KEMARIN, saya ketemu senior Saparuddin Haji. Beliau ini sekaligus komisaris PT Maindo Mohga Media (perusahaan pers), di perusahaan ini pula saya diberi amanah sebagai direktur merangkap pemimpin redaksi www.mohganews.co.id
Beliau senior saya karena kami satu almamater. Sama-sama alumni pesantren Musthafawiyah di tahun yg berbeda. Bedanya beliau sempat menempuh pendidikan di Cairo University, sedangkan saya hanya sanggup di perguruan tinggi lokal di Kabupaten Madina. Tapi masih sama-sama punya kesempatan mencicipi pendidikan di perguruan tinggi. Hehehe
Namanya senior, kalau ketemu pasti berdialektika, bernostalgia, diskusi, dan tentunya sambil ngopi. Kebetulan sudah lebih sebulan tak ketemu beliau.
Kami bincang-bincang banyak hal, salah satunya tentang pendidikan. Beliau sekilas bercerita tentang masa-masa menempuh pendidikan di Mesir, negara yang kaya dengan peradaban, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Dulu selepas dari pesantren saya sendiri bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Mesir. Tapi kondisi ekonomi orang tua tidak memungkinkan ke sana.
Di Mesir, Saparuddin Haji yang sehari-hari kami sapa dengan Bang Akong bercerita tentang banyak tokoh nasional yang “lahir” dari Mesir. Tokoh politik, tokoh pendidikan, birokrasi, pengusaha, dan sebagainya. Salah satu tokoh yang disebut beliau adalah Profesor Dr Sumper Mulia Harahap.
“Dari dulu Bang Sumper ini sudah jadi teladan bagi kami yang lebih junior. Bang Sumper orangnya sangat sederhana, low profile, tapi otaknya sangat canggih. Beliau tidak melekat dengan istilah kutu buku, tapi sekali menyimak bacaan beliau langsung paham, daya ingatnya sangat kuat, IQ-nya sangat tinggi, wajarlah beliau itu sekarang jadi profesor,” kata Akong.
Selain Prof Sumper, tokoh sekaligus cendekiawan yang disebut Akong adalah Zuhairi Misrawi, yang saat ini mendapat amanah dari Presiden Jokowi sebagai Duta Besar RI di Tunisia. Zuhairi Misrawi menurut Akong juga sosok yang sangat menginspirasi.
“Beliau sosok yang kritis dan punya wawasan yang sangat luas. Awalnya beliau akan ditempatkan sebagai duta besar Arab Saudi, tapi akhirnya ditempatkan sebagai duta besat Tunisia, katanya
Soal Saparuddin Haji, sekilas orang menilai sosok ini hanyalah seorang putra dari Haji Atas, seorang dermawan dari tanah Mandailing Natal yang saat ini sudah berusia 90 tahun.
Banyak orang menilai Bang Akong orang yang cuma suka bercanda, orang yang berkecukupan, tapi tidak banyak yang tahu sisi liarnya di dunia politik, politik dalam negeri maupun luar negeri. Walaupun pernah bertarung di Pilkada dan menelan kekalahan, namun baginya sebuah kontestasi pasti ada menang ada pula yang kalah.
“Saya hanya ingin mewujudkan mimpi dan niat saya untuk mengabdi bagi masyarakat tanah kelahiran. Kalau soal ekonomi bagi saya bisa dibilang sudah cukup. Karenanya lewat kontestasi pilkada tahun 2015 lalu saya ikut sebagai calon bupati, tapi belum berhasil mewujudkan impian saya itu, belum terpilih,” ucapnya.
“Kalah bukan berarti tidak punya kesempatan mengabdi. Kita harus tetap punya semangat dan impian besar membawa perubahan bagi masyarakat kita, perubahan yang membawa masyarakat kita lebih makmur, lebih maju, dan sejahtera. Saya yakin kita semua sepakat itu, dan yang bisa mewujudkan itu bukan orang lain melainkan kita sendiri. Tidak mungkin orang lain berpikir dan berbuat banyak untuk memajukan daerah kita, kita sendirilah yang harus bersatu, sama-sama bergerak, melalui agenda politik untuk mewujudkan itu semua,” pungkasnya.
Catatan Redaksi











