Nasionalisme Pemuda dan Santri di Era Global

BULAN Oktober tampaknya menjadi bulan istimewa bagi bangsa Indonesia, khususnya kaum muda dan santri. Hal ini dikarenakan di penghujung bulan ini terdapat dua peristiwa besar dan bersejarah dalam kurun seminggu para Santri dan Pemuda menjadi motor penggerak seruan perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Para kaum terpelajar dalam ikrar sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang terdiri dari beragam latarbelakang agama, ras dan suku telah menyatukan tekad dengan membuat ikrar untuk persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia dalam menjaga keutuhan NKRI dari tangan Belanda yang saat itu menjajah Bangsa Indonesia.

Sumpah Pemuda lebih memang terlebih dahulu di tetapkan sebagai hari Nasional dibandingkan hari santri, namun di kedua hari bersejarah itu melibatkan bagaimana eksistensi para pemuda dalam mempertahankan NKRI. Seruan Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari selaku pendiri Nahdlatul Ulama tentang “barang siapa yang berjihad untuk mempertahankan indonesia dan dalam jihad nya meninggal dunia itu termasuk para suhada (Mati sahid)”, pesan itu lah yang membuat para kaum santri dan warga Nahdliyin (NU) selalu ikut serta dalam mempertahankan bangsa nya dari rongrongan organisasi yang ingin memecah belah indonesia serta mengganti ideologi bangsa dengan ideologi baru.

Tekad yang begitu membara dari para pemuda Islam yang saat itu sedang mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren (Santri) yang ikut serta dalam pertempuran di surabaya pada tgl 10 November 1945, yakni peristiwa jihad mempertahankan indonesia dari Inggris yang ingin menguasai daerah jawa timur.

Meskipun Nahdlatul Ulama (NU) usia nya lebih matang (Tua) dari kemerdekaan Indonesia, yakni 31 januari 1926 tetapi NU selalu menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI, santri/pemuda tidak hanya dibekali ilmu agama yang matang tetapi juga di ajarkan bagaimana menjaga kedamaian bangsa dengan semboyan indonesia “Bhineka Tunggal Ika”.

Dari kedua peristiwa bersejarah besar tersebut, kita dapat sebuah pelajaran besar bagaimana peran serta pemuda sangat di butuhkan bangsa ini dalam menjaga keutuhan NKRI. Jika dahulu para pemuda dan santri berperang melawan kolonialisme dan imperialisme, pemuda dan santri masa kini harus berhadapan dengan liberalism dan kemajuan teknologi.

Apabila kita lemah dalam berkompetisi ditambah lagi dengan pemahaman nilai-nilai luhur bangsa serta nasionalisme lemah, maka tidak adalagi yang bisa dipertahankan negeri ini. Oleh sebab itu, di era global seperti sekarang ini, kaum muda santri harus mulai bangkit kembali membangun tatanan budaya, ekonomi dan pendidikan agar muncul kembali semangat pejuang-pejuang yang telah mewariskan Indonesia kepada kita. Mereka rela mengorbankan jiwa, raga dan harta untuk kemerdekaan bangsa tercintanya.

Penulis : Yunus Husein Harahap
Mahasiswa Pascasarjana Prodi KPI UIN Syahada Padangsidimpuan