MohgaNews|Madina – ada sejumlah kisah menarik yang terjadi pada peristiwa banjir dan longsor di wilayah kecamatan Batang Natal Kabupaten Mandailing Natal (Madina).
Banjir akibat hujan deras yang mengguyur wilayah itu menyebabkan sejumlah desa di Batang Natal terendam, rumah warga pun digenangir air hingga ketinggian 1,5 meter. Rumah warga porak poranda, harta benda masyarakat ditelan banjir yang menurut warga adalah kejadian banjir terbesar sejak sekitar 10 tahun belakangan.
Warga banyak yang kehilangan harta benda, barang perabotan rumah tangga rusak, begitu juga dengan hewan ternak turut lenyap ditelan banjir.
Dampak musibah banjir tak hanya dirasakan warga yang bertempat tinggal di wilayah kecamatan Batang Natal. Karena, warga lain pengguna jalan lintas pantai barat Madina juga terkena dampaknya.
Misalkan pedagang yang baru pulang dari pasar Simpang Gambir. Mereka yang melintas di saat jalan sudah longsor, terpaksa menunggu hingga bantuan alat berat datang.
Namun, ditunggu sampai pagi, akses jalan tetap belum bisa dilewati kendaraan. Sedangkan, mereka menunggu semalaman di tengah hutan perbatasan.
Sebagian mereka yang tidak sanggup menunggu sampai pagi dan kedinginan di tengah hutan, mereka harus berjalan kaki hingga lebih 5 hingga 10 kilometer.
Panusunan (45) pedagang di pasar Simpang Gambir kepada MohgaNews menceritakan, ada beberapa titik longsor di jalan lintas Batang Natal.
“Waktu tiba di lokasi, baru ada beberapa mobil yang antri. Jadi kami periksa ke depan beberapa kilometer, ada banyak titik longsor. Karena itu kami sama sekali tidak bisa lewat,” sebutnya.
sebagian mereka yang bermalam di tengah hutan tidak mampu berhatan lama-lama di tengah hutan, sehingga sebagian pengguna jalan yang antri terpaksa berjalan kaki untuk mencari angkutan melewati beberapa titik longsor dan banjir tersebut. apalagi sebagian pedagang harus berjualan lagi di hari senin.
“Kami tunggu sampai menjelang pagi, jalan tetap belum bisa lewat. Terpaksa kami jalan kaki hamper 10 kilometer agar dapat angkutan pulang,” sebut Panusunan warga Siabu itu.
Menurutnya, akses jalan baru dibuka Senin pagi menjelang siang, disitu baru semua mobil bisa lewat khususnya angkutan kecil.
Pedagang lain, Misbah (32) yang ingin berjualan ke pasar Tapus menyebut, ia datang dari Panyabungan menuju Tapus. Tapi akibat akses jalan sudah longsor dan sama sekali tidak bisa dilewati, akhirnya ia memilih pulang dan membawa barang dagangannya berupa buah-buahan untuk dijual di pasar Panyabungan. Karena, bila ditunggu sampai pagi, dapat dipastikan dia tidak bisa lagi jualan di pasar Tapus. (MN-01)











