Dehumanisasi Pasangan Akibat Bahasa Klinis Populer di Media Sosial

Ruang privat dalam pernikahan kita hari ini sedang dijajah oleh satu hal yang tampak ilmiah namun sesungguhnya destruktif, yaitu psikologi populer berdurasi enam puluh detik. Kosakata klinis seperti gangguan kepribadian narsistik, manipulasi mental, hubungan beracun, hingga ikatan trauma yang dulunya merupakan diagnosis medis bernuansa kompleks di ruang praktik psikiater, kini telah bermutasi menjadi bahasa pergaulan harian. Celakanya, dalam komunikasi relasional, berbagai istilah tersebut tidak lagi berfungsi sebagai alat bantu untuk memahami, melainkan sebagai senjata untuk menghakimi dan mencabut sisi kemanusiaan dari diri pasangan.

Media sosial menciptakan ilusi bahwa menonton konten video singkat setara dengan memperoleh literasi psikologi yang mendalam. Ketika seorang kreator konten tanpa kredibilitas klinis merangkum masalah relasi manusia yang rumit ke dalam format daftar mudah cerna seperti tanda pasangan narsistik atau indikasi pasangan beracun, audiens merasa tercerahkan secara instan. Fenomena ini melahirkan bahaya besar dalam komunikasi interpersonal berupa pemberian label sepihak tanpa analisis konteks yang utuh.

Sebagai contoh nyata, ketika pasangan sepulang kerja ingin diam sejenak karena kelelahan fisik dan mental, tindakan tersebut tidak lagi dibaca sebagai kebutuhan istirahat yang manusiawi. Kacamata psikologi populer di media sosial dengan cepat melabelinya sebagai perilaku menghindar atau pembungkaman emosional. Begitu pula ketika pasangan membela diri saat terjadi argumen, respons tersebut langsung divonis sebagai manipulasi atau sikap defensif yang merugikan. Manusia dengan segala dinamika emosi dan kelelahan hidupnya dipangkas habis, sehingga pasangan tidak lagi dipandang sebagai manusia yang bisa salah, capek, atau terluka, melainkan direduksi menjadi kumpulan bendera merah dan label klinis semata.

Konten racun seputar hubungan begitu mudah viral karena menawarkan kenyamanan psikologis yang adiktif melalui komodifikasi validasi sepihak. Konten yang menyuarakan narasi bahwa penonton adalah korban dan pasangannya adalah pihak jahat memberikan pembenaran yang berbahaya. Ketika seseorang tanpa henti mengonsumsi narasi korban, kemampuan untuk melakukan refleksi diri akan mati total. Ucapan sindiran yang tajam, kebiasaan mengomel, atau sikap merendahkan dari diri sendiri dianggap valid dan wajar, sementara reaksi pasangan atas sikap tersebut langsung dilabeli sebagai tindakan kasar. Ironisnya, algoritma bekerja pada kedua belah pihak, sehingga suami dan istri di ranjang yang sama bisa saling mendoktrin diri bahwa pasangannya adalah pihak yang beracun, mengubah pernikahan menjadi arena perang dingin yang merusak.

Ditinjau dari sudut pandang ekonomi politik media, platform digital tidak dirancang untuk menyehatkan hubungan sosial manusia, melainkan untuk mengejar waktu tonton dan angka interaksi. Emosi yang paling cepat memicu keterlibatan audiens bukanlah kasih sayang atau kesabaran, melainkan kemarahan, rasa takut, dan kecurigaan. Setelah penonton menyaksikan satu video tentang pasangan beracun, algoritma secara agresif akan menyodorkan konten serupa setiap hari. Para kreator memahami betul bahwa kalimat provokatif yang menyuruh penonton segera meninggalkan pasangan akan memancing ribuan komentar serta dibagikan secara luas. Mereka tidak hadir di rumah saat pertengkaran meletus, tidak mengetahui sejarah komunikasi pasangan, dan tidak ikut menanggung trauma psikologis anak yang menyaksikan orang tuanya saling membenci.

Demi menyelamatkan komunikasi interpersonal dari polusi algoritma, diperlukan langkah radikal yang mengembalikan martabat kemanusiaan dalam relasi pernikahan. Diagnosis klinis memerlukan verifikasi profesional melalui dialog panjang dan netral bersama psikolog atau konselor, bukan melalui video vertikal yang pendek. Selain itu, masyarakat perlu mengganti kosakata klinis dengan bahasa komunikasi asertif yang manusiawi, misalnya dengan mengungkapkan perasaan terluka tanpa langsung menuduh pasangan melakukan manipulasi psikologis. Langkah berikutnya adalah melakukan pembersihan linimasa digital dengan berhenti mengikuti akun yang secara konsisten memprovokasi kebencian terhadap pasangan tanpa menawarkan solusi introspeksi.

Saya sebagai dosen media komunikasi dan penyiaran Islam di STAIN Mandailing Natal memandang fenomena ini sebagai benturan serius antara etika komunikasi profetik dan logika kapitalisme digital. Dalam perspektif komunikasi Islam, keutuhan rumah tangga dibangun di atas prinsip tabayyun atau klarifikasi mendalam serta prasangka baik terhadap pasangan, bukan lewat penghakiman sepihak yang dipicu oleh informasi sekilas. Ketika media sosial menyebarkan narasi psikologi instan demi mengejar keterlibatan audiens, ruang komunikasi pernikahan yang seharusnya penuh kasih sayang justru tercemar oleh benih kecurigaan. Literasi media bagi keluarga muslim hari ini tidak hanya menuntut kecakapan teknis dalam memilih konten, tetapi juga kematangan spiritual untuk menyaring informasi yang berpotensi merusak ikatan suci pernikahan.

Oleh karena itu, tanggung jawab kita bersama adalah merebut kembali ruang diskursus publik dari dominasi konten provokatif melalui produksi tayangan maupun narasi edukatif yang menyejukkan. Para akademisi, praktisi penyiaran, serta pasangan suami istri perlu menyadari bahwa pasangan hidup adalah manusia seutuhnya yang membutuhkan dialog terbuka dan ruang maaf, bukan subjek klinis yang layak divonis hanya karena cocok dengan kriteria dalam video viral. Upaya memanusiakan kembali pasangan harus dimulai dari keberanian untuk menaruh gawai, menatap mata pasangan, dan menghidupkan kembali komunikasi langsung yang menghormati martabat kemanusiaan di dalam rumah tangga.

Penulis: Ahmad Salman Farid, S.I.Kom., M.Sos (Dosen STAIN Mandailing Natal)