MEMPERKUAT JURNALISME PROFHETIK

    0
    434

    Oleh: Ahmad Sabban Rajagukguk
    “Alumni pertama Doktor Komunikasi Islam Indonesia. Pengasuh rumah sufi dan peradaban.”

    MohgaNews| Hemat kami, buku jurnalisme nubuwat karya Datuk ini jika dibaca dengan mata yang tajam, analisis yang kreatif, maka mengembalikan nostalgia kita tentang kisah seorang jurnalis muda, juru tulis dan sekretaris Nabi yakni Ziad bin Tsabit. Kisah tersebut mengisahkan betapa Rasulullah Muhammad SAW telah mempersiapkan seorang remaja untuk berkontribusi dalam perjuangan Islam melalui tulisan (pena).

    Perjuangan lewat pena ini sebuah langkah strategis, yang mengisyaratkan kepada generasi selanjutnya, tentang sebuah perang yang tidak menggunakan senjata, melainkan menggunakan pena, yang dalam konsukuensi lebih tragis. Ini perang dunia ketiga sesunggunhya. Sebuah perang kekinian, perang opini atau perang pemikiran dan perang penyesatan.

    Melalui pena jurnalisme, terangnya, banyak musuh-musuh Islam yang melancarkan tuduhan buruk terhadap Islam melalui beragam media, baik media cetak, media elektronik, buku, website (situs), dan paling bombastis lewat perang media sosial lain sebagainya.

    ‘’Menjawab tantangan itu, lewat buku ini menguatkan kita untuk penguatan jihad pena, kultur tulis atau perang digital atau jurnalisme. Sudah menjadi tuntutan bagi generasi muda Islam untuk bisa menulis. Dengan pena, kita counter musuh-musuh Islam. Maka, remaja dan para pemuda Islam, harus mengambil bagian dalam bidang -perjuangan melalui pena- ini.

    Jurnalisme nubuwat atau profhetik harus menjadi pers yg mencerahkan dan mencerdaskan, sesuai dengan visi kenabian. “Minazzulumati ilannur” bukan sebaliknya. Sebab visi jurnalisme kenabian itu, harus mencerahkan (enligthen), bukan penggelapan.

    Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mendapat informasi penting dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai indikator akhir zaman. Salah satunya –sebagaimana riwayat Ahmad- adalah “wa dzuhûru al-Qalam” (dan bermunculannya pena atau menyebarnya alat tulis). Pembahasan ini begitu menarik karena menyoal masalah yang sedang dihadapi umat pada masa sekarang.

    Untuk kontek Indonesia, pasca reformasi banyak keluhan tentang praktek jurnalisme yang dianggap tidak mendukung nation and character building, bahkan memprovokasi publik menjadi komudotas politik atau perpanjangan kekuasaan atau pemilik modal.

    Praktek jurnalistik seperti itu tidak hanya dilakukan oleh wartawan media cetak dan elektronik, tapi kondisi tersebut lebih diperparah oleh citizen journalism sebagai individual content providers melalui media sosial (Facebook, Twetter dll) yang lebih cepat mencapai public.

    Professor jurnalisme Jay Rosen mengatakan orang-orang yang sebelumnya dikenal sebagai penonton, itulah yang disebut citizen journalism atau jurnalisme warga yaitu tidak terikat dengan kode etik jurnalisme yang dipunyai organisasi kewartawanan, sehingga mempunyai kebebasan yang mutlak mengabarkan peristiwa yang mereka temukan dengan menggunakan gaya dan bahkan konten ‘sesukanya’ atau lebih dikenal dengan facebookers.

    Praktik jurnalisme baik itu wartawan media cetak, media elektronik dan citizen journalists (jurnalis warga) diera informasi dan teknologi harus tetap mengedepankan kejujuran dan obyektivitas. Hal ini sangat penting dilakukan karena tidak jarang media massa maupun citizen journalists tidak lagi jujur dalam menyampaikan informasi.

    Permasalahan diatas ada dua indikator yang menjadi penyebnya yaitu adanya kepentingan politik dan kepentingan ekonomi yang ada di belakangnya. Di sinilah pentingnya jurnalisme yang memegang prinsip-prinsip kenabian atau prophetic yang dapat dijadikan sebagai bingkai dalam praktek jurnalisme.

