MADINA, Mohga – Plt Kepala Badan Penanggungan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Muksin Nasution menyebut mayat Fakhruddin ditemukan karena warga yang sedang melakukan pencarian mencium aroma bau busuk di sekitar perbatasan Kecamatan Panyabungan Selatan dan Batang Natal.
“Ada 17 orang warga Kelurahan Tanobato hari ini melakukan pencarian di hutan Tanobato. Mereka mengaku mencium aroma bau busuk berjarak sekitar 20 kilometer dari perbukitan Adian Batang Desa Pagaran Gala-Gala atau tempat pertama hilangnya almarhum Fakhruddin,” katanya, Sabtu (28/1/2023).
Muksin mengatakan tim dari BPBD dan Basarnas masih sempat melakukan evakuasi terhadap mayat Fakhruddin yang ditemukan di dataran hutan. Sedangkan bagian tubuh Fakhruddin, jelas Muksin, masih utuh layaknya manusia normal.
Lokasi penemuan Fakhruddin, kata Muksin, baru kali pertama dilewati baik warga maupun tim mulai sejak awal melakukan pencarian. Mulanya, tim pencari menyisir sebelah kanan hutan, sedangkan mayat itu ditemukan di hutan sebelah kiri.
“Lokasi penemuan itu baru kali ini dilewati. Sejak dinyatakan hilang, kita mencari di sebelah kanan hutan padahal dia berada di sebelah kiri,” tuturnya.
“Bagian anggota tubunya masih utuh, tapi sudah membusuk. Awalnya, kan pakaian seperti topi dan celana sudah ditemukan. Tadi, almarhum tak mengenakan pakaian lagi kecuali atasan (baju-red),” lanjutnya.
Mantan Camat Nagajuang ini menerangkan, saat ini Fakhruddin sudah di bawa ke rumah duka di Kelurahan Tanobato Kecamatan Panyabungan Selatan untuk proses pemakaman secara langsung malam ini.
Muksin mengimbau kepada seluruh warga Madina pada khususnya petani agar selalu berhati-hati dan waspada dalam menjalankan aktivitas seperti halnya, tidak terlalu pagi berangkat ke kebun, begitu juga dengan sebaliknya.
“Apalagi hutan yang jarang dilewati oleh manusia, saya imbau jangan pergi sendirian,” ujarnya.
Kasat Reskrim Polres Madina, AKP Prastiyo Triwibowo melalui Kaurbin Ops Satreskrim, Ipda Bagus Seto menjelaskan mayat Fakhruddin usai ditemukan di hutan, lalu dibawa ke Puskesmas Panyabungan Selatan untuk memeriksa luka.
Langkah autopsi, kata Bagus tidak dilakukan karena pihak keluarga dan warga setempat meminta agar secepatnya dimakamkan akibat bau busuk.
“Tidak dilakukan autopsi, hanya pengecekan luka saja oleh dokter di Puskesmas. Tanda-tanda kekerasan dalam tubuh korban tidak ada ditemukan,” ungkap Bagus mengutip informasi Kanit Reskrim Polsek Panyabungan Selatan. (MN-08).











