MADINA, Mohga – Pemuda Tani Indonesia cabang Mandailing Natal (Madina) prihatin atas persoalan yang menimpa para petani di wilayah Lintas Barat Kecamatan Panyabungan yang saat ini tidak bisa berbuat apa-apa dikarenakan kekeringan saluran air.
Kekeringan air yang dialami para petani di wilayah itu diketahui sudah berlangsung selama setahun belakangan ini. Petani sudah tak bisa bercocok tanam padi selama dua periode panen.
Sekretaris Pemuda Tani Kabupaten Madina Wadih Al-Rasyid meminta pemerintah daerah segera menangani permasalahan ini. Apabila dibiarkan maka dapat diartikan bahwa pemerintah daerah lalai memperhatikan nasib rakyatnya.
“Pemda Madina harus segeta mengatasi persoalan ini. Apabila lama-lama dibiarkan maka masyarakat bisa kehilangan mata pencaharian sehingga angka pengangguran semakin tinggi,” kata Wadih dalam keterangan pers yang diperoleh mohganews, Rabu (15/2/2023)
Wadih menyebut kondisi ini akibat kurangnya pemeliharaan irigasi dan daerah aliran sungai serta bisa juga pengaruh semakin gencarnya pembangunan dan sumbatan pada saluran irigasi.
“Situasi ini terjadi akibat kita kurang memelihara jaringan irigasi. Selama ini kita ya kalau sudah ada saluran irigasinya dibiarkan saja, jarang sekali ada pemeliharaan. Akhirnya yang kita lihat di jaringan irigasi itu hanya rerumputan dan tumpukan sampah,” ungkapnya
“Padahal kan ini sangat vital bagi kelangsungan hidup masyarakat. Selain itu dampak dari pembangunan, serapan air tanah semakin berkurang ya tentu intensitas air juga berkurang. Karena itu pemeliharaan daerah aliran sungai dan irigasi sangat penting, jangan sampai sudah kering seperti ini baru kita panik, akhirnya petani yang jadi korban. Bayangkan sudah berapa musim tanam yang mereka lewatkan?,” sambungnya.
Wadih yang juga Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini, juga mengingatkan bahwasanya beberapa bulan lalu tim dari Balai Wilayah Sungai Sumatera II (BWS) sudah menyampaikan berbagai macam hal terkait kondisi DAS dan jaringan irigasi di Madina yang diterima oleh Sekretaris Daerah Alamulhaq Daulay.
“BWS Sumatera II sepulang dari Kabupaten Pasaman Barat sudah singgah di Madina dan membahas soal DAS bersama Sekda, namun sampai hari ini saya tidak tau tindak lanjutnya seperti apa, apakah pemerintah daerah kita yang tidak menindaklanjuti hasil pertemuan itu?,” tanya Wadih.
Terakhir, Wadih mendorong Pemkab Madina harus terbuka untuk semua pihak dalam penyelesaian masalah tersebut misalnya ke BWS Sumatera II yang menangani.
“Harapan pemuda tani Madina, permasalahan ini ditindaklanjuti segera, supaya petani kita bisa kembali bertani. Kemudian Pemkab kita mungkin harus lebih kolaboratif misalnya bekerjasama dengan pihak BWS. Dan yang tidak kalah penting adalah mengedukasi masyarakat agar tidak membuang sampah di jaringan Irigasi.” tandasnya.
Sementara, Kadis Pertanian Madina, Siar Nasution SP yang dihubungi MohgaNews mengaku surat permohonan Bupati Madina ke BWS Sumatera II untuk perbaikan sipon irigasi sungai aek pohon hingga saat ini belum juga dimasukkan.
Siar beralasan surat tersebut masih berada di Kabupaten Madina, sementara Bupati saat ini masih berada di Kota Medan.
“Belum dimasukkan (surat permohonan-red) ke BWS. Pak Bupati, kan masih di Medan. Nanti saya yang langsung antar ke BWS,” jelasnya.
Dapat diketahui, sumber air pada saluran irigasi di Jalan Lintas Barat Kecamatan Panyabungan masuk dari sungai aek pohon. Sipon anjlok dan kurangnya pemeliharaan irigasi berambat ke anak sungai lainnya sehingga petani tidak kebagian air untuk memenuhi kebutuhan air di ladang. (MN-08)










