MADINA, Mohga – produk makanan dari Sumatera Barat semakin menjamur di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) seperti rumah makan dan penjual sate khas Minang.
Masakan khas Minang Kabau tidak asing lagi ditemukan di pinggiran jalan mulai dari Desa Parbangunan hingga memasuki jalan protokol Kota Panyabungan. Bahkan, rumah makan dan pedagang sate lokal bisa disebut tidak sebanding banyaknya dengan pedagang bermerek Sumatera Barat. Kondisi ini dianggap ancaman serius bagi produk lokal khas Mandailing.
Beberapa orang pengendara yang mengaku asli penduduk Kabupaten Madina sempat heran melihat warga luar Provinsi Sumut bebas berjualan di Sumatera Utara. Mereka khawatir, kebebasan tersebut bisa menurunkan perekonomian masyarakat Madina pada kalangan pedagang makanan.
“Banyak sih saya lihat di Panyabungan pedagang bermerek khas Minang, rame-rame lagi pengunjungnya. Sebagai warga lokal saya akui cemburu dan khawatir usaha lokal di sini mati secara perlahan,” ungkap Aisyah Lubis di Pasar Baru Panyabungan, Senin (16/1/2023).
Aisyah menyebut, bukan hanya pedagang sate dan rumah makan bermerek khas Minang Kabau, di tingkat swalayan juga, katanya, sudah banyak jajanan dijual berlabel adat Minang Kabau.
Padahal, menurut Aisyah jajanan dari Sumatera Barat jika dibandingkan dengan produk asli daerah tidak kalah kualitas seperti kipang, dodol dan jajanan lainnya.
“Kerupuk udang saja sudah dari Sumbar (Sumatera Barat). Masih banyak makanan lainnya menjamur di swalayan,” imbuhnya.
Sementara warga lainnya Abdul Rahman Nasution menyebut, kondisi saat ini memang tidak bisa dipungkiri. Mengingat keterbatasan modal dan keahlian dalam menyajikan resep makanan juga menjadi kendala bagi pedagang di Kabupaten Madina.
“Dari Minang, kan sudah terkenal dengan masakan yang cukup gurih dan enak. Pastinya sudah kalah dengan masakan orang Mandailing. Lidah warga Panyabungan juga sudah biasa mencicipi masakan Minang, makanya masalah Minang dikejar,” tuturnya.
Abdul Rahman menyebut, kehadiran pemerintah daerah sangat diperlukan dalam membina pelaku-pelaku usaha makanan. Selain pembinaan tata cara memasak, juga dilakukan untuk mencari solusi mendapatkan modal.
“Perlu keseriusan pemerintah daerah melakukan pembinaan kepada pedagang saya yakin lama kelamaan akan terkalahkan juga masakan khas Minang. Modal juga menjadi pemicu utama dalam menjalankan usaha, kadang itu kendalanya, modal tak ada, kemauan tinggi,” jelasnya. (MN-08)











