Tiga jam Kekeh Sama “Pak Paloh”, Muka Garang Tapi Sosok Periang

HALAMAN Tantya Sudhirajati markas Polres Madina terasa terik matahari. Tapi pendopo di situ terasa teduh. Ada kolam ikan. Ada panggung. Dan di situ berjejer tempat duduk terbuat dari kayu tersusun rapi. Seketika saya teringat setahun lalu pendopo ini diresmikan pak Reza, sewaktu menjabat Kapolres Madina.

Saya dan beberapa orang wartawan dari PWI sesekali main air kolam. Teringat pula sama lagu lawasnya Joshua Suherman, “diobok-obok airnya diobok-obok….

Kami tiba di pendopo Tantya Sudhirajati sekira pukul 11.00 Wib. Kami disuguhi teh jahe dan kue basah. Bersama kami ada pak Romi, kepala satuan intelkam dan kanitnya pak Sarwono. Di situ kami tahu ternyata pak kapolres sedang berkunjung ke kediaman mudir pesantren Musthafawiyah Purba Baru. Beberapa hari ini saya perhatikan pak kapolres mengunjungi rumah-rumah ulama. Sejuk membaca beritanya. Karena ulama dan umara kalau seiring sejalan akan membawa keberkahan. Tak terasa waktu zuhur tiba. Kami pun bergegas ke masjid di komplek Polres Madina. Salat berjamaah. Ada pak wakapolres dan sejumlah personel, alhamdulillah dua saf terisi penuh.

Selepas salat zuhur, pak Romi sudah menyiapkan makan siang. Menunya ayam kampung. Kami santap bersama. Sekitar pukul 13.30 Wib pak kapolres tiba ke pendopo. Turun dari mobil dan salaman, terlihatlah muka garangnya. Sekilas saya dan teman berbisik: pak Paloh ini sepertinya keras, kejam, mukanya garang sekali.

Pak Kastel (sebutan untuk AKP Romi: Kasat Intelkam) bilang ke saya agar duduk semeja sama pak kapolres. Lalu pak Paloh bilang: maaf ya ketua sama teman-teman semua, saya tadi ke rumah pak Haji Bakri. Beberapa hari ini saya menemui para sesepuh dan tokoh agama kita” lalu ia meminta saya membuka pertemuan silaturahmi itu. Selepas saya bicara, langsung dilanjutkan pak Paloh.

Di situlah baru ketahuan sisi lain dari performance pak Paloh. Ternyata wajahnya saja yang garang, tapi sosoknya periang. Mulai bicara hingga selesai sekitar pukul 15:55 Wib, kami semua kekeh dibuatnya. Saya bahkan tak sadar kalau teman semejaku ini seorang kapolres. Saking banyaknya ketawa lepas. Banyak hal yang ia ceritakan. Lucu tapi menginspirasi.

Pak Paloh banyak bercerita soal kehidupannya mulai remaja hingga menjadi polisi. Paloh ini katanya berasal dari nama sebuah desa di Kecamatan Sigli Kabupaten Pidie, Aceh. Ayahnya pak Paloh lahir di sana. Kakeknya adalah seorang tentara. Tapi pak Paloh lahir dan besar di Binjai 42 tahun yang lalu. Banyak hal yang diceritakannya. Tapi menurut kami cukup inspiratif.

“Tamat SMA saya masuk kuliah, kebetulan kuliahnya masuk siang. Paginya saya bekerja sebagai pegawai honor. Dua tahun saya kuliah, lalu dapat kabar ada penerimaan anggota polri. Saya daftar, itu pun tidak memberitahu orangtua. Setelah berkas pendaftaran semua lolos. Di situ baru saya cerita sama orangtua saya mau masuk polisi. Orangtua saya bilang, ngapain lagi masuk polisi. Tapi saya jawab, ini bukan polisi biasa pak, ini masuk AKABRI (sekarang Akpol), kaget bapak saya. Sekali daftar sudah diterima, karena usia saya waktu itu sudah 21 tahun, usia terakhir masuk polisi. Itulah rezeki itu kita tidak tahu, akhirnya saya diterima sebagai taruna,” katanya

“Kadang-kadang bingung juga saya bisa masuk polisi, padahal saya remaja yang biasa-biasa saja, sama dengan teman remaja lain. Tapi itu tadi, rezeki kita itu terkadang datangnya tidak disangka-disangka. Dan semua itu harus kita syukuri,” tambahnya.

Pak Paloh juga bilang salah satu modal keberhasilan itu adalah hubungan baik perlu selalu dijaga.

“Saya dari dulu memang suka kali bersosialisasi. Saya suka bincang-bincang, silaturahmi, asal itu hal yang positif saya ikuti. Dari sekian banyak tempat tugas yang saya lalui, modal saya itu saja, banyak-banyak bersosialiasi, banyak bergaul,” katanya

Pak Paloh bercerita ia lumayan lama bertugas di SDM dan pernah juga mengurusi media dan pers di institusi polri.

“Saya tahu betul bagaimana pers itu bekerja. Dan saya ngerti mana wartawan dan yang mengaku wartawan. Karena wartawan itu yang aktif menjalankan tugas jurnalistik: mengumpulkan informasi, melakukan cek and recek, konfirmasi, lalu menyebarluaskan informasi itu melalui perusahaan pers yaitu media. Dan PWI selaku organisasi wartawan saya yakin akan bisa memberikan informasi terpercaya. Karena saya paham masuk ke PWI itu melewati beberapa proses dan ujian. Informasi terkonfirmasi itu penting agar masyarakat kita tidak mengonsumsi hoax,” katanya lagi

Terakhir pak Paloh mengajak teman-teman wartawan agar ikut berperan aktif menciptakan situasi kondusif terutama masa pemilu saat ini.

“Mari sama-sama kita ciptakan suasana yang kondusif. Wartawan saya harap menyebarluaskan informasi yang sejuk. Silakan jalankan peran pers itu dengan baik, karena publik punya hak mendapat informasi,” ucapnga.

Pak Paloh juga bilang akan menjalankan program “Mangopi Jolo”

“Ada mini bus yang sedang kita rehab. Mini bus ini nanti kita bawa kemana-mana untuk program Mangopi Jolo. Kita bawa ke program jumat curhat, dan ke tempat-tempat lain,” pungkasnya.

Waktu juga yang memisahkan kami sore hari ini pada Rabu, 7 Februari 2024 tepatnya memasuki salat azar. Selamat bertugas AKBP Arie S Paloh SIK SH. Semoga sukses menjalankan tugas melayani, melindungi, dan mengayomi masyarakat untuk Polri Presisi.

Muhammad Ridwan Lubis
Ketua PWI Madina/Pemimpin Redaksi MohgaNews