Sekilas tentang Pahlawan Nasional dari Mandailing, Jenderal Besar AH Nasution

MADINA| Siapa yang tak mengenal Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, jenderal besar dengan pangkat bintang lima di pundaknya itu adalah tokoh militer yang tidak hanya dimiliki Indonesia saja, tetapi dunia mengenal dan mengakui kehebatan Abdul Haris Nasution sebagai tokoh militer dengan karyanya Perang Gerilya dan strategi perang maupun kecerdasan berpikirnya sehingga mampu mengukir sejarah dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan NKRI

Pak Nas, panggilan akrabnya, lahir dan besar di sebuah rumah kecil yang jaraknya sekitar 50 kilometer dari Panyabungan pusat Kabupaten Mandailing Natal (Madina) atau sekitar 10 kilometer dari pasar Kotanopan. 

Pak Nas ternyata dilahirkan di tengah-tengah kehidupan dan keluarga yang cukup sederhana di bagian utara Sumatera tepapatnya di suatu desa tua yakni desