“Oji Atas” sebutan untuk seorang tokoh di Mandailing, yang pada tanggal 16 April 2025 ini bertepatan dengan 40 hari beliau telah pergi meninggalkan dunia fana ini. Nama aslinya adalah H. Ismail Hakim Lubis. Penulis merasa penting menuliskan sebagian dari masa hidup beliau yang pantas untuk kenangan baik dengan harapan memiliki makna bagi kita yang masih ada di dunia fana ini setidaknya bagi Bangsa Mandailing terutama kepada para tokoh dan generasi mudanya.
Semasa sehatnya beliau pernah menyampaikan kalimat pada saya: “Sadia bahat porluna tanoi Bere ?, baen pantokna denggan, buat kamu ma, suratna baen kamu denggan so uteken” (Seberapa luas tanah yang dibutuhkan Anak Mantu ?, buat patoknya bagus-bagus, ambillah, buat suratnya biar saya tandatangani).
Kalimat ini disampaikan ketika saya ke rumah beliau di Sipolupolu Panyabungan memohon bantuan untuk berkenan memberi sebahagian lahan kebunnya berlokasi di Komplek Pendidikan STAIN Madina untuk pembangunan jalan baru menuju komplek pendidikan tersebut.
Saat itu, Juli 2020 jalan permanent yang melawati pinggir sungai tergerus Sungai Batang Gadis karena Banjir Bandang. Dengan keadaan ini tidak ada akses masuk ke lokasi pendidikan kecuali dengan jalan kaki.
Di sisi lain akses ini sangat penting terutama bagi anak-anak kita yang berkebutuhan khusus di SLB yang ada di dalam komplek. Dapat dibayangkan bagaimana anak-anak yang berkebutuhan khusus akan melawati jalan setapak yang licin, akan bagaimana jadinya.
Ketika dimohonkan pelebaran jalan ke pemilik tanah di sekitar jalan tergerus, sang pemilik meminta ratusan juta rupiah untuk pengganti lahan bila dilakukan pengalihan ke lahannya. Bahkan peserta didik dan pendidik yang melawati dimintai upeti ketika mewati lahannya.
Belum lagi biaya untuk membangun kembali jalan tersebut, maka akan runyam berkepanjanganlah jalan akses menuju komplek pendidikan tersebut.
Dengan kondisi tersebut, dan kepastian jalan yang tidak terancam tergerus air sungai, dirancanglah penggantian jalur melalui tujuh lahan milik masyarakat, yang salah satunya dan paling luas dari lahan yang akan digunakan sebagai akses baru melewati lahan beliau, yang selanjutnya oleh Bupati Dahlan Hasan Nasution membangun dengan cepat dan menjadikannya jalan permanent sampai saat ini.
Itu bagian cerita kebaikan beliau untuk kepentingan umum yang kebetulan langsung saya tangani. Hal yang menyenangkan adalah jawaban beliau seperti di atas ketika dimohonkan dengan tulus dan ikhlas tanpa ekspresi dijawab dengan ringan saja.
Demikian juga sesaat menandatangani keterangan penggunaan lahannnya untuk kepentingan umum, langung ditandatangani penuh kepercayaan terhadap isi surat.
Teringat pula ketika dilakukan Horja Bolan Peresmian Pemkab Mandailing Natal di tahun 1999 berlokasi di Kantor Bupati Lama Dalan Lidang, beliau berjibaku tanpa pamrih sebagai pemikir, pemberi tenaga, juga penyumbang dana untuk menunjukkan betapa Mandailing itu sebagai Suku Bangsa yang besar, bermartabat dan pandai bersyukur. Tidak ada kepentingan apapun bagi beliau di Pemkab Madina setelah diresmikan, sepertinya beliau hanya senang melihat Madina dalam keadaan baik.
Saya ingat persis saat berlangsungnya peresmian bahwa beliau bukannya duduk di panggung yang terhormat itu, yang sebenarnya sangat layak untuk beliau, sepertinya berkeinginan duduk di depan panggung sebagai tamu kehormatan pun juga tidak, meskipun beliau sebagai tokoh yang sudah sepuh. Malah ambil posisi di belakang layar dan terus bekerja bersama panitia hingga suksesnya Horja Bolon kesukuran dimekarkannya Madina dari Kabupaten Tapanuli Selatan.
