Malam Sastra Kemendikbud dan Peran Penting Pemerintah Daerah

OLEH: Askolani Nasution – Malam Sastra Kemendikbud, Sabtu malam (10/7), kerja sama dengan Majalah Sastra “Horizon”. Bagian dari program Banpem Kebahasaan dan Kesastraan Badan Bahasa. Dari Sumut hanya dua terpilih: Sanggar Literasi Sibolga untuk kategori komunitas dan saya mewakili perorangan.

Itu penghargaan Badan Bahasa untuk orang yang terus-menerus berkarya memajukan bahasa dan sastra daerah dan Indonesia, bekerja dengan tulus.

“Penghargaan ini belum sebanding dengan apa yang sudah Anda lakukan selama ini,” kata Kepala Badan Bahasa dalam sambutannya. “Mestinya program ini bisa menjadi pemicu bagi daerah untuk melakukan hal yang sama.”

Ada 1.018 kandidat. Lolos 53 kelompok komunitas dan perorangan. Saya dan 19 orang lainnya masuk dalam kategori perorangan.

Pesan Kepala Badan Bahasa Kemendikbud, punahnya bahasa daerah tidak terhindari. Tahun lalu saja katanya, dua juta penutur bahasa Sunda berkurang. Pemerintah semestinya ikut berperan dalam memperlambat punahnya bahasa daerah. Salah satunya dengan mendorong dan memfasilitasi orang dan komunitas yang bergerak dalam penguatan bahasa dan sastra.

“Sekali lagi, penghargaan ini tidak akan sebanding dengan kerja keras yang Anda lakukan selama ini dengan tulus,” kata Prof. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., Kepala Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek.

Saya ingat, dalam peringatan Bulan Bahasa tahun lalu, beliau menulis sambutan berbahasa Mandailing yang sangat bagus. Padahal beliau bukan penutur bahasa Mandailing. Kita? Berani tidak membuat pidato, artikel, atu berita berbahasa Mandailing?

Jauh lebih penting dari itu, apa yang kita lakukan untuk menyelamatkan bahasa ibu kita dari kepunahan? Tahukah Anda, dalam 100 tahun terakhir, lebih dari 30 persen kosa kata bahasa Mandailing punah.

Penulis adalah sastrawan/budayawan Mandailing