OLEH: Dr. Icol Dianto, S.Sos.I., M.Kom.I
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقّٗاۚ لَّهُمۡ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ وَمَغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ
(QS. Al-Anfal: 2-4).
Keimanan merupakan istilah yang berkaitan dengan kepercayaan dan keyakinan seseorang. Dalam bahasa Arab, keimanan disebut iman, yang berarti percaya dengan yakin atas sesuatu. Keimanan biasanya berhubungan dengan konteks atau topik keagamaan. Orang yang beriman merupakan orang yang memiliki isi hati, ucapan, dan tindakan yang selaras. Iman adalah syarat seseorang menjadi muslim. Orang yang beriman disebut dengan mukmin. Maka dalam hal ini, keimanan kepada Allah adalah menyadari dan meyakini dengan sepenuh hati akan keberadaan wujud Allah serta menerima dan mengamalkan titah-titah yang diberikan oleh-Nya, karena apapun yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah SWT menjadi sebuah konsekuensi yang harus didengarkan dan ditaati, sami’na wa atha’na.
Iman memiliki dua dimensi yaitu dimensi yang terhubung secara vertikal, yaitu hubungan kepada Allah SWT. Dimensi ini disebut juga dengan dimensi ketuhanan. Kedua, dimensi yang terhubung secara horizontal yaitu konsekuensi keimanan yang menghubungkan keimanan pada Allah dengan kecintaan kepada sesama manusia. Keimanan seseorang yang hanya kuat pada bagian dimensi ketuhanan maka akan melahirkan aspek tanzih, manusia yang berprilaku malaikat. Kehendaknya lebih dominan pada ibadah semata kepada Allah SWT. Manusia diciptakan bukan sekedar untuk melakukan peribadatan wajib seperti sholat dan puasa namun manusia itu diciptakan untuk hidup bersama dengan orang lain. Demikian sebaliknya, jika aspek kemanusiaan saja yang muncul maka keimanannya bisa rusak dan terabaikan. Namun, sikap yang benar adalah menyeimbangkan antara dimensi ketuhanan dengan dimensi kemanusiaan dari sebuah keimanan itu.
Dalam banyak ayat al-quran dikatakan, berimanlah kamu dan berbuat amal sholehlah. Atau, seringkali Allah memanggil orang-orang yang beriman dan orang-orang yang beramal sholeh. Keimanan tanpa diikuti dengan amal sholeh maka hanya mendapatkan aspek tanzih saja, sedangkan keimanan yang hanya diwujudkan dalam bentuk berbuat baik saja, tanpa dilandasi pengakuan ketuhanan kepada Allah, maka kita hanyalah tasyabuh saja. Oleh karena itu, Imam Al-Ghazali mencoba untuk memaknai bahwa iman adalah pembenaran di dalam hati, pengucapan denga lisan, dan pengamalan dengan seluruh anggota tubuh.
Dalam konteks keimanan di bulan Ramadhan. Allah SWT menyeru hamba-hamba-Nya yang beriman, dengan kata-kata “Ya Ayyuhalladziina Amanu… hingga akhir surah dalam QS. Al-Baqarah: 183 yang mewajibkan kita untuk berpuasa. Beberapa ulama menyebutkan bahwa yang dipanggil adalah orang yang beriman. Jadi, bagaimana dengan orang Islam yang mungkin saja keislamannya tanpa diikuti dengan keimanan. Maka, tidak heran kita melihat adanya pemandangan bahwa beberapa orang yang mengaku beragama Islam namun tidak berpuasa. Hal ini disebabkan “ketiadaan iman atau lemahnya iman atau matinya iman” pada mereka.
Ayat tersebut diawali dengan panggilan kepada orang yang beriman dan diakhiri dengan level orang yang beriman, yaitu Takwa. Kita bisa melihat bagaimana hubungan keimanan dan ketakwaan pada QS. Al-Baqarah 1-2, bahwa orang yang bertakwa itu adalah mereka yang beriman. Mereka beriman kepada yang ghaib (Allah SWT, Malaikat, dan makhluk ghaib yang diciptakan oleh-Nya). Orang yang beriman itu mendirikan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Allah SWT telah diberikan kepadanya.