Beliau juga di masa lalu pernah mengkomandoi masyarakat Panyabungan untuk pembubaran kegiatan “Kaum Pelangi” yang melakukan Fashion Show antara sesamanya secara terbuka. Mungkin menurut beliau dan penilaian masyarakat akan berdampak kurang baik bagi masyarakat terutama remaja, karena terbuka untuk umum, sehingga diyakini tidak layak menurut ukuran agama dan adat Mandailing berlokasi di sebuah Gedung Bioskop yang dekat dengan Aek Mata.
Pembubaran ini sempat membuat hubar-habirnya para peserta yang ternyata jumlahnya cukup banyak. Dan acara ini disponsori oleh orang atau tim politikus tertentu untuk kepentingan pemilihan kepala daerah saat itu.
Namun, beliau tidak gentar dengan siapapun, meskipun hal tersebut mendapat restu dan disponsori oleh penguasa. Perlawanan terhadap kebatilan dilakukan bersama masyarakat dengan tujuan tetap pada kebaikan masyarakat di Madina.
Tentu bukan itu saja, rasanya masih banyak yang dilakukan baik sendiri, dengan kelompok kecil maupun bersama-sama dengan masyarakat dalam membantu Madina untuk lebih baik dengan selalu tanpa pamrih.
Itulah sosok “Oji Atas” yang memiliki karakter tersendiri dalam kehidupannya sebagai tokoh di Madina. Tidak banyak tokoh berkemampuan keuangan seperti beliau yang menggunakan pemberian dari Nya dengan cara yang dilakukan beliau ini.
Sepertinya beliau semasa hidupnya bukanlah tipe yang banyak konsep dengan mencanangkannya kesana-kemari dengan suara, akan tetapi beliau adalah sosok yang sering langsung terjun ke lapangan untuk melakukan Amar ma’ruf nahi mungkar secara sporadis bersama masyarakat yang mencintai Madina ini.
Beliau jauh dari tipe yang merasa tokoh dan suka mendekati penguasa untuk mendapat legitimasi sebagai tokoh setingkat tokoh kabupaten. Apalagi yang merasa tokoh yang bangga dengan terang-terangan untuk mendapat sesuatu pemberian dari penguasa, sangatlah jauh dari tipe beliau ini.
Itu sekelumit kenangan baik dari sang Tokoh Sepuh yang benar-benar konsekwen dan konsisten terhadap keberadaan Mandailing Natal tanpa kepentingan pribadi. Diyakini masih banyak orang yang memiliki cerita bahkan kisah baik dengan beliau. Karena itu, sangat pantas beliau ini dikenang karena konsisten dan konsekwen terhadap keberadaan Mandailing Natal untuk menjadi baik dari masa ke masa.
Rasanya kita perlukan orang-orang sebagai tokoh yang dapat mengikuti jejak beliau ke masa yang akan datang. Madina butuh tokoh-tokoh yang tanpa pamrih, dan selalu respek terhadap perkembangan dan fenomena yang berlangsung di masyarakat.
Untuk anak cucu keturunan beliau tentu akan mencermati sifat dan karakter beliau dan di masa yang akan datang sebagai penenerus beliau.
Semoga juga kebaikan dan kekhasan karakter beliau dapat dimaknai oleh masyaraat Mandailing Natal untuk dijadikan sebagai karakter baik bagi diri sebagai anggota masyarakat.
Maka tidak perlu heran dan pantas saja nama “OJI ATAS” menyebar secara luas di Madina karena beliau sangat respek terhadap rakyat dengan simbol pejuang yang berani dan nyata dalam amal ma,ruf nahi mungkar.
Selamat jalan Orang Tua Kami Almarhum Ismail Hakim Lubis, yang lebih banyak dikenal dengan panggilan Oji Atas, Alloh akan balas tempat yang baik di sisi-Nya. Torehan karakter dan kekhasan ketokohanmu semoga menjadi cermin diri bagi banyak orang terkhusus di Mandailing Natal.
Penulis: Dr.H.M. Daud Batubara,MSI












