DEGRADASI EKONOMI SUDAGAR DI MANDAILING

ORANG di Mandailing sejak dulu dikenal banyak pedagang kaya. Bukan sekedar berdagang diputaran Mandailing, tapi setidaknya menguasi daerah Tapanuli dari berbagai hal. Di masa lalu para pedagang ini menurut informasi para keturunannya berdagang sampai ke Kuala Lumpur (Malasyia) juga ke Singapura. Karena itu pakaian berupa baju, celana, sepatu juga tas-tas sejak dulu sudah mengenal kualitas eksport.

Oleh karena itu, Lebaran (Idul Fitri) di masa lalu, terlihat bahwa saat melaksanakan Sholat Sunnat Idul Fitri, sebahgian besar kaum pria yang sudah menikah terbiasa memakai jas. Artinya kebiasan orang Mandailing sholat pakai sarung disetelkan dengan jas serta serban penutup kepala adalah hal lumrah yang sudah hadir jauh di masa lalu. Pakaian terindah dan termahal dijadikan tradisi baik, ketika bertemu dengan bersujud pada Khaliknya. Sejak lama keseharian mayarakat terutama di daerah-daerah pegunungan yang suhu udaranya sejuk pakaian ini lumrah digunakan dalam kesehariannya.

Bagi para ulama bahkan sering setelannya dilengkapi dengan sepatu kulit bermerek. Gagah nian, karena di masa lalu para ulama juga bahagian dari pedagang itu sendiri. Artinya, penyatuan bobot pikir dan bobot iman telah diseimbangkan yang membuat mereka memiliki kadar manusia yang lebih paripurna dari sisi ibadah dan harta karena juga memiliki ilmu pengetahuan yang mumpuni saat itu.

Hal ini sekaligus menggambarkan betapa di masa lalu, bagsa Mandailing ini merasakan betapa bahagianya hidup dengan berkecukupan di masanya.

Pedagang di Mandailing di kenal dengan sebutan ‘Sudagar’ asal kata Bahasa Indonesia ‘saudagar’. Mereka ini tergolong cukup berada atau kaya. Sampai saat ini, boleh dilihat dari kualitas rumah-rumah yang mereka tempati di masa lalu yang saat ini masih berdiri megah dan ditempati keturunannya, malah masih mampu mengimbangi kualitas dan arsitektur deretan rumah-rumah orang kaya baru yang kekinian di Mandailing.

Terkabar, bahwa di masa lalu Sudagar ini saling mengenal dan kompak sebagai satu jaringan meskipun komunikasi tercanggih masih berkirim surat, namun tidak menghalangi komunikasi dan kekompakan dalam harmoni hubungan baik di antara mereka.

Diantara Sudagar sering juga ditemukan yang bukan bahagian dari ulama, tapi mereka tetap menjadi satu kesatuan dengan para ulama. Para tokoh adat (harajaon) juga tidak jarang ditemukan sebagai Sudagar, yang sudah dari sananya memiliki ‘gen’ pemimpin.

Golongan Sudagar dengan tingkat ekonomi yang mapan ini bila ditelusuri membuka berbagai jenis usaha, yang masih bisa dilihat sampai akhir tahun delapan puluhan. Seperti pedagang beras yang menguasai luasan pasar di Wilayah Tapanuli sampai ke Sumatera Timur. Pertinggal besaran kilangnya masih dapat dilihat di daerah Sigalapang Panyabungan.

Tentang ternak, menurut cerita tetua masyarakat yang tinggal di sekitaran Paya Loting, lokasi perkantoran Bupati Madina saat ini, juga merupakan ‘Jalangan ni Orbo’, yakni satu lokasi yang dipersiapkan sebagai tempat kerbau berkembang biak secara alami.

Sebagai ‘Jalangan’, dapat dipahami bahwa lokasi tersebut jauh lebih besar daya tampungnya sehingga diperkirakan memiliki jumlah kerbau sebagai usaha ternak yang fantastis. Kepemilikan lahan ‘Jalangan’ tersebut juga bagian keluarga ulama.

Sampai saat ini, para Sudagar masih banyak yang berkiprah baik pada generasi pertama maupun pada turunannya sedarah dengan pangsa pasar yang mumpuni. Dan banyak pula yang muncul sebagai Sudagar baru.

Karya besar di bidang transportasi dari Bangsa Mandailing juga menunjukkan bahwa kemapanan pikir bisnisnya yang cukup handal. Usaha ini, bertahan sampai saat ini bahkan termasuk posisinya di papan atas yakni PT. ALS. Perusahaan ini adalah bukti sejarah yang menunjukkan betapa hebatnya Bangsa Mandailing mengelola transportasi yang melintas jalan dengan kapasitas antar pulau.

Hanya saja, belakangan ini banyak perubahan pemikiran masyarakat dalam mengelola asset milik keluarga. Bukan salah, namun serasa tetap menjadi ganjalan di proses berpikir secara ekonomi dalam upaya menata Mandailing sebagai daerah otonom yang semakin hari semakin dihadapkan pada kesulitan hidup secara ekonomi. Tentu semua harus ikut serta diberdayakan untuk menatap bangun Madina yang lebih sejahtera.

Sebut saja ASN, yang terdiri dari PNS dan PPPK, menjadi ajang rebutan dari semua lini, baik orang yang mapan hidup ekonominya sampai rakyat yang berkemampuan finansial lemah, dengan menghandalkan berbagai cara untuk ikut masuk di dalamnya. Padahal secara ekonomi terutama bagi kelurga berpendapatan tinggi tentulah gajinya tidak sebanding dengan apa yang mereka peroleh dari usaha yang ada sebagai Sudagar.

