sementara Nuraida berharap pelayanan serupa dapat kembali hadir di Pulau Panjang. Harapan itu memperlihatkan bahwa bagi masyarakat, pemeriksaan kesehatan gratis bukan sekadar program yang datang sekali, tetapi layanan yang mereka ingin rasakan secara berkelanjutan.
Di tempat lain, cerita yang berbeda mungkin sedang berlangsung.
Seorang ibu mungkin baru mengetahui kondisi tubuhnya setelah bertahun-tahun merasa sehat. Seorang pekerja mungkin baru menyadari pentingnya memeriksa kesehatan setelah mendapatkan hasil pemeriksaan. Seorang lansia mungkin merasa lebih tenang setelah mengetahui kondisi tubuhnya.
Setiap orang membawa cerita masing-masing ketika datang untuk diperiksa.
Karena itu, angka 151.925 tidak seharusnya berhenti sebagai capaian administratif. Di dalamnya ada kekhawatiran, harapan, rasa lega, dan keputusan untuk mulai lebih peduli terhadap kesehatan.
Sebelum terlambat
Menjelang sore, setelah melayani lebih dari seratus warga, tim tenaga kesehatan meninggalkan Pulau Panjang. Gerimis kembali turun ketika mereka bersiap kembali menuju daratan.
Sementara kapal bergerak meninggalkan pulau, warga kembali ke rumah masing-masing. Zahharuddin telah mengetahui bahwa tekanan darahnya normal. Nuraida membawa harapan agar pelayanan kembali hadir. Naf dan warga lainnya masih menunggu agar fasilitas serta tenaga kesehatan di pulau mereka semakin memadai.
Laut tetap menjadi bagian dari kehidupan mereka. Perahu tetap menjadi penghubung antara Pulau Panjang dan daratan Air Bangis.
Namun, setidaknya pada hari itu, jarak bukan lagi alasan untuk menunda pemeriksaan. Sebab kesehatan sering kali tidak memberikan tanda ketika masalah mulai muncul. Seseorang bisa merasa baik-baik saja, tetapi tubuhnya mungkin sedang memberikan peringatan yang hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan.
Di balik angka 151.925, ada ribuan manusia yang telah mendapatkan kesempatan untuk mengetahui kondisi tubuhnya lebih awal.
Dan mungkin, dari sebuah pemeriksaan sederhana, sebuah keputusan besar dimulai: lebih peduli, lebih waspada, dan tidak lagi menunggu sakit datang untuk mencari pertolongan.
Di Pasaman Barat, perjalanan menuju kesehatan itu bahkan harus menyeberangi laut. Tetapi bagi warga Pulau Panjang, kedatangan para tenaga kesehatan membawa pesan yang jauh lebih dekat: cegah lebih dini, ketahui kondisi tubuh, dan jangan menunggu penyakit menjadi terlambat untuk ditangani.
Penulis: Erwin Efendi, S.Sos., M.Sos












