OLEH: RINA Y. NURDINA T – Seperti biasa, di sela-sela istirahat malam sangatlah menyenangkan bercengkrama dengan keluarga. Begitulah keluarga Yeni, mereka menikmati malam dengan asiknya menceritakan aktifitas harian mereka dari kejadian yang masing-masing yang dialami sepanjang hari. Yeni dikenal sebagai seorang guru yang sudah tujuh tahun mengabdi di SMP. Ia lolos seleksi PNS tidak lama setelah ia menyelesaikan kuliahnya. Begitulah rezeki wanita solehah.
Tidak jauh berbeda dengan Dewi, kakak tertuanya Yeni, yang juga merupakan seorang guru senior di sekolah dasar negeri. Ia sangat mencintai pekerjaannya, maka wajarlah ia sudah beberapa kali menerima penghargaan sebagai guru terbaik di tingkat daerahnya. Berbagai terobosan dan prestasinya membuat namanya gemilang dan membanggakan untuk dunia pendidikan. Ia cerdas dan selalu aktif meski usianya kini sudah menjelang pensiun.
Semenjak ditinggal meninggal oleh suaminya, Dewi meminta Yeni untuk tinggal bersamanya yang kini hanya sendiri saja karena anak-anaknya sudah berumah tangga dan hidup jauh diperantauan. Sementara Yeni yang terpaut usia lumayan jauh dengan Dewi juga sudah ditinggal orangtua mereka yang telah dipanggil sang pencipta beberapa tahun yang lalu. Dewi merasa bertanggungjawab untuk adiknya itu hingga ia nanti berjodoh dan harus meninggalkan dewi juga dengan keluarga barunya.
“Aku heran sekali melihat kawan-kawan kita guru sekarang ini” tiba-tiba sang kakak seperti bicara serius. Dia melanjutkan yang benar serius tentang pendidikan, “Setiap saat kayaknya guru banyak yang tidak pernah lepas dari gadgetnya bahkan saat masih mengajar dalam kelas. Kesal aku melihat anak-anak yang berisik tak beraturan sementara si gurunya masih saja asyik beselancar di dunia sosmednya dan lebih parah lagi…., asyiknyalah mereka melihat produk-produk yang bisa dipesan melalui Handphone saja”.
“Mikir aku sering, apa mereka tidak ada waktu untuk melakukannya dirumah saja? Mengapa harus di sekolah dan saat jam mengajar pula ya…? Tapi aku tidak bisa berkomentar karena nanti pasti dikatain guru yang sok aktif lah, sok rajin lah, ahh.. serba salah rasanya”. Sambil mengurut-urut kakinya yang terasa pegal dan menatap dalam dan lurus ke arah langit-langit rumah, Dewi berkesah tentang fenomena yang ia alami di sekolahnya.
“Idiiiih…, kakak ini ada-ada saja! Sekarang itu kan sudah beda kurikulumnya kak. Kurikulum Merdeka lho! Sepertinya di sekolah kakak juga sudah melaksanakannya kan? Merdeka lho kak, merdeeekaa! Yang harus berekspresi itu bukan hanya murid-murid saja, guru juga harus merdeka pikirannya supaya ia tetap bisa menjaga kewarasan mentalnya menghadapi anak-anak sekarang yang tingkanya sepertinya banyak yang tidak sesuai dengan status mereka sebagai siswa. Apalagi soal hukum-menghukum, dengan alasan HAM dan perlindungan anak, bisa-bisa polisi pula urusan kita berujung jika saja ada terjadi hukuman fisik dari guru ke siswanya. Malas donk kak kalau harus berhadapan dengan hukum karena kita ingin bertindak untuk siswa” celoteh Yuni.
Ntah kurang paham dengan kurikulum merdeka atau sengaja sekedar berironi terhadap kebiasan rekan-rekan gurunya, membuat kakaknya harus menjelaskannya. “Hmmmm.., sepertinya ibu guru yang cantik ini belum faham betul ya…. soal kurikulum baru ini. Adikku sayang ….., sebaiknya kamu harus lebih banyak belajar, toh sudah banyak sekali panduan yang pemerintah sediakan untuk kita bisa belajar mandiri baik berupa teks ataupun video yang mudah untuk difahami, tinggal kitanya saja yang harus menanamkan niat baik dari dalam hati untuk mau menerima perubahan itu.”
Kemudian ia melanjutkan, “Kakak sudah tua dan sudah banyak melalui perubahan-perubahan dalam metode pendidikan. Dari dulu kami yang sudah senior-senior ini menjadikan pekerjaan kami sebagai ladang usaha dan tempat untuk memperoleh berkah. Tidak kaya memang, tapi puji syukur kepada sang pencipta, kini keponakan-keponakaanmu sudah sukses semua dan itu hanya dari biaya aku dan almarhum abangmu sebagai guru saja. Bayangkan dan banding yang dulunya jarang yang tidak sukses Pintarkah mereka semua ?, tentu tidak. Tapi cobalah kalau sekarang sudah berbanding terbalikkan dengan tingkah polah anak-anak guru sekarang. Mungkin saja ini…., kan karena ketidakberkahan maka anak-anaknya guru jadi seperti itu”
“Kita sudah beda zaman lho kak. Sekarang anak-anak gak butuh guru yang sok sibuk lagi. Semua informasi yang dibutuhkan siswa sudah mudah didapat dari handphone pintar, jadi ngapain kita sibuk dan capek lagi kak? Jadi guru kreatif dan rajin itu juga ga ada untungnya. Aku ada beberapa rekan kerja yang aktif belajar dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang pemerintah canangkan. Banyak rencana yang ia ingin laksanakan di sekolah untuk perubahan, tapi apa? Gak ada yang jalan tuh… !. Sepertinya dia stres sendiri dengan tugas-tugas yang ia kerjakan karena gak ada yang berubah yang ia lakukan untuk sekolah itu”.
