KITA sekarang berada dalam era digital. Semua serba canggih. Hampir semua aktivitas kita selalu berkawan dengan mesin. Alhamdulillah mayoritas kita yang hidup di atas tanah air bumi pertiwi ini sudah bisa mengakses dan menikmati yang namanya informasi setiap saat.
Kita tidak harus menunggu tetangga untuk bercerita dari mulut ke mulut, atau menunggu media-konvensional seperti televisi, radio, koran dan lain sebagainya melakukan siaran atau mengabarkan sesuatu. Kini informasi cukup didapat lewat telepon genggam atau smartphone melalui jaringan internet yang bisa diakses dengan mudah.
Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) data terakhir mencatat pengguna internet di Indonesia telah mencapai 78,19 persen pada tahun 2023 atau menembus 215.626.156 jiwa dari total populasi yang sebesar 275.773.901 jiwa. Dengan smartphone, informasi pun setiap detik bisa diperbarui, diperbarui lagi, dan mengalami pembaruan secara terus-menerus.
Banyak di antara kita yang merasa rugi bila ketinggalan informasi dari ponsel-ponsel kita. Mengecek sesering mungkin, hanya dalam rangka berbagi dan mengakses informasi. Atau bahkan sekedar bermain game online, facebook atau media sosial lainnya. Bahkan saat antri di kendaraan umum, sebahagian kita akrab dengan smartphone. Istirahat belajar di sekolah atau di kampus, kantor, dan rutinitas pekerjaan, yang dibuka smartphone. Mau tidur, bangun tidur, saat-saat senggang, juga membuka smartphone.
Dengan sedemikian besarnya pengakses informasi tersebut, mari kita bermuhasabah atau introspeksi diri. Mari kita tanyakan kepada diri kita masing-masing, waktu kita untuk membuka smartphone di luar kebutuhan pokok keluarga dan tempat kerja kita, apakah sudah seimbang atau minimal sejajar dengan waktu yang kita luangkan untuk mengakses informasi yang datangnya dari Allah Subhanahu wa ta’ala yang Maha Menciptakan kita? Dalam sehari, berapa jam kita membuka smartphone, dan berapa jam kita membuka Al-Qur’an?
Jika informasi-informasi tidak penting, atau bahkan informasi buruk saja yang selalu kita akses sepanjang hari, tidak heran bila kita kian menjauh dari agama. Sebab, sikap yang kita ambil, teladan yang kita tiru, tidak bersumber dari Al-Qur’an. Bagaimana orang akan mendapatkan keberkahan Al-Qur’an, jika membaca Al-Qur’an saja jarang-jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali? Marilah kita mengakses informasi yang kelak memberikan syafaatnya kepada kita di hari kiamat, yaitu Al-Qur’anul Karim.
Abu Umamah al-Bahili menceritakan, ia pernah mendengar dari Rasulullah ﷺ bersabda:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
Artinya: “Bacalah Al-Qur’an. Sesungguhnya besok pada hari kiamat, ia akan menjadi pemberi syafa’at (penolong) bagi pembacanya (HRMuslim).
Siapa yang tidak bergembira apabila semua hidupnya diatur secara baik? Sedangkan yang maha mengatur itu adalah Allah subhanahu wa ta’ala. Hidup baik tidak mesti diartikan kaya dengan harta. Tidak, ada orang yang kaya tapi hidupnya tidak harmonis. Ada orang kaya tapi meninggal justru dengan cara bunuh diri.
Artinya kita jangan mempunyai anggapan bahwa diberi kebaikan oleh Allah pasti melalui jalan kekayaan harta. Dan jangan pula kita mesti su’udhan bahwa orang kaya itu buruk. Karena orang kaya yang baik juga banyak, asalkan semua taat atas aturan Allah subbhanahu wa ta’ala.
Dalam hadits lain dikatakan juga:
مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ وَذِكْرِيْ عَنْ مَسْأَلَتِيْ أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِيْ السَّائِلِيْنَ
“Barangsiapa yang selalu sibuk membaca Al-Qur’an dan berdzikir kepada-Ku (Allah) sampai-sampai ia tidak sempat meminta (berdo’a) kepada-Ku, Aku lah yang akan memberikan kepada dia dengan pemberian terbaik sebagaimana yang saya berikan kepada orang-orang yang pernah meminta.”
Dengan demikian, kita menjadi tahu apabila kita ingin mendapatkan keutamaan yang setinggi-tingginya, maka kita perlu membaca Al-Qur’an. Keutamaan bacaan Al-Qur’an tak akan sebanding dengan bacaan manapun. Oleh karena itu, mari kita mulai membenahi diri kita, jangan sampai kita merasa tidak punya waktu membaca Al-Qur’an, tapi nyatanya kita punya waktu lama untuk bermedia sosial. Kita sekarang sudah tidak punya alasan untuk kerepotan membawa mushaf Al-Qur’an, karena di dalam smartphone, sekarang kita bisa memasang aplikasi mushaf Al-Qur’an.
Selain itu marilah kita menabung untuk kepentingan pribadi kita sebagai bekal untuk akhirat, dengan meluangkan waktu lima sampai sepuluh menit saja dari 24 jam sehari semalam yang diberikan Allah sebagai fasilitas hidup untuk digunakan membaca Al-Qur’an.
Dan marilah bermedia sosial dengan bijaksana, artinya jangan sampai media tersebut yang mengatur kehidupan kita, akan tetapi kitalah yang mengatur media tersebut. Semoga kita dan keluarga kita termasuk orang yang diberi pertolongan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala untuk bisa menjalankan ibadah membaca Al-Qur’an dengan sesuai tuntunan syari’at sehingga kita tergolong orang yang bertakwa, kelak kita semua meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah. Amiin
Penulis: Habibuddin
Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Syahada Padangsidimpuan












