MADINA, Mohga – Bupati Madina H. Muhammad Jafar Sukhairi Nasution diwakili Asisten II Erman Gafar bersama kepala dinas Pertanian Siar Nasution SP, kepala dinas Pariwisata M. Yasir Lubis dan pembina Asosiasi Petani Kopi Kotanopan H. Khoiruddin Nasution melakukan panen kopi arabika di lokasi kebun kopi kelompok Satahi Desa Sopo Sorik Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal, Rabu (28/9/2022)
panen atau memetik kopi merah itu merupakan peran aktif Asosiasi Petani Kopi Kotanopan (APKK) Kabupaten Madina, terus berupaya dan kerja keras untuk memajukan kembali keberadaan kopi arabika Mandailing sekaligus menjaga eksistensinya sebagai produk unggulan Kabupaten Madina
Atas nama pemerintah, Bupati Madina melalui Erman Gafar mengapresiasi upaya dan kerja keras Asosiasi Petani Kopi dalam membina kelompok tani pada wilayah Rura Aek Singengu khususnya dan Kecamatan Kotanopan pada umumnya atas perannya menjaga eksistensi kopi arabika Mandailing sebagai produk unggulan Madina.
Menurutnya, kopi Mandailing pernah meraih kejayaan pada abad ke-19 di tanah Mandailing. Usaha kopi Mandailing pada masa itu dilaksanakan oleh VOC Belanda hampir satu abad lamanya, sehingga kopi Mandailing terkenal sampai ke seluruh belahan dunia dan memiliki peran penting dalam struktur perekonomian wilayah ini.
“Kegiatan panen hari ini diharapkan menjadi momentum bangkitnya kembali kopi Mandailing serta semangat para petani kopi dan stakeholder lainnya untuk meraih kembali kejayaaan kopi Mandailing,” ucapnya.
Ia menjelaskan, usaha kopi telah melewati masa sulit ketika negara dilanda pandemi Covid-19 yang berdampak langsung kepada petani karena kopi dihargai sangat murah. Namun, masa sulit itu sudah hampir terlewati dimana secara perlahan harga kopi sudah membaik.
Untuk itu, dia mengingatkan kepada petani agar jangan cepat puas dan terlena dengan harga yang tinggi saat ini, karena produktifitas masih rendah. Sangat diperlukan kemauan belajar lebih keras lagi dan mengimfut tekhnologi budidaya agar bisa mendapatkan produktifitas tinggi yang secara langsung mengangkat pendapatan petani, pedagang, prosessor dan pengusaha kopi di hilir.
“Satu hal yang sangat penting, menjaga mutu terutama di tingkat kebun sebagai penyedia bahan baku industri kopi. Butuh pengetahuan, kesabaran dan keuletan dalam menjaga mutu, kopi dengan mutu yang baik akan mampu menjaga stabilitas harga dan permintaan yang tetap tinggi,” ujarnya.
Erman Gafar meminta agar secara arif dan bijaksana menerapkan pengembangan kopi yang ramah lingkungan, norma-norma konservasi, sebab daya dukung lingkungan sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan budidaya kopi dan kenikmatan cita rasa kopi Mandailing sangat dipengaruhi lingkungan sekitar kebun.
“Saya mengajak kita semua untuk belajar, bekerja keras dan berinovasi dalam pengembangan kopi Mandailing . Ini sesuai dengan perkembangan industri kopi sehingga pada saatnya kita akan mengembalikan kejayaan kopi Mandailing,” terangnya.
Sementara ketua kelompok tani Satahi Taufik melaporkan, luas lahan kopi yang dinaungi kelompok tani Satahi Sopo Sorik masing-masing dua hektar per orang dengan usia sekitar 2 sampai 3,5 tahun dan bibitnya merupakan bantuan pemerintah kabupaten dan propinsi dengan jenis varietas kopi Sigarar Utang.
“Alhamdulillah hasil yang bisa kami keluarkan dari lokasi ini berkisar 100 kilogram perminggu dengan harga jual ke agen penerima kopi di Kotanopan sebesar Rp 35.000,- perkilogramnya ,” sebutnya.
Panen kopi tersebut katanya diikuti oleh seluruh kelompok tani lainnya yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kopi Kotanopan yang diketuai oleh Nurman. Anggota asosiasi terdiri dari tujuh desa yang berada di wilayah Rura Aek Singengu dengan jumlah anggota sepuluh orang perdesanya.
Terkait harapannya ke pemerintah tentang pengembangan kopi ini, Taufik mengharapkan perlu adanya bimbingan kepada petani bagaimana cara perawatan kopi serta dibangunnya prasarana penunjang untuk membantu pemasaran hasil kopi para petani di daerah ini.
“Yang sangat penting kami harapkan kepada pemerintah adalah menyangkut prasarana jalan ke lokasi perkebunan kami ini. Maksudnya, jalan ke lokasi kami ini perlu dibangun melalui program jalan usaha tani, karena sudah sama-sama kita lihat jalan kesini kondisinya masih berupa tanah liat. Jika musim penghujan, kami sangat kesulitan untuk membawa hasil kopi,” pintanya.
Turut memberikan sambutan dalam acara tersebut, Sekdes Sopo Sorik Azis dan pembina APKK Kotanopan H. Khoiruddin Nasution. Acara panen kopi tersebut juga dirangkaikan dengan forum diskusi yang berkaitan dengan keberadaan hutan lindung dan TNBG di daerah itu.
Tampak hadir di lokasi panen kopi arabika dengan luas lahan sekitar 20 hektar yang mewakili lahan kopi pada desa lainnya disepanjang Rura Aek Singengu itu yakni mewakili Bappeda dan Dispora, Kadis Pendidikan diwakili Korwil VIII Kotanopan Wahdeni Nasution, pihak TNBG, kepala UPT KPH Wilayah VIII Kotanopan Ahmad Irwan Pulungan,pimpinan PT.Bank Sumut KCP Kotanopan Jhoni Sutridar.
Kemudian Camat Pangeran Hidayat bersama Forkopimcam, Kapuskesmas Kotanopan dr. Perinduri, ketua ketua APKK Nurman, para kepala desa, pengurus kelompok tani kopi se Rura Aek Singengu, berbagai elemen masyarakat dan undangan terkait lainnya. (MN-10)










