Catatan Kecil Penyuluh Agama Islam: Bulan Syawal untuk Tingkatkan Taqwa-Istiqamah dalam Kebaikan

Ramadhan berakhir ditandai dengan kumandang takbir kemenangan. Rasa bercampur aduk menghampiri setiap umat Islam. Ada rasa gembira menyambut kemenangan, ditambah semangat silaturahim di bulan Syawal. Di sisi lain ada pula umat yang menangis tersedu melepas bulan ramadhan. Bulan rahmat, magfirah, dan itqun minannar

Terlepas dari perasaan riang gembira maupun rasa sedih melepas bulan suci ramadhan, kita semua sekarang sudah berada di bulan syawal.

Secara etimologi, arti kata syawal adalah peningkatan. Dengan makna, bulan Syawal kita artikan dengan bulan peningkatan; peningkatan ibadah, peningkatan kualitas hidup dan peningkatan kinerja. Hal itu merupakan target ibadah puasa.

Setelah menjalani ibadah selama bulan ramadhan, diharapkan orang-orang yang beriman meraih derajat ketakwaan, seorang Muslim yang terlahir kembali seperti kertas yang masih bersih, itulah makna dari fitri atau fitrah, sehingga di bulan Syawal ini kualitas keimanannya mengalami peningkatan. Tidak hanya kualitas ibadah, tetapi juga kualitas pribadinya, yang selama di bulan Ramadhan dilatih secara lahir batin.

Maka, tugas selanjutnya bukan sekadar menjaga perbuatan baik pada bulan Ramadhan, melainkan juga tetap sustainability pada bulan-bulan setelah Ramadhan, sebab pada dasarnya ramadhan itu merupakan titik start untuk menjadi pribadi yang lebih baik, pribadi yang lebih taat dan bertakwa, juga pribadi yang bermanfaat bagi sesama.

Dengan berpuasa, seseorang akan cenderung dapat mengontrol dirinya untuk melanggar aturan, karena pada saat itu, kondisi tubuh kekurangan amunisi untuk banyak bergerak dan beraktivitas, terutama dalam bermaksiat. Oleh karena itu, Imam al-Ghazali di dalam kitab Ihya’ Ulumiddin berkata: Orang yang berbuka puasa melakukan balas dendam dengan mengonsumsi berbagai macam makanan, maka puasanya tidak ada manfaatnya.

Maka, ketika bulan Ramadhan mencoba melatih anggota tubuh untuk tidak bermaksiat, latihan tersebut semestinya dijaga dan dilanjutkan pada bulan-bulan berikutnya. Tentu ini butuh proses dan tahapan yang cukup panjang, serta niat yang totalitas demi mencapai tujuan ini.

Inilah yang disebut dengan konsisten atau istiqomah dalam ketakwaan. Takwa dengan arti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dapat terealisasi dengan baik dengan keberkahan Ramadhan selaku momen penggemblengan diri. Hal ini juga akan selaras dengan firman Allah SWT:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka konsisten (istiqomah dengan ucapan tersebut), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan berikanlah berita gembira kepada mereka dengan (pahala) surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian’,” (QS. Fussilat: 30).

Seorang mukmin yang konsisten dengan perkataannya sebagaimana dalam ayat tadi, maka ia tidak akan memilah-milih bulan untuk taat kepada Allah. Baginya, semua bulan sama saja sehingga harus selalu menghindari maksiat.

Oleh karena itu, mari sama-sama kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dan tetap istiqamah melakukan hal-hal baik sebagaimana yang kita lakukan selama menjalani ibadah bulan ramadhan. Selamat hari raya Idul Fitri, 1 Syawal 1447 H.

Nur Hasanah Nasution, S.Sos.I
Penyuluh Agama Islam, Kementerian Agama Kabupaten Mandailing Natal