MADINA – Bupati Mandailing Natal (Madina) H. Saipullah Nasution mengakui Pemkab sampai saat ini belum menghitung secara pasti jumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dibutuhkan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Meski demikian, kata bupati, jumlah penerima manfaat untuk diberikan MBG mencakup seluruh wilayah Madina kategori siswa, madrasah, hingga ibu hamil dan menyusui berjumlah sekitar 160 ribu orang.
“Kemarin kita coba data, datanya sekitar 160 ribu orang sehingga kalau kita bagikan rata-rata tiga ribu sampai empat ribu per SPPG, yang dibutuhkan sekitar 50 sampai 60 dapur,” kata bupati di SMP Negeri 5 Panyabungan, Selasa (14/10/2025).
Bupati menerangkan, jumlah dapur tersebut jika dikalikan dengan tiga sampai empat ribu orang setiap SPPG. Apabila melihat wilayah Madina yang luas, tentu dapur SPPG itu dibutuhkan lebih banyak.
“Nanti untuk desa-desa terpencil, dalam satu dapur itu bisa 500 orang saja. Kita contohkan seperti di Desa Banjar Lancat. Di situ hanya ada SD dan Madrasah. Tentu itu saja yang kita siapkan,” jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, Bupati Madina ketika memantau proses MBG di SMP Negeri 5 Panyabungan juga menyebut jumlah SPPG yang beroperasi di Madina masih ada empat SPPG. Keempat SPPG itu milik swasta.
Bupati juga menyebut kendala tentang pasokan bahan baku dalam memenuhi kebutuhan dapur SPPG. Pemkab Madina, jelas bupati, dalam waktu dekat akan melalukan rapat koordinasi untuk memetakan potensi setiap kecamatan dalam pemenuhan bahan baku dimaksud.
“Nanti akan kita petakan kecamatan mana yang menyiapkan sayur, ikan, daging, telur. Harapan kita tentu semua bahan baku yang akan digunakan dalam proses penyiapan makanan di dapur bergizi ini semuanya dari Kabupaten Mandailing Natal,” ucapnya.
“Pemenuhan bahan baku ini juga berdampak pada inflasi. Kalau bisa kita penuhi maka inflasi kita akan turun, ekonomi bergerak, masyarakat dapat pekerjaan, tenaga kerja jalan maka kita tetap bisa mempertahankan inflasi kita tetap di bawah,” lanjut Saipullah. (FAN)











