MADINA – Sanggar Tympanum Novem menyelesaikan produksi film pendek berdurasi 30 menit berjudul “Aksara Bermata” sebagai bagian dari upaya mendukung pengajuan Aksara Mandailing sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Film tersebut diproduksi bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Utara di bawah Kementerian Kebudayaan.
Penulis skenario Askolani Nasution mengatakan, produksi film ini tidak hanya bertujuan menghadirkan karya sinema, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan dan melestarikan budaya Mandailing kepada khalayak yang lebih luas.

“Ini tidak sebatas film, tetapi bagian dari perjuangan bersama untuk memperkenalkan Mandailing lebih luas,” ujar Askolani, Jumat (8/5).
Film ini disutradarai oleh Ali Fikri Pulungan dan dibintangi Jihan Zumi Aqila yang memerankan Olivia, seorang gadis Belanda yang menelusuri asal-usul keluarganya di Mandailing.
Produksi film ini turut melibatkan guru-guru dari SDN 019 Bonandolok sebagai bagian dari pemeran. Selain itu, kru dan pemain lainnya merupakan sineas lokal yang tergabung dalam Sanggar Tympanum Novem.
Pemilihan sanggar tersebut didasarkan pada rekam jejaknya dalam perkembangan perfilman daerah Mandailing, termasuk produksi film “Biola Na Mabugang” pada 2011 serta puluhan film daerah lainnya.
Film “Aksara Bermata” juga menggunakan empat bahasa, yakni Mandailing, Indonesia, Inggris, dan Belanda. Untuk mendukung publikasi internasional, film ini dilengkapi dengan teks terjemahan berbahasa Inggris.
Kehadiran film ini diharapkan dapat memperkuat proses pengajuan Aksara Mandailing sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke Kementerian Kebudayaan pada tahun mendatang, dengan dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Utara sebagai mitra kebudayaan di wilayah Mandailing Natal. (FAN)











