YMMA Madina Komitmen Kebut Validasi Data Untuk Percepat Eliminasi TBC 2030

MADINA – Yayasan Mentari Meraki Asa (YMMA) menggelar rapat validasi data bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal dan 14 Puskesmas, Kamis (18/12/2025) di sebuah Coffe Shop di Kelurahan Sipolu-polu, Panyabungan.

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Data Global TBC Report 2024 mencatat Indonesia berada di urutan kedua dunia dengan jumlah kasus TBC tertinggi setelah India. Angkanya sekitar 1,09 juta kasus baru dengan 125 ribu kematian setiap tahun. Pemerintah telah memasang target besar, eliminasi TBC pada 2030.

Rahmad Darmawan Daulay, PMEL Staff IU YMMA Madina menegaskan kualitas program TBC tidak bisa dilepaskan dari kualitas data. Ia menyampaikan, data yang rapi dan akurat akan memudahkan evaluasi sekaligus menentukan langkah berikutnya di lapangan.

“Koordinasi antara komunitas, Dinas Kesehatan, dan Puskesmas ini penting. Kita perlu duduk bersama, menyamakan data, berbagi pengalaman di lapangan, sekaligus mencari solusi atas masalah yang masih muncul,” kata Rahmad.

Ia menerangkan, salah satu poin penting yang dibahas dalam rapat validasi itu adalah mekanisme berbagi data dua arah antara aplikasi SITK dan SITB.

“Saat ini, data kasus TBC yang sudah terkonfirmasi secara bakteriologis dikirim setiap hari dari SITB ke SITK. Data tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh tim komunitas, lalu hasilnya dikirim kembali ke SITB,” jelasnya.

Selanjutnya, kata dia, data yang dibagikan berasal dari seluruh fasilitas layanan kesehatan, mulai dari Puskesmas, klinik, rumah sakit swasta dan pemerintah, hingga laboratorium. “Dengan sistem ini, pencatatan dan pelaporan menjadi lebih sinkron dan minim selisih,” ungkap dia.

Selain itu, Rahmad menyebut data yang sudah tervalidasi tersebut kemudian dipakai sebagai bahan diskusi dan evaluasi bersama.

“Targetnya jelas yakni meningkatkan penemuan kasus TBC dan memastikan pasien mendapat pendampingan hingga pengobatan tuntas,” imbuhnya.

Rahmad juga menekankan bahwa rapat seperti ini tidak boleh berhenti di meja diskusi. Setiap bulan akan ada pembaruan data dan tindak lanjut atas kesepakatan yang sudah dibuat.

“Yang paling penting itu konsistensi. Ada update rutin dan ada follow up dari hasil pertemuan sebelumnya,” ujar Rahmad.

Dalam pertemuan tersebut, peserta juga membahas berbagai tantangan di lapangan, mulai dari investigasi kontak yang belum maksimal, kegiatan community outreach, hingga pendampingan pasien agar pengobatan tidak putus di tengah jalan. Dari diskusi itu, disusun rencana tindak lanjut lengkap dengan target waktu yang jelas.

Melalui koordinasi ini, YMMA bersama Dinas Kesehatan dan Puskesmas berharap upaya penanggulangan TBC di Mandailing Natal bisa berjalan lebih terarah dan berdampak nyata, sejalan dengan target eliminasi TBC nasional 2030. (FAN)