Rasulullah SAW telah memberikan jaminan kepada umatnya bahwa “Barangsiapa yang berpuasa dengan keimanan (yang sungguh-sungguh) dan mengharapkan pahala (penuh perhitungan) maka diampuni segala dosanya yang telah berlalu.” (HR Bukhari dan Muslim).
Nabi Muhammad Saw sudah memberikan rambu-rambu bahwa pentingnya keimanan. Hadis ini tentu memperkuat dari perintah puasa yang telah ada di dalam Al-Quran. Ketegasan yang dapat kita ambil dari dalil-dalil ini bahwa keimanan, takwa, dan pengampunan dosa adalah sesuatu yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Apabila kita berpuasa dengan penuh keimanan maka Allah akan mengampuni dosa kita, yang dalam kondisi kita sudah terampuni segala dosa, maka peringkat takwa dapat kita raih. Tentu saja, peringkat takwa ini atau gelar takwa ini tidak perlu kita umbar-umbar dan tidak perlu diumumkan kepada orang lain. Cukuplah Allah yang maha mengetahui segala rahasia kita.
Maka, sejalan dengan apa yang sudah Allah SWT tetapkan dalam kitab suci Al-Quran, bahwa orang-orang yang sungguh-sungguh beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah SWT maka bergetar hatinya, apabila dibacakan ayat-ayat Allah SWT maka akan bertambah keimanan mereka, dan hanya kepada Allah semata mereka bertawakkal, menyerahkan diri hanya kepada Allah dan menggantungkan harapan hanya kepada Allah. Mereka juga mendirikan sholat, baik sholat wajib maupun sholat sunnah, tentu tidak termasuk orang-orang yang lalai dalam sholatnya, dan mereka menafkahkan sebagian rezeki, yaitu membelanjakan seperlunya, tidak berfoya dan tidak pula mubazir, serta bersedekah dan mengeluarkan zakatnya.
Demikian itulah kriteria orang yang beriman dengan sebenar-benarnya iman. Maka, bagi mereka itulah derajat yang tinggi dari sisi tuhannya, mendapatkan ampunan dan karunia yang besar di dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Sebaliknya, lawan dari keimanan adalah kekafiran. Kafir artinya menolak dan terhalang. Kafir adalah orang yang tidak percaya kepada Allah Swt. dan rasul-Nya. Dalam bahasa Arab, kāfir (كافر) artinya adalah menutup kebenaran, menolak kebenaran, atau mengetahui kesalahan tapi tetap menjalankannya. Kata kafir merupakan ism fa’il (kata pelaku) dari kata kafara-yakfuru-kufr. Dalam Al-Qur’an, kata “kafir” disebut 525 kali dan mengacu pada perbuatan yang berhubungan dengan Tuhan. Mereka yang kafir itu adalah mendustakan kebenaran, kebenaran apa? Yakni, kebenaran atas keberadaan Allah Yang Maha Kuasa. Maka, bagi mereka yang mengingkari dan mendustakan ini menjadi orang yang sangat merugi.
Kita dapat mengambil pelajaran dari kisah-kisah umat terdahulu, misalkan Fir’aun dan tentara-tentaranya yang ditenggelamkan ke dasar laut, Raja Namrud yang mati hanya karena serangan dari seekor lalat, banjir Nabi Nuh, kesudahan kaum Tsamud, Sodom, dan lain-lainnya. Apakah tidak cukup meyakinkan kepada kita bahwa akhir dari kekafiran itu adalah penderitaan yang mendalam di dunia dan di akhirat.
Lalu, pertanyaannya adalah jalan yang mana yang akan kita tempuh? Allah telah bentangkan kepada kita jalan ketakwaan dan jalan kesesatan (fujur), maka kita sebagai manusia diberi opsi untuk memilih, kita punya akal, hati, dan nafsu untuk mempertimbangkan mana yang lebih baik untuk kehidupan kita.
