OLEH: Ridwan Lubis
Hari ini media massa juga sosial media menayangkan seputar first landing atau uji coba landing pesawat di bandara Abdul Haris Nasution, di wilayah Kecamatan Bukit Malintang Kabupaten Mandailing Natal.
Semula bandara ini banyak cibiran sejak Bupati Madina pertama H. Amru Daulay (periode 1999-2010) memulai rencana dan pembangunannya. Plank merk ditancapkan di pinggir jalan lintas, tepatnya di persimpangan jalan menuju bandara. Sejak itu pula banyak orang menamai bandara ini dengan “Bandara Insha Allah”.
Penamaan ini bisa jadi disebabkan proses dan waktu yang amat panjang. Setelah dimulai Amru Daulay, sudah ada empat orang bupati yang menjabat setelahnya: Aspan Sopian Batubara (Pj Bupati 2010), Hidayat Batubara, Dahlan Hasan Nasution, hingga bupati saat ini Jafar Sukhairi Nasution. Alhamdulillah, di era pemerintahan Sukhairi ini bandara tersebut on the track hingga tuntas pembangunannya. Dan hari ini, Kamis 21 Maret 2024 pesawat pertama mendarat, uji coba landing. Atau tepatnya setelah Mandailing Natal berumur 25 tahun setelah mekar dari Kabupaten Tapanuli Selatan.
Masyarakat patut bersyukur dalam capaian ini, dari insyaallah menjadi ijaballah. Walaupun prosesnya sangat lama tapi tidak lama lagi akan dinikmati bersama. Anak rantau akan lebih mudah tiba ke kampung halaman. Meskipun pengaturan rute penerbangan belum dipastikan. Setidaknya dari Jakarta ke Mandailing Natal waktu tempuhnya akan terpangkas. Andaipun terjadi transit penerbangan, tidak lagi terbuang waktu 12 jam dari Medan ke Panyabungan, atau 8 jam dari Padang ke Panyabungan.
Proses dari awal hingga sekarang pasti banyak. Mulai dari pembebasan lahan yang menelan waktu bertahun-tahun. Seperti pembebasan hutan yang harus minta izin ke pemerintah provinsi Sumut hingga pemerintah pusat. Pun dengan ganti rugi lahan kepada masyarakat. Itu masih soal pengadaan lahan. Belum lagi land clearing, master plan pembangunan, dan sebagainya. Pembangunan run way dan fasilitas pendukung lainnya yang dikebut sejak tahun 2020 lalu.
Saya ingat betul tahun 2020 lalu, bolak balik petinggi kementerian perhubungan RI datang ke Mandailing Natal. Seperti direktir navigasi penerbangan kementerian perhubungan, para deputi, hingga Menteri Perhubungan RI sudah pernah meninjai proyek besar ini.
Begitu juga dengan pejabat Pemerintah Kabupaten Madina. Bupati dan para pejabat terkait bolak balik ke Jakarta meyakinkan pemerintah pusat bahwa bandar udara ini dibutuhkan masyarakat Mandailing Natal. Dan upaya kerja keras itu akhirnya berbuah manis. Semua pihak menjalankan tugas dan fungsi masing-masing untuk mewujudkan pembangunan bandar udara Bukit Malintang yang sekarang berubah nama menjadi bandara Abdul Haris Nasution, menjadi nyata. Termasuk upaya masyarakat sendiri melalui doa.
Bisa dibilang ini salah satu kado indah untuk semua masyarakat dalam memperingati hari jadi Mandailing Natal ke 25 tahun, tepatnya tanggal 9 Maret kemarin. Tentu tidak elok kalau salah satu pihak mengklaim ini jasa satu atau dua orang, satu atau dua kelompok. Tapi ini adalah bentuk sinergitas semua pihak yang patut disyukuri dengan ucapan hamdalah. Alhamdulillahirabbilalamin.
Satu proyek besar hampir selesai. Tentu bandara ini tidak akan beroperasi sebagaimana mestinya apabila tidak ada penggunanya. Pemerintah sudah waktunya menyusun rencana besar untuk mendukung bandara ini agar berjalan sustainable, berkelanjutan. Masyarakat lokal saja tidak mungkin akan memenuhi operasional bandara. Salah satu upaya adalah menjaga iklim investasi dan menumbuhkan investasi. Karena investasi yang baik akan menumbuhkembangkan ekonomi secara universal. Dan investasi akan mendatangkan kemajuan bagi daerah dan masyarakat.
Dan masyarakat juga harus menyiapkan diri menyambut kemajuan itu. Bersiap membekali diri agar bisa berkompetisi dibidangnya.
Penulis adalah pemimpin redaksi mohganews











