Produk UMKM Madina Kalah Bersaing Dengan Luar Daerah, Ini Solusinya

MohgaNews|Madina – kalangan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di kabupaten Mandailing Natal (Madina) mengaku kalah bersaing dengan produk luar daerah dengan jenis produk yang sama yaitu makanan ringan.

Kekalahan mereka dalam hal branding, kemasan khususnya pemasaran.

Seperti dikatakan ibu Aisah (35) pemilik kios khusus oleh-oleh Mandailing di kawasan pasar baru Panyabungan Kepada MohgaNewsKamis (27/9). Aisah mengatakan, sampai saat ini produk jenis makanan ringan atau oleh-oleh dari luar daerah masih lebih banyak peminatnya dibandingkan produk dari daerah Madina sendiri.

Sementara, bila dibandingkan dengan cita rasa, pembeli manyebut produk makanan dari Mandailing tidak kalah saing, bahkan lebih gurih dan lebih enak, dan kekalahan produk daerah menurutnya adalah pada bagian kemasan, branding dan pemasaran.

“pembeli lebih banyak mengincar produk merk luar daerah dibandingkan dari daerah kita sendiri, itu dikarenakan kemasan tampilan dan merek yang lebih bagus produk luar daerah itu, dari bahan plastik bungkusnya sudah berbeda, itu salah satu penyebab sehingga pembeli lebih memilih produk luar daerah, padahal rasanya lebih gurih lagi produk daerah kita sendiri,” sebut Aisah.

Ia menyebut, produk luar darah itu kebanyakan berasal dari Sumatera Barat, seperti kabupaten Agam, Paya Kumbuh dan kabupaten lainnya.

Ibu Rosmi, salah seorang pelaku UMKM di kelurahan Panyabungan II mengaku cukup kesulitan memasarkan produk mereka disebabkan banyaknya produk makanan jenis yang sama dengan tampilan yang berbeda dari luar daerah

“jenis makanannya sama saja, cuma tampilannya beda, kemasannya dan mereknya. Itu yang buat produk mereka lebih laku

“sementara kami hanya plastik biasa yang transparan, dimasukkan merek yang kami buat sendiri dari kertas, cuma itu saja yang kami jual ke pasar,” ujarnya.

Ia menceritakan, kendala selain kemasan merek dan pemasaran, mereka juga menghadapi kendala modal, sulitnya mencari pinjaman, dan biasanya mereka pelaku UMKM ini meminjam ke Bank dan rentenir yang pada akhirnya membuat mereka makin kesulitan.

Terpisah, pengamat ekonomi dan UMKM, Mhd Ridwan Lubis kepada MohgaNews mengatakan, pada dasarnya ekonomi kreatif sangat besar dampaknya bagi upaya meningkatkan ekonomi masyarakat.

Di Madina, kata Ridwan. Banyak jenis produk UMKM dan ekonomi kreatif, misalnya makanan ringan berbagai jenis yang terbuat dari ubi seperti keripik dan lainnya. Kemudian, kerajinan tangan seperti ‘Amak Bide’, kerajinan tangan yang terbuat dari kayu seperti perabotan rumah tangga, dan banyak jenis produk daerah lainnya.

Namun, tidak banyak yang mampu bertahan dikarenakan kendala modal dan kurangnya pembinaan.

“Banyak produk daerah kita yang kurang pembinaan dan perhatian sehingga tergerus oleh situasi yang tidak mendukung. Bila dibandingkan dengan daerah lain, kita sudah jauh tertinggal dalam pembinaan UMKM dan ekonomi kreatif. Pemberdayaan ekonomi kreatif dan UMKM saat ini solusi paling tepat mengatasi keterpurukan ekonomi masyarakat,

“Karena itu, Pemerintah Daerah mesti memperhatikan dan menguatkan program ekonomi kreatif melalui program pemberdayaan dan pembinaan. Program pembinaan ini bisa dengan memberikan keahlian khusus kepada pelaku usaha mulai dari cita rasa, kemasan, branding dan sebagainya, sehingga produk UMKM daerah kita lebih kompetitif dan mampu bersaing di pasarnya.

“Pemerintah juga perlu mengatasi kendala yang dihadapi pelaku UMKM yaitu di bidang modal, melalui kelompok usaha, seharusnya pemerintah bisa memberikan suntikan modal dan bermitra dengan dinas koperasi UMKM, supaya mereka bisa bangkit dan lebih kreatif mengembangkan usahanya,” kata Ridwan. (MN-01)