BELIAU ini namanya H. Raja Parlindungan Pane. Salah satu tokoh pers terkenal di Jakarta. Sekarang menjabat Wakil Sekjen PWI. Beliau juga terpilih menjadi Ketua Umum IKAPSI (Ikatan Keluarga Alumni Pelajar Sipirok) periode 2022-2027. Dari zaman orde baru beliau berkecimpung di dunia pers mulai dari jabatan paling bawah hingga di pucuk pimpinan media. Dia pernah satu tim dengan tokoh-tokoh hebat, salah satunya Karni Ilyas.
Kemarin sore saya duduk semeja bersama Bang Raja, sapaan akrab Raja Parlindungan Pane. Selaku pengurus harian di PWI beliau banyak bercerita tentang situasi di internal organisasi wartawan tertua di Indonesia itu. Saya senang mendengar karena sudah banyak perkembangan tentang Kongres Persatuan, yang insaAllah akan diselenggarakan pada bulan Kemerdekaan Indonesia nanti, Bulan Agustus.
Yang lebih menarik lagi, selaku Ketua IKAPSI, Bang Raja juga banyak cerita tentang progres rencana Pemekaran Provinsi Sumatera Tenggara di wilayah Tabagsel (Tapsel, Madina, Palas, Paluta, Padangsidimpuan). Satu pesan yg disampaikan beliau:
“Kita jangan berdebat lagi soal di mana letak pusat pemerintahannya, yang penting bagi kita jadi provinsi itu, kalau Sumteng Jadi InsaAllah daerah kita akan maju. Saya kasihan kondisi kabupaten kota di Tabagsel, akses ke sana sangat jauh, bagaimana investor mau masuk? Kalau cuma mengandalkan anggaran pemerintah, it’s impossible. Tentu kita berharap banyak investasi yang masuk,” kata Bang Raja.
Bang Raja bilang perkembangan soal Provinsi Sumteng ini cukup baik. Karena para tokoh di Jakarta punya semangat yang sama dengan para kepala daerah.
“Sekarang semua sudah punya semangat yang sama, para tokoh dan kepala daerah sejalan mewujudkannya,” ungkpanya.
Apa yang disampaikan Bang Raja ini memang perlu didukung bersama. Pembangunan tidak akan terlaksana secara merata apabila hanya menunggu alokasi anggaran daerah (APBD), semisal Kabupaten Madina yang cuma punya APBD lebih kurang Rp. 1,6 Triliun. Apabila dibandingkan dengan jumlah wilayahnya 23 kecamatan dan 404 desa/kelurahan dan jumlah jiwa 470an ribu orang. Postur APBD itu tidak akan bisa menghasilkan out-put pembangunan yang baik. Maka perlu suntikan dana dari sektor lain. Misalnya perusahaan perkebunan di Pantai Barat dan perusahaan geothermal SMGP juga perusahaan tambang emas PT Sorikmas Mining.
PT SMGP ini menurut informasi telah menyumbang puluhan hingga ratusan miliar ke negara, ditambah bonus produksi yang mencapai miliaran rupiah setiap tahun ke kas daerah. Belum lagi dana CSR yg langsung bisa memberdakayan ekonomi masyarakat. Nah, kalau invest-invest lain masuk ke daerah tentu akan menambah income pendapatan bagi daerah yang pada akhirnya pembangunan akan semakin mudah terlaksana.
Sewaktu Pak Dahlan dahulu menjabat Bupati Madina, saya pernah dilibatkan wawancara dengan beberapa calon investor, seperti pengusaha gula, pengusaha tepung tapioka, dan sebagainya. Namun rencana mereka itu urung terlaksana. Salah satu penyebabnya adalah akses transportasi.
Beruntung hari ini Madina punya bupati yang punya pengalaman banyak di pemerintahan pusat, karena Pak Saipullah Nasution adalah birokrat dan teknokrat ulung, lama bertugas di direktorat beacukai kementerian keuangan. Ada secercah harapan Madina bisa bangkit. Tapi kembali pada persoalan dasar tadi, inprastruktur dan jalur transportasi yang masih sangat jauh tertinggal sehingga sulit bagi investor masuk. Namanya pengusaha tentu mereka mengkaji untung dan rugi. Tidak ada perusahaan yang mau rugi.
Sebenarnya pondasi pembangunan di Tabagsel sudah lumayan bagus, misalnya bandar udara dan pelabuhan sudah ada. Tinggal bagaimana memungsikannya dan menarik perhatian pengusaha berkunjung. Di sisi lain panorama alam di Tabagsel tak kalah saing dengan di daerah lain, yang layak menjadi destinasi wisata, tentu akan menambah pundi-pundi pendapatan di daerah.
Mewujudkan ini perlu political will dari semua pihak. Tidak hanya pemerintah saja, tetapi seluruh stakeholder perlu menyatukan kesamaan pandangan untuk membangun daerah. Kalau tokoh dan pemimpin sudah punya pandangan dan semangat yang sama sekarang waktunya para pemangku kepentingan dan kelompok masyarakat mendukung akselerasi terwujudnya Provinsi Sumatera Tenggara.
Penulis: Muhammad Ridwan Lubis, Ketua PWI Kabupaten Mandailing Natal