    Dalam dekade terakhir, muncul istilah yang disebut ‘Prophetic Journalisme’ atau Jurnalisme Kenabian yang sangat perlu dipopulerkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam usaha mengkonter berita-berita yang tidak obyektif yang sering dilansir oleh media cetak, media elektronik maupun citizen journalists (jurnalis warga). Jadi betapa pentingnya orang orang yang melakukan kerja-kerja media dapat menerapkan jurnalisme kenabian dalam konten pemberitaannya untuk kepentingan “Rahmatan lil Alamin”.

    Seorang pengamat media nasional, Parni Hadi yang juga mantan direktur utama LPP RRI, pada saat menghadiri Konfrensi Internasional Media Islam ke 2 yang diikuti oleh 400 orang pelaku jurnalistik, akademisi, pakar komunikasi dari 40 negara mengatakan bahwa para pelaku jurnalis perlu mengaktualisasikan jurnalisme dengan mempraktekkan empat akhlak mulia yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, yakni siddig (ungkapan kebenaran), tabligh (menyebarkan kebenaran melalui pendidikan), amanah (jujur/dapat dipercaya), dan fathonah (bijak).

    Dengan merefleksikan empat akhlak mulia tersebut, para pelaku jurnalis yaitu wartawan media cetak, media elektronik dan citizen journalists akan memperlihatkan kemuliaan/martabat (dignity), devosi/kesetiaan, toleransi, saling pengertian, saling menghormati, tanpa kekerasan, dan kepedulian yang berdasarkan kasih ketika menulis berita, features, maupun komentarnya.

    Dalam menjalankan profesinya para pelaku jurnalis memiliki banyak tantangan dalam mengaktualisasikan empat ahlak nabi yang mulia tersebut, sama halnya dengan misi kenabian akan penuh dengan ancaman, intimindasi, hinaan, terkadang sampai mendapatkan perlakukan kekerasan fisik bahkan sampai kehilangan nyawa.

    Menurut United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), 700 jurnalis di seluruh dunia telah dibunuh, untuk melaporkan berita dan membawa informasi ke informasi publik selama dekade terakhir rata-rata satu kematian setiap minggu. Dalam sembilan dari 10 kasus, para pembunuh mendapat hukuman.

    Untuk itu, para awak Jurnalis perlu memahami dan dijiwai misi kenabian sebagai sikap hidup manusia yang oleh para pelaku jurnalis modern sering diabaikan, karena jika sifat kenabian ini dimiliki maka para pelaku jurnalis dalam menyajikan informasi akan senantiasa lebih obyektif karena lebih mengedepankan etika dan kaidah jurnalistik. Jika kita lihat substansi jurnalistik mulai dari menghimpun informasi dan penyampai berita memiliki kesamaan dengan para Nabi dan Rasul, sehingga tugas-tugas jurnalis adalah pewaris Nabi dan Rasul karena ia bertugas menyampaikan kebenaran dan memberi peringatan, sebagai mana salah satu tugas Nabi dan Rasul ialah menyampaikan kabar gembira dan memberi peringatan (Q.S. 18:56), Tidak hanya memberikan informasi, mendidik dan menghibur namun sesungguhnya tugas jurnalis ialah menyampaikan kabar gembira dan memberi peringatan untuk seluruh umat manusia walaupun nyawa harus dipertaruhkan.

    Karakter jurnalistik kenabian adalah idialisme sifat yang seharusnya dimiliki oleh pelaku jurnalis ditengah-tengah tantangan perkembangan bisnis media saat ini. Terkadang dalam pelaksanaanya tidak disertai dengan kesejahteraan para awak media. Terlebih saat ini ada semacam praktik konvergensi media yang mengarah pada perbudakan gaya baru demi efisiensi bisnis, sehingga upah yang tidak layak bagi pekerja media, konglomerasi media yang memasung kebebasan pers adalah tantangan tersendiri dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistik kenabian.

    Oleh karenanya, kita harus memperkuat jurnalisme nubuwat atau profhetik sebagai kesatuan kebangkitan peradaban Islam. (**)