PERDAMAIAN MEMBAWA KEMAKMURAN

PERDAMAIAN adalah segala hal yang tujuannya untuk mencapai kesejahteraan hidup manusia melalui keadilan dan kesepakatan menciptakan situasi aman dan kondusif. Perdamaian dapat dicapai oleh beberapa pihak demi tujuan pencegahan konflik. Karena konflik hanya berujung pada kehancuran. Dua pihak berseteru, yang menang jadi arang yang kalah jadi abu. Tiada guna.

Hari ini mata dunia tertuju pada perang antara Palestine dengan Israel, perang berkepanjangan. Begitu pun dengan peran antara Rusia dengan Ukraina yang belum ada habisnya.

Perang hanya menyisakan korban. Nyawa melayang, harta benda ludes, yang ada hanyalah pertumpahan darah dan bara api. Anak-anak kehilangan orang tua, sebaliknya orang tua kehilangan anaknya. Dan pemerintah kucar kacir mempertahankan kedaulatan wilayah maupun kekuasaannya. Situasi ini akan berdampak kemana-mana. Berdampak pada ketahanan pangan, perdagangan, aksi pemboikotan, dan sebagainya.

Islam adalah agama yang membawa kesejukan, kedamaian, dan rahmat bagi sekalian alam. Islam mengajarkan bahkan menekankan agar menyambung silaturahmi, mencintai sesama, dan menebar kebaikan di muka bumi. Menebar kebaikan bukan hanya bagi kelompok kita saja. Misalnya sesama penganut agam Islam. Tapi menebar kebaikan itu dianjurkan kepada semua orang sekalipun kepada musuh kita.

Ada sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa pernah suatu waktu Rasulullah dalam sebuah peperangan melawan musuh agama Allah. Pada saat Rasulullah merasa kelelahan, beliau istirahat di bawah pokok kayu besar. Saat itu tidak seorangpun sahabat yang mendampinginya. Tiba-tiba ada seorang tentara musuh yang mengetahui keberadaan Rasulullah. Saat itu juga dia mengacungkan sebilah pedang tepat di leher Rasulullah. Ia pun berkata “hai Muhammad, situasi seperti ini siapa lagi yang bisa menolongmu dari keganasan pedangku”. Namun saat itu pula Rasulullah tanpa rasa takut dan gemetar dengan sikap tenang menjawab “sebagai manusia tiada yang melindungiku melainkan Allah”. Di situlah pertolongan Allah datang. Tentara tadi yang awalnya sangar seketika tangannya bergetar, pedang di tangannya itu pun langsung jatuh. Lalu Rasulullah pun mengambil pedang dan mengacungkannya kepada tentara itu sembari bertanya yang sama kepada tentara itu “dalam situasi ini siapa yang akan menolongmu?” Dengan bibir gemetar tentara itu hanya bisa menjawab “hanya engkau Muhammad yang bisa menyelamatkanku dari keganasan pedang ini”. Mendengar itu Rasulullah hanya membalas senyuman dan menurunkan pedang lalu mengembalikannya kepada tentara itu sembari berujar “kembalilah engkau ke golonganmu” kata Rasulullah.

Kisah ini mengajarkan bagi kita semua sekalipun dalam situasi perang, Rasulullah masih mengajarkan sebuah kebaikan dan kesejukan.

Cerita serupa juga terjadi di Indonesia. Pemilihan Presiden tahun 2019 yang lalu masih menyisakan kisah. Di mana dua calon yang berseteru dan cukup sengit tiba-tiba menyatu dalam waktu yang cukup singkat setelah KPU menetapkan siapa pasangan calon pemenangnya. Yang ketika itu pemenangnya adalah Joko Widodo dan KH Maaruf Amin. Sedangkan pasangan yang kalah yaitu Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Situasi pilpres tahun 2019 yang lalu banyak yang menjadi korban politik hingga korban nyawa. Aksi demonstrasi berulang-ulang terjadi hanya dikarenakan dukungan politik yang pro kontra terhadap dua pasangan calon. Namun, tidak lama setelah hasilnya ditetapkan dan diumumkan, Jokowi dan Prabowo ketemu di suatu tempat bahkan di dalam lokomotif sebuah kereta api. Setelahnya situasi yang sebelumnya ibarat bara api hanya dengan waktu singkat mulai padam. Walaupun ada banyak pihak yang menyesalkan terjadinya pertemuan yang berujung perdamaian itu. Bahkan dalam kabinet Jokowi-Maaruf Amin, Prabowo diberikan amanah sebuah jabatan yaitu sebagai Menteri Pertahanan. Seandainya tidak ada pertemuan dan perdamaian tersebut bisa saja aksi penolakan akan terus berlanjut. Demo dimana-mana. Yang korban juga adalah rakyat sendiri.

Allah swt berfirman dalam surah Al-Huharat ayat 9:
وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱقۡتَتَلُواْ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَاۖ فَإِنۢ بَغَتۡ إِحۡدَىٰهُمَا عَلَى ٱلۡأُخۡرَىٰ فَقَٰتِلُواْ ٱلَّتِي تَبۡغِي حَتَّىٰ تَفِيٓءَ إِلَىٰٓ أَمۡرِ ٱللَّهِۚ فَإِن فَآءَتۡ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَا بِٱلۡعَدۡلِ وَأَقۡسِطُوٓاْۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ٩
Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (Q.S. Al-Hujurat : 9)

Ayat Alquran ini mengajarkan kepada kita semua untuk menghentikan peperangan dan mendamaikan dua pihak yang sedang konflik. Dengan catatan perdamaian itu menciptakan suatu kesepakatan berlandaskan keadilan bagi semua. Karena dengan perdamaian maka kesejukan akan tercapai, rakyat bisa lebih tenang, pemerintah dapat bekerja maksimal. Dengan begitu perdamaian akan membawa kemakmuran.

Penulis: Muhammad Ridwan Lubis
Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Syahada Padangsidimpuan