OLEH: ERWIN EFENDI – Momen peringatan Hari Guru Nasional 25 November sering dimaknai secara sempit hanya sebatas kegiatan seremonial.
Tujuan diperingatinya hari ini adalah untuk memberikan dukungan kepada para guru di seluruh dunia dan meyakinkan mereka bahwa keberlangsungan generasi di masa depan ditentukan oleh guru. Hari guru adalah hari dimana kita memperingati jasa yang selama ini telah diberikan oleh sang pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka dengan ikhlas menyampaikan ilmu yang telah mereka peroleh semasa menuntut ilmu. Mereka mengamalkan ilmu mereka kepada para calon penerus bangsa ini.
Pikiran yang “sempit” menurut saya. Mengajar dan mendidik bukanlah semata-mata hanya untuk mengejar “materi”. Cobalah menelisik lebih dalam. Guru membentuk kita menjadi manusia yang berilmu pengetahuan, berakal, berbudi pekerti luhur, mampu membedakan hal yang baik dan buruk, dan bertanggung jawab.
Menjadi guru itu bukan hanya tentang mentransfer ilmu saja, tapi lebih dari itu. Kita perlu belajar tentang keikhlasan, kesabaran dan dapat memaknai tiap-tiap cerita dari anak didik kita sebagai perjalanan hidup.
Di 2023 ini, sudah 78 tahun usia dunia pendidikan nasional sejak pertama kali proklamasi kemerdekaan bangsa dikumandangkan. Selama kurun waktu yang cukup panjang itu, peran guru dengan segala kelebihan dan kekurangannya dalam membangun dunia pendidikan tentu tidak dapat dinafikan.
Perjalanan sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia hingga saat ini tentu tidak terlepas dari peran guru yang sangat strategis dalam menjalankan sistem pendidikan nasional.
Dunia yang terus bergerak maju dengan segala dinamika perubahan yang terjadi memerlukan guru-guru adaptif. Nilai-nilai lama pendidikan yang sesuai di zamannya tentu tidak lagi sesuai diterapkan di masa kini. Pendidikan masa kini dan masa depan memerlukan arah dan nilai baru yang memerlukan guru-guru yang memiliki perubahan pola pikir, adaptif, kreatif, dan inovatif.
Sepatutnya, pada peringatan hari guru ini kita dapat memetik hikmah yang terkandung dibaliknya, yaitu:
1) Janganlah kita memandang sebelah mata. Karena, pada hakikatnya bahwa ilmu itu wajib untuk diamalkan kepada sesama, mereka menyalurkan tenaga dan pikiran mereka kepada anak didiknya, berharap mereka dapat menjadi penerus yang lebih berpengetahuan luas. Betapa mulianya mereka?
2) Hormatilah guru kita
3) Amalkan ilmu yang telah kita dapat.
Guruku adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Selamat “hari guru” untukmu Guru-Guru Hebatku di Seluruh Penjuru Negeri ini. Indonesia masih belum merdeka jika kesejahteraan guru belum diperhatikan.
Penulis adalah mahasiswa pascasarjana prodi KPI UIN Syahada Padangsidimpuan