“Wah…… Siapa guru hebat itu? Kakak pengen kenalan deh rasanya. Adikku yang cantik, gak mungkin donk satu instansi dapat berubah jika hanya seorang saja yang berjalan dan berinisiatif untuk melakukan perubahan. Kalian harus berjalan bersama dan saling mendukung demi kemajuan sekolah kalian.”
“Ngapain capek-capek sih kak, jam aman untuk dapat tunjangan sertifikasi saja sudah cukup, ngapain nyari-nyari kesibukan lain kalau malah bikin pusing nantinya”.
Tersentuh jiwa keguruannya, seakan setengah pidato Sang Guru Tua mulai bernasehat, “Kamu memang lucu dek, terlalu tenang dengan kebodohan di Zona Nyamanmu. Dan lupa bahwa perbuatan dan tingkah lakumu sama yang sedang menyiapkan kebodohan bagi generasi di 20 tahun yang akan datang. Hari ini basa saja, tapi hasil kerjamu mengajar saat ini akan kamu lihat 20 tahun yang akan datang. Segeralah sadar dan keluar cepat dari zona nyamanmu. Kita itu mengabdi bukan hanya sekedar mencari materi. Kakak ingat kata bijak yang mengatakan jangan lelah untuk mengajar karena mungkin saja akan ada satu tangan dari muridmu yang akan menarikmu ke syurga kelak. Sederhana kalimat itu dek, tapi kakak sangat yakin dengan maknanya. Guru itu adalah pekerjaan yang sangat mulia. Pemerintah juga sangat memuliakan guru, buktinya tunjangan yang kamu banggakan tadi itu juga sebagai apresiasi pemerintah kepada guru lho. Bukan hanya itu saja, coba lihat fenomena pengankatan PPPK yang jumlahnya sangat banyak untuk profesi guru, itu juga sebagai bukti betapa pemerintah ingin mengangkat derajat anak didik dari kondisi guru.”
“Hmmmm…. Tapi semua itu gak lepas dari setor menyetor uang lho kak. Banyak yang gak layak tapi kalau ada uang katanya pasti lolos”, kata Yeni dengan nada menyindir, memotong pembicaraan kakaknya.
Dengan senioritas penuh sabar, sang kakak tidak bosan beri hal terbaik bagi adeknya yang akan jadi kader ke depan di pendidikan. “Tidak semua lho dek, itu hanya ulah dari oknum-oknum tertentu saja yang mengambil kesempatan dari keadaan itu. Intinya pemerintah telah mencoba bagaimana agar kehidupan guru di negara kita ini jadi lebih baik lagi. Ambillah hal-hal baik dari semua yang kita lihat agar kita selalu jadi orang-orang yang berpikir positif dan bijak. Belajarlah terus dan selalu ikuti perkembangan pendidikan. Perubahan itu akan selalu ada sesuai perkembangan zaman dan pemerintah juga akan terus gencar mendorong para guru untuk mengikuti perubahan itu. Perubahan pendidikan harus sesuai zaman kata Rasul, jadi kamu harus terus berubah mengikuti kondisi sebagai guru. Jadilah salah satu pelopor perubahan itu dimulai dari tempatmu bekerja dulu.”
“ Kalau sudah bicara soal guru, aku pusing deh sama kakak, panjang sekali ceramahnya. Nanti bagaimana kalau aku malah dijauhi sama rekan-rekan kerjaku? Kan ga asyik lagi donk di sekolah. Aku juga ingin lho ….., seperti kakak yang walaupun sudah tua tapi masih mau belajar dan selalu jadi paforit siswa. Hanya saja aku sedikit gengsi laa, masak ia aku yang lebih muda kalah kreatifnya dengan kakak yang sudah tua ini. Hahaha…” Yeni memeletkan lidahnya ke arah Dewi sambil tertawa mengejek.
“Kamu ini memang keterlaluan sekali. Untung kamu itu adikku, kalau tidak, sudah kutendang kamu keluar sana. Kakak malu donk nanti kalau ada cerita di luar sana, kemudian ada yang bilang adeknya ini adalah guru yang kurang baik, bisa hancur la nama baikku, hehehe. Ayo muliakan dirimu sebagai guru. Jadilah guru yang bukan guru biasa sehingga kamu bisa menjadi salah satu guru di negeri ini yang menghebatkan profesi guru itu sendiri.”
Yeni mendekati kakanya itu kemudian ia memeluknya sambil berbisik di telinga Dewi.
“Aku bangga sama kakak dan aku harus bisa lebih baik dari kakak karena akau akan mulai belajar dan berbuat menjadi guru yang dirindukan setiap siswaku dan dibanggakan oleh negeriku”.
Dewi tersenyum manis dan mencium pipi adiknya itu dengan lembut namun ada terlihat mata yang berkaca-kaca karena haru akan ucapan adiknya itu barusan.
Sambil berlalu meninggalkan kakanya, Yeni berujar. “ Selamat hari guru kakakku sayaang.”
(Tulisan ini didedikasikan untuk rekan-rekan yang merayakan Hari Guru)









