Cerita Warga Tambangan ‘Berdampingan’ dengan Harimau Sumatera

MADINA, Mohga – hari Sabtu (4/11/2023) kemarin, warga Desa Tambangan Tonga kembali gempar karena menemukan jejak kaki yang diduga kuat si raja hutan, Harimau Sumatera.

Jejak kaki si raja hutan ini pertama kali dilihat warga bernama Nasar pada Sabtu pagi sekitar pukul 7.00 Wib. Ketika itu ia dalam perjalanan menuju sawahnya di Tor Siloing, tidak jauh dari Tor Tobat Godang Tambangan Tonga. Nasar lalu memberitahukan jejak harimau itu kepada warga lain yang juga sedang menuju persawahan. Mereka memastikan dari jarak dekat. Setelah memastikan itu jejak harimau, Nasar dan seorang warga melaporkannya ke aparat desa di perkampungan.

Di tempat lain, tak jauh dari lokasi penemuan jejak yang diduga harimau itu, warga bernama Amir Hasan (72) pemilik ternak kambing melaporkan, dua ekor kambing di kandangnya mati mengenaskan. Satu ekor kepalanya putus dan seekor lagi sebagian badannya sudah hilang yang diduga dihabisi binatang buas. Sontak warga pun beramai-ramai menyaksikan kejadian itu.

Setelah peristiwa yang terjadi Sabtu pagi dan menyita perhatian masyarakat, ternyata Amir Hasan dan anaknya bernama Fadly pada sore harinya kembali berangkat ke kebun karet mereka yang tak jauh dari lokasi kandang ternak kambing miliknya.

Tepatnya sekitar pukul 16.00 Wib, Fadly, anak Amir Hasan masih sempat mendengar suara seperti mengunyah. Suaranya cukup keras. Suara mengunyah itu tidak jauh dari penemuan dua ekor kambing yang mati mengenaskan milik ayahnya. Selain suara keras, mata Fadly juga tertuju pada batang pohon kakao bergoyang tak jauh dari tempat dua ekor bangkai kambing yang ditemukan pagi harinya. Tempat Fadly dan ayahnya Amir Hasan berdiri sekitar 30 meter dari suara mengunyah dan pohon kakao yang bergoyang. Mereka yakin binatang buas Harimau Sumatera tersebut berada di balik semak-semak pohon kakao.

Merasa ketakutan dan khawatir bertatap muka langsung dengan si raja hutan, Fadly dan Amir Hasan memilih meninggalkan ladang menuju pulang ke perkampungan.

Potangnai jam 4 leng di kobun i dope au rap ayah, inda sajia dao sian ambeng namate manyogot i adong ubege sora rogop-rogop, dung i ana utuk uida batang ni coklat i, mabiar au rap ayah, mulak hami laluna tu huta. Banama roangku babiat i nai balik ni coklat i mangan ambeng namanyogoti, adong deba taroban ia badannai. Dung kejadian manyogoti leng di kobun ami mandaek gota dohot pature saba, harana porlu epeng ima so mandaek jolo baru mulak, tapi setelah mendengar suara dan melihat pohon kakao itu kami langsung pulang”

“Sorenya sekitar pukul 4, saya dan ayah masih di kebun, tidak berapa jauh dari penemuan dua ekor kambing tadi pagi itu saya mendengar ada suara mengunyah, suaranya keras. Kemudian saya lihat batang pohon kakao juga bergoyang, saya dan ayah merasa takut, kami bergegas pulang, kami yakin harimau itu sedang melahap bangkai kambing yang ditemukan tadi pagi.

“Setelah penemuan kambing mati tadi pagi kami tetap ke kebun untuk mengambil karet hasil sadapan sekaligus mengurus sawah, karena kami butuh uang makanya kami tetap di kebun, tapi setelah dengar dan melihat suara yang kami yakini harimau kami langsung pulang,” jelas Fadly

Keesokan harinya, Minggu (5/11/2023) tim BKSDA Sumut beserta TNBG datang untuk melihat langsung jejak kaki Harimau Sumatera dan dua ekor bangkai kambing yang mati mengenaskan.

Muslih Surbakti dari BKSDA Sumut menjelaskan bahwa benar jejak kaki yang berserakan itu adalah jejak kaki Harimau Sumatera yang diperkirakan masih berumur 2 Tahun dan masih kategori anakan.

“Ini benar jejak kaki HS dari ukuran kakinya ini diperkirakan masih berumur dua tahun, menurut biasanya bobotnya sekitar 80 kg,” kata Surbakti.

Tim BKSDA ,TNBG, dan Pemerintah Desa Tambangan Tonga melakukan perjalanan ke kandang kambing dan lokasi ditemukannya bangkai dua ekor kambing, dan benar bahwa dua ekor kambing tersebut telah hilang hanya menyisakan bangkai seperti gigi dan potongan kecil sisa badan kambing.

“Ilmu saya hanya pengalaman di alam, menurut yang saya temui sebelumnya dilapangan bahwa Harimau Sumatera memiliki kebiasaan menyisakan makanan yang akhirnya dia akan memakan dan mengambil kembali sisa bangkai yang dia makan sebelumnya,” terangnya.

Saat ini warga Desa Tambangan Tonga masih trauma dengan kejadian ini. Karena perkiraan harimau masih berada di perkebunan warga. ***