Maka dari itu, sudah mestinya bulan Ramadhan 1445 H ini kita jadikan sebagai momentum untuk mempertegal keimanan. Allah dan rasul-Nya telah mengajarkan banyak amalan-amalan yang bisa kita lakukan. Namun dalam konteks khotbah ini, tiga amalan yang dapat menghantarkan kita kepada keimanan yang sesungguhnya itu.
Pertama Sholat. Sholat merupakan tiang agama Islam. Sholat adalah amalan yang paling pertama untuk dihisab (diperiksa dan ditimbang) di yaumil hisab nanti. Bahkan sholat menjadi ibadah pembeda antara orang Muslim dan non-muslim. Sholat jika kita maknai bacaan demi bacaan itu akan memberikan efek yang dalam terhadap jiwa kita. Sholat berisi pujian-pujian, tasbih, tahmid, dan takbir serta doa-doa yang mengakui akan kekuasaan dan keagungan dari Allah SWT.
Kedua Membaca Al-Quran. Membaca Al-Quran sangat bagus dilakukan di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah “hari kelahiran” bagi Al-Quran yang diturunkan ke Rasulullah. Ibnu Abbas RA. Hadits tersebut menceritakan kebiasaan Rasulullah SAW dalam membaca Al-Quran di bulan Ramadan. “Jibril menemuinya pada tiap malam malam bulan Ramadhan, dan dia (Jibril) bertadarus Al-Quran bersamanya. (HR Bukhari).
Tadabbur Al-Qur’an adalah proses memahami dan menghayati makna, hikmah, dan pengajaran ayat-ayat Al-Qur’an. Tadabbur Al-Qur’an bertujuan untuk mendapatkan inspirasi, petunjuk, dan bimbingan yang dapat mengantar kita kepada tujuan akhir yang ingin dicapai dari membaca Al-Qur’an, yaitu mendekat kepada Allah. Langkah untuk tadabbur Al-Qur’an adalah membaca ayat, menghidupkan hati, mendengarkan dengan seksama, dan memahami maksud ucapan.
Membaca Al-Quran memang ditekankan pentingnya dalam Islam dan dianggap sebagai amalan yang sangat mulia. Nabi Muhammad Saw dalam berbagai hadisnya menegaskan tentang keutamaan membaca Al-Quran dan pahala yang akan diperoleh oleh orang yang melakukannya dengan baik dan ikhlas.
Salah satu hadis yang terkenal tentang keutamaan membaca Al-Quran adalah hadis riwayat dari Utsman bin Affan, yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sebaik-baik di antara kamu adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya kepada orang lain” (HR. Al-Bukhari). Dari hadis ini, kita dapat melihat bahwa Nabi menekankan pentingnya mempelajari dan mengajarkan Al-Quran kepada orang lain.
Ketiga memperbanyak Infak dan sedekah. Sedekah yang terbaik itu adalah sedekah di bulan Ramadhan. Karena, sedekah di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan, sesuai dengan yang telah Allah janjikan kepada kita. Sedekah terbaik itu adalah sedekah yang dilakukan di bulan Ramadhan. Infak dan sedekah memiliki aspek dari sosial itu secara langsung. Dana infak dan sedekah dapat dikelola oleh pengurus masjid untuk bantuan sosial kepada jama’ah yang membutuhkannya. Dengan begitu, fungsi filantropis dari infak dan sedekah memiliki dampak secara langsung bagi umat.
Akhir kata, iman bagaikan tanaman yang dapat layu, kering, dan mati. Apabila seseorang ingin imannya tetap subur maka hendaknya selalu diperbaharui. Iman harus dipupuk dan di antara pupuknya itu adalah mendirikan sholat, memperbanyak membaca Al-Quran dan sering-seringlah infak dan sedekah. Mudah-mudahan dengan begitu, iman kita dapat menempati level muttaqin sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah SWT. Aamiin
Penulis adalah Dosen tetap pada Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan









