HARI ini, Kamis (11/7/2024), Kapolda Sumut Komjen Agung Setya Imam Efendi telah melantik 241 orang Bintara Polri di SPN Hinai Polda Sumut, Langkat. Dengan begitu mereka yang 241 orang ini telah resmi menjadi anggota Polri dengan pangkat Brigadir Polisi Dua (Bripda). Salah satu dari mereka yang dilantik adalah Bripda Muhammad Ali. Sebenarnya di ujung namanya itu ada Nasution, karena ayahnya bermarga Nasution dan ibunya bermarga Tanjung.
Aku sangat mengenal Ali, sapaan akrabnya. Dari dia masih SMP hingga dia sekolah di SMAN 1 Panyabungan. Sebenarnya yang aku kenal adalah abangnya, Irfansyah Nasution, wartawan Mohganews, kebetulan aku pemimpin redaksi media ini. Tahun 2018 yang lalu, Irfan mulanya kukenal bukan seorang wartawan, dia saat itu seorang staf di salah satu partai politik di Kabupaten Madina, karena baru tamat dari salah satu SMA di Panyabungan. Waktu itu aku mendaftar ke partai tempat berkenalan dengan Irfan untuk maju di Pileg 2019, sejak itulah mulai akrab dengan Irfan. Aku lihat Irfan punya semangat dan loyal, tak pernah tawar menawar soal kerjaan.
Karena maju jadi caleg, aku harus cuti dari profesi wartawan Surat Kabar Harian Metro Tabagsel (Jawapos Grup). Memulai jalan politik sebagai caleg, tentu banyak melakukan sosialisasi di lapangan. Irfan pulalah yang menemaniku, siang dan malam hingga dini hari ketemu dengan masyarakat. Walaupun pada akhirnya strategi kami belum membuahkan hasil, orang punya duit banyak sedangkan kami cuma punya semangat juang, dan hasilnya, kami jatuh miskin, hahaha….
Seiring waktu berjalan, ternyata Irfan bercerita dia masih punya cita-cita menjadi ‘alat negara’, Tentara atau Polisi, karena usianya waktu itu pun masih sangat muda, 20 tahun.
Setelah kami tutup cerita tentang Pileg, aku harus kembali ke-aktivitas sehari-sehari sebagai wartawan, saat itu akutawarkan pilihan sama Irfan: masih ikut sama-sama denganku atau ada rencana lain, dan Irfan pun memilih untuk fokus mengejar cita-citanya, bersiap untuk mengikuti seleksi Tentara atau Polisi, kebetukan waktu itu ada informasi penerimaan seleksi. Setelah itu kami mulai jarang ketemu, tapi tetap koordinasi dan komunikasi, termasuk persiapan berkas dia dan lainnya mengikuti seleksi.
Lalu, suatu hari aku mendapat kabar dari Irfan, dia sedang dirawat di RSU Permata Madina. Dia sakit. Aku kira cuma sakit biasa, ternyata dia mengalami sakit usus buntu yang mengharuskan dioperasi. Aku bilang waktu itu, jangan pikirkan soal operasinya, paling penting kamu sehat. Aku tengok dia di rumah sakit, terbaring lesu, dan menangis. Aku bilang, sebentarnya sakit itu, beberapa hari sudah bisa pulang. Ternyata dia nangis bukan karena sakit operasi, melainkan operasi itulah yang menggagalkan Irfan meraih cita-citanya. Pupus sudah asa dan citanya untuk menjadi aparat TNI maupun Polri. Aku pun syok mendengarnya!
Setelah sembuh dan sudah seperti biasa, Irfan mendatangiku, dia bilang: bang, aku ingin jadi wartawan, wartawan apapun aku siap. Saya jawab, kau pikir dulu matang-matang, masih banyak peluang yang lebih baik. Namun Irfan tetap bersikukuh tetap pengen jadi wartawan. Aku sebenarnya sangat menolak keinginan Irfan, tapi karena tekadnya sudah bulat, jadi juga dia sebagai wartawan. Dia bilang samaku waktu itu: abang sering bilang samaku, mau jadi apapun kalau tidak bisa berbuat untuk orang lain, gak berguna hidup kita, tapi jadi seorang wartawan pun banyak yang bisa dibuat membantu orang banyak”
kebetulan saat itu saya wartawan Harian Metro Tabagsel tetapi sudah mengelola media online milik Bang Saparuddin Haji. Aku masukkanlah Irfan jadi wartawan, tapi dengan perjanjian magang dulu dua bulan, tapi sebulan saja pun saya nilai dia layak untuk dilelas di lapangan.
Kembali ke Muhammad Ali, dari Irfan saya mulai mengenal Ali. Fostur badannya tidak kalah dengan Irfan, kalau tidak salah tingginya 178 Cm, ukuran yang sangat layak menjadi alat negara.
Saya beberapa kali berinteraksi dengan Ali, kadang dia datang ke rumah. Ali tidak banyak cakap, apa yang dibilang juga mudah menangkap, ternyata di kelasnya dia selalu juara. Saya tanya apa cita-citanya, dia jawab pengen jadi polisi. Spontan dalam hatiku: semoga saja tidak kejadian seperti Irfan. Di situ aku semangati jugalah dia, termasuk hal yang perlu dihindari juga spritual yang harus dilakukan: karena sekeras apapun usaha manusia tapi Tuhan pulalah yang jadi penentu akhirnya”
Menjadi polisi tidak mudah, tidak bisa ikut-ikutan daftar saja, tapi harus dipersiapkan sejak awal, intelligence quotient (IQ) dan fisik harus dilatih, dan ternyata Ali juga tidak kalah semangat dibandingkan Irfan. Sejak masuk SMA dia dan beberapa temannya memulai latihan fisik, setiap sore dia latihan: lari dan sebagainya. Kemarin dia bilang hampir dua tahun dia latihan fisik persiapan masuk polisi.
Lalu dari Irfan aku dengar cerita Ali akan ikut daftar polisi tahun lalu, saat itu Ali baru saja menyelesaikan ujian akhir di sekolahnya, ijazah saja belum diterima. Malam itu aku cerita panjang dengan Irfan, soal keinginan Ali masuk jadi polisi. Membaca peluang, mengulas tantangan, dan melakukan banyak hal. Tentang inilah kami bicarakan. Sejak itu pula kami menyambangi beberapa sahabat dan senior, baik senior di kepolisian maupun senior di luar instutusi kepolisian untuk meminta masukan. Tanggapan mereka hampir sama semua, intinya adalah: kemampuan fisik, kemampuan intelligence, dan tawakkal.
“Dan jangan percaya calo. Proses rekrutmen Polri sangat terbuka dan akuntabel. Kalau misalnya ada calo yang mengaku bisa membantu kelulusan dengan meminta imbalan, tidak benar itu. Jangan kalian percaya. Paling penting persiapan diri dan ibadah harus dijaga,” kata dua orang senior di kepolisian yang aku ingat betul waktu kami temui sama Irfan.
Irfan saat itu masih bingung. Apakah bisa lulus jadi polisi tanpa bayar? Tetapi setelah ketemu senior itu, Irfan semakin yakin dan menyemangati Ali untuk mengikuti seleksi anggota Polri itu. Akhirnya Ali dikirim mengikuti seleksi ke Polda Sumut di Medan tahun lalu. Beberapa bulan di sana, keluarlah pengumuman, salah satu nama yang lulus adalah Muhammad Ali. Lulus tanpa bayaran sepeserpun, dan awal tahun 2024, Ali mengikuti pendidikan di SPN Hinai Polda Sumut, Alhamdulillah hari ini sudah resmi dilantik oleh Kapolri melalui Kapolda Sumut. Selamat dan Sukses, Ali. Di balik kesuksesanmu hari ini, itu murni karena keringat dan kerja kerasmu, doa orangtuamu, saudaramu, dan orang-orang baik di sekelilingmu. Jadilah polisi pelayan, pelindung, dan pengayom masyarakat.
Muhammad Ridwan Lubis
Pemimpin Redaksi Mohganews






