OLEH : Cipto Halomoan Ritonga S.Pd
Istilah tasawuf belom di kenal pada zaman Rasulullah saw. Tetapi subtansi ajaran tasawuf di ambil dari perilaku rasullullah saw. Sendiri. Ajaran Islam mengenal pembidangan: Akidah , syariah,akhlak. Atau pembidangan Islam, iman dan Ihsan . Dalam perspektif ini maka tasawuf berada dalam bidang akhlak atau Ihsan. Kehidupan masyarakat saat ini nampak tumbuh dan berkembang sifat-sifat materialistik dan hedonisme, gejala ini ditandai dengan menjadikan materi sebagai tolak ukur untuk mencapai kesuksesan dan kebahagian. Masyarakat berlomba-lomba mencari dan mendapatkan materi sebanyak-banyaknya. Dorongan seperti ini berdampak kecenderungan masyarakat bertindak tanpa kontrol demi mendapatkan apa yang diinginkan dengan menghalalkan segala cara tanpa memperdulikan sesama, hilangnya kepedulian sosial, kecenderungan individualistis, materialistis, kapitalis dan hedonis.
Tasawuf dalam kehidupan sosial mempunyai pengaruh yang signifikan dalam menuntaskan permasalahan dan penyakit sosial yang ada, amalan yang terdapat dalam ajaran tasawuf akan membimbing seseorang dalam mengarungi kehidupan dunia menjadi manusia yang arif, bijaksana dan profesional dalam kehidupan bermasyarakat dan memberikan nilai-nilai spiritual dan sosial yang jelas. Bentuk ajaran yang ditawarkan untuk membersikan jiwa dan penyakit sosial tersebut dalam ajaran tasawuf dapat dilakukan dengan melalui tiga tahapan yaitu Takhalli membersihkan diri dari sifat-sifattercela, dari maksiat lahir dan maksiat batin yang mengotori hati manusia seperti iri dan dengki, buruk sangka, sombong, membanggakan diri, pamer, pemarah dan sifat-sifat tercelah yang lain. Sehingga ada beberapa cara untuk membersihkan diri diantaranya Tahalli mensucikan atau menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, dengan ta’at lahir dan taat batin. Tajalli terungkapnya nur ghaib untuk hati. Kecenderungan manusia untuk mencari kembali nilai-nilai Ketuhanan merupakan bukti manusia pada dasarnya sebagai makhluk rohani dan makhluk jasmani. Sebagai makhluk jasmani manusia butuh sesuatu yang bersifat materi, namun sebagai makhluk rohani manusia membutuhkan sesuatu yang bersifat immateri atau rohani. Hal ini sesuai dengan orientasi ajaran dalam tasawuf yang lebih menekankan pada aspek rohani sesuai dengan fitrah manusia yang pada dasarnya cenderung bertasawuf (Asmaran, Pengantar Studi Tasawuf ).
Memahami dan menjelaskan pengertian tasawuf merupakan hal yang amat sulit, sedemikian besar dan luasnya sesuatu yang disebut tasawuf itu, sehingga seperti gambaran orang buta yang menjelaskan seekor gajah menurut bagian yang disentuhnya. Kemungkinan yang bisa dilakukan hanya memberi ciri-ciri yang menunjukkan pada istilah tersebut meskipun tidak utuh ( kitab Ihyaulumiddin jilid 3 cet Al haromain). Begitulah dalam kehidupan ini mengimplementasikan tasawuf ini sangat luas sehingga menurut dia sendiri amalan dia itu sudah termasuk tasawuf maka untuk menyangkal itu semua kami menguraikan beberapa pendapat ulama tentang tasawuf diantaranya ialah : Imam Zakaria al-Anshari (852-925 H) mendefinisikantasawuf sebagai cara untuk mengajarkan bagaimana mensucikan diri, meningkatkan akhlak serta membangun kehidupan jasmani dan rohani untuk mencapai kehidupan hakiki. Sedangkan menurut Imam Al-Junaidi Al-Baghdadi (wafat 289 H) tasawuf adalah proses membersihkan hati dari sifat-sifat kemanusiaan (basyariyah), menjauhi hawa nafsu, memberikan tempat bagi sifat-sifat kerohanian, berpegang teguh pada ilmu kebenaran, mengamalkan sesuatu yang lebih utama berdasarkan keabadiannya, memberikan nasihat kepada sesama, benar-benar menepati janji kepada Allah SWT dan mengikuti syariat ajaran Rasulullah Saw.
Di Indonesia istilah ” tasawuf modern ” ini pertama kali muncul sekitar tahun 1939 . Berkaitan dengan terbitnya sebuah buku karangan Buya Hamka , tasawuf modern .Buya Hamka mengakui bahwa judul buku tasawuf modern itu bukan berasal dari dirinya. Buku yg merupakan kumpulan tulisan Buya Hamka yg mulai di muat sejak pertengahan tahun 1937 hingga tahun 1938 di majalah pedoman masjarakat itu di berinya judul “Bahagia” . Akan tetapi, atas permintaan khalayak pembaca tulisan tulisan, Buya Hamka Yg menerangkan “bahagia” itu di buku kan dan di beri judul “tasawuf modern” . Buya Hamka memaknai tasawuf sebagai upaya memperbaiki budi dan men-shofa-kan(membersihkan) batin ” . Secara sederhana, beliau pun mendefinisikan tasawuf modern sebagai keterangan ilmu tasawuf yg di modern. Point yang ingin disampaikan Hamka kepada masyarakat modern yang tengah mengalami degradasi ruh spiritualnya agar membersihkan hatinya dari penyembahan selain Allah yang maha Esa. Biarkan didalam hatinya hanya Allah semata, agar lahir tindakan social ang mencerminkan ketenangan hidup, keyakinan dan kedamaian hati yang senantiasa menyertainya dalam segala aktivitas kehidupanya.
Penulis adalah mahasiswa pascasarjana program PAI UIN Bukit Tinggi












