Oleh: Irfansyah/Wartawan Media Mohganews
Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal, adalah tanah yang diberkahi. Di bawah aliran sungainya yang jernih dan di balik rimbun pegunungannya, tersimpan kilau kuning yang diburu banyak orang: emas. Setiap hari, deru mesin dan peluh pekerja menjadi saksi betapa kayanya bumi Kotanopan. Dari perputaran roda bisnis ini, lahir para pengusaha sukses, mereka yang sering disebut masyarakat sebagai “Bos Tambang”.
Namun di sudut lain Kotanopan, tepatnya di Desa Patialo, ada “emas” jenis lain yang sedang meredup sinarnya, bukan karena habis, melainkan karena tak punya biaya untuk bersinar.
Ia adalah Asmaul Husna, seorang gadis penghafal Al-Qur’an (hafizah) yang baru saja mengukir prestasi gemilang. Jalur prestasi Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir salah satu kiblat ilmu Islam dunia berhasil ia taklukkan. Hebatnya, ini adalah kali kedua ia lulus seleksi yang sama.
Sayangnya, kabar gembira itu perlahan berubah menjadi senyum getir. Langkah Husna terganjal angka Rp36 juta. Sebuah nominal yang dibutuhkan untuk tiket pesawat, paspor, dan bekal bulan pertamanya di tanah para nabi. Bagi keluarganya yang menggantungkan hidup dari bertani, angka itu bak gunung yang mustahil didaki.
Di Mana Kepedulian Hasil Bumi?
Melihat realita ini, nurani kita seperti diketuk. Penggalangan dana kini memang sedang diinisiasi oleh Forkopimcam Kotanopan dan Forum Jurnalis Mandailing Julu (FJ. MAJU). Namun, di manakah posisi para pemegang modal dan pengusaha yang mengeruk rezeki dari perut bumi Kotanopan?
Emas yang digali dari bumi Kotanopan seharusnya tidak hanya memperkaya segelintir orang, tetapi juga mampu “menyepuh” masa depan putra-putri terbaik daerah tersebut.
Husna bukan sekadar anak petani yang ingin kuliah. Ia adalah aset daerah, calon ulama, dan representasi kehormatan Mandailing Natal di kancah internasional.
Jika dari sekian banyak bos tambang emas di Kotanopan ada yang tergerak menyisihkan sedikit saja dari hasil “sedekah bumi” mereka, angka Rp36 juta tentu bukanlah hal yang besar. Itu mungkin hanya sekian gram dari sekian kilogram emas yang berhasil dimurnikan.
“Ini bukan soal meminta-minta, ini tentang investasi akhirat dan kepedulian sosial. Apa gunanya daerah kita kaya raya akan emas, jika untuk memberangkatkan satu orang hafizah saja kita harus terseok-seok?”
Bagi para bos tambang, inilah momentum terbaik untuk menunjukkan bahwa bisnis yang dijalankan di Kotanopan tidak hanya membawa dampak lingkungan, tetapi juga membawa berkah sosial. Membantu Husna adalah bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) yang paling nyata, langsung, dan menyentuh akar rumput.
Donasi telah dibuka sejak Jumat (19/06/2026). Kini, masyarakat Kotanopan sedang menunggu. Menanti apakah kilau emas di pegunungan dan sungai-sungai Kotanopan mampu menerangi jalan Asmaul Husna menuju Kairo, ataukah kita justru membiarkan mutiara berharga ini terkubur sepi di rumahnya sendiri hanya karena perkara materi.
Ketuklah hati, wahai para dermawan dan pengusaha tambang. Suksesnya Husna di Mesir kelak, adalah kebanggaan yang akan Anda bawa seumur hidup.
Siapa saja yang ingin membantu Asmaul Husna, bisa langsung transfer ke rekening BRI dengan nomor 5335-0101-4542-53-5 a.n. Siti Fatimah Parinduri (Rekening Penampungan Sementara). (FAN)