Suasana tersebut sepertinya menggambarkan iklim bahwa jenis pekerjaan bergengsi sekaligus juga kehidupan dengan lapangan kerja yang sulit untuk membutuhi kehidupan.

Membaca sebuah buku Pedagang China tentang Membangun Pendapatan Keluarga, ternyata mereka sama dengan kita bangsa Mandailing sangat cinta pendidikan. Hanya saja, bagi mereka belajar lebih penting melebihi pendidikan formal. Maka keturunan mereka selain di sekolah sejak kecil sudah ikut berperan aktif belajar nyata dalam setiap kancah bisnis yang keluarga geluti.

Di usia dini anak-anak sudah diterjunkan belajar nyata secara bertahap pada jenis usaha yang digeluti kelurga, meskipun hanya untuk mengambil atau memindahkan benda-benda kecil, inti pokoknya sudah ikut serta membantu, setidaknya mengelap atau menyeka meja sang ayah atau kakak pun merupakan bagian penting. Tugas yang terlihat kecil tersebut ternyata mampu memantapkan si anak bahwa semua pekerjaan membutuhkan keterampilan sehingga setiap pekerja harus dihormati dan dihandalkan.

Semakin bertambah usia, maka semakin banyak tugas yang diserahkan yang pada akhirnya di usia dewasa, menjamin mereka telah memiliki keterampilan untuk mandiri. Pilihan keluarga adalah buka usaha baru untuk sang anak atau anak meneruskan usaha lama sedang sang ayah buka usaha baru.

Hal ini lah sepertinya salah satu yang penting dikembalikan pada pemikiran kelurga di Mandailing. Karena perpindahan jenis pekerjaan dari keluarga para Sudagar, agaknya turut serta memperburuk dinamika ekonomi rakyat di Mandaling.

Boleh dibayangkan Mesin Besar (Kilang) pengupas gabah padi yang kita sebut di atas berlokasi di Sigalapang, seandainya beroperasi, tentu saat ini akan jauh lebih berkembang, sehingga membuka lapangan kerja yang cukup banyak dari pada masa lalu bagi masyarakat sekitarnya atau setidaknya bagi keluarga.

Dari sisi jaringan, akan membentuk sekian banyak Sudagar Kecil (Pamuge), dengan sekian jenis pekerjaan yang muncul seperti supir, tukang angkut, tukang timbang dll. Paling utama harga gabah yang lebih terkontrol karena pasar yang jaraknya beputar dalam itaran yang biaya transportasinya lebih terkendali.

Demikian juga peralihan transportasi yang saat ini tinggal PT. ALS saja, yang semula ada perusahaan ABS, Seri Bungan, Mawar Selatan dan lainnya, yang sering dianggap kecil, namun sesungguhnya sangat membantu menyediakan lapangan kerja. PT. ALS sampai saat ini menyerap pekerja ribuan yang dominasinya dari Mandailing.

Demikian juga di bidang pendidikan swasta, sebahagian dari Pondok Pesantren bisa bertahan bahkan makin berkembang, meskipun tidak dipungkiri ada yang sebaliknya malah sampai kehilangan jejak fisik keulamaannya. Padahal pondok pesantren, secara ekonomis juga menyediakan pekerjaan yang cukup banyak di dalamnya.

Demikian banyak rentetan usaha yang dirintis oleh para Sudagar dimasa lalu, sayangnya setelah sekolah, oleh turunannya pekerjaan tersebut sudah tidak digeluti, mungkin karena dianggap kurang bergengsi dibanding dengan pekerjaan lain seperti menjadi ASN, Legislatif, karyawan dan lainnya. Padahal jenis pekerjaan ini tidak memberi peluang kerja yang secara langsung bagi keluarga dan tetangga.

Kalau boleh disebut hasil pekerjaan dengan profesi baru setelah megikuti pendidikan yang tinggi bagi sebahagian keturunan Sudagar tidak lebih baik dari pendapatan Sudagar sebelumnya. Artinya terjadi degradasi pendaptan secara perlahan di tingkat keluarga Sudagar.

Senyatanya, sekian banyak keluarga Sudagar di masa lalu yang saat ini generasinya tidak menggeluti usaha leluhurnya yang bila dibandingkan hasil pendapatan dari usaha tersebut jauh lebih tinggi pengahasilannya dan memberi kesempatan peluang kerja dari hasil usaha yang digeluti leluhur sebelumnya. Boleh dilihat pula, sepertinya sudah sulit menemukan besaran Sudagar berbobot pangsa pasar dan wilayah seluas para Sudagar masa lalu disaat ini di Mandailing.

Sekarang, isi artikel ini dapat direnung pada wilayah sekeliling kita, sehingga kita pastikan seberapa banyak sudah peralihan semangat dan kepiawaian Kesaudagaran orang Mandailing semakin hari semakin hilang, tentu juga akan mengurangi kesempatan dan peluang kerja keluarga dan tetangga dalam menata hidup.
Sungguh sisi gengsi tata kehidupan Bangsa Mandailing harus sudah dikembalikan pada hakikat kehidupan manusia yakni berusaha sebanyak mungkin bermanfaat bagi mahkluk lain, terutama manusia sekitar kita.

Oleh: Dr. M. Daud Batubara, MSi