MohgaNews|Madina – namanya Sangkot (35), ibu dua orang anak ini tak sanggup lagi membayar kontrakan rumah dan ia memilih tinggal di saung atau pondok di pematang sawah bersama kedua orang anaknya. Sudah tiga hari mereka tinggal di saung persawahan di kawasan jalan lintas barat Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal (Madina)
Sangkot tinggal bersama dua orang anaknya yang masih kecil. Satu orang berusia 7 tahun, dan satu lagi berusia 3 tahun.
Beruntung keadaan Sangkot diketahui penduduk setempat, lalu warga menceritakan kondisi Sangkot kepada pengurus organisasi kepemudaan, yakni Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Panyabungan, Karang Taruna, dan PC satuan Relawan Indonesia (Satria) Kabupaten Madina.
Mengetahui keadaan Sangkot, pengurus tiga organisasi itu langsung mengunjungi kediaman Sangkot di salah satu saung di pematang sawah, Panyabungan Julu. Mereka sekaligus memberikan bantuan pada Sabtu (22/08/2020)
Bantuan yang diberikan berupa penyewaan rumah di lingkungan 1 Kel. Panyabungan II, Kec. Panyabungan, sembako, kompor, serta beberapa peralatan rumah tangga lainnya juga turut disalurkan.
“Awalnya dari laporan masyarakat, begitu tahu kita langsung bergerak ke lokasi bersama teman teman dari Karang Taruna Panyabungan dan Satria Madina. Kita bantu sewakan rumah untuk tempat tinggal beliau bersama dua anaknya, kita juga sudah melaporkan kepada, sembako, kompor tikar dan lainnya. Kita juga sudah melapor ke Kepala Lingkungan (Kepling),,” ujar Dedi, Ketua AMPI Panyabungan didampingi Sekretaris Muliya Harisandi ketika diwawancarai Mohganews usai mengunjungi kediaman Sangkot pada Sabtu sore (22/08/2020) sekira pukul 17.00 Wib.

Ketua Karang Taruna Panyabungan, Sarkawi Nasution berharap agar perihal tersebut dapat mebuka hati para dermawan untuk membantu meringankan beban Sangkot yang kesehariannya bertahan hidup dengan memanen tumbuhan paku/pakis dan kangkung untuk kemudian dijual di pasar baru Panyabungan.
“Semoga para dermawan melihat dan turut membantu meringankan beban ibu Sangkot yang berjuang sendirian untuk menghidupi kedua anaknya, apalagi yang bungsu masih kategori balita (bayi lima tahun) sedangkan yang sulung sudah sekolah,” tambah Sarkawi.
Sangkot yang sudah 2 tahun ditinggal pergi suaminya dan tak pernah menerima kabar tentang keberadaan suami mengaku sangat berterima kasih akan kepedulian serta bantuan yang diberikan kalangan pemuda Panyabungan tersebut.
“Alhamdulillah, sangat bersyukur pak masih ada yang peduli dengan kami. Sudah 2 tahun suami pergi dan tak ada kabar, sebelumnya kami ngontrak rumah di Panyabungan Julu, sekarang gak sanggup lagi pak, makanya 3 hari ini tinggal di sawah orang,” pilu Sangkot yang mengaku berasal dari Desa Torbanua Raja, Panyabungan Utara itu. (MN-09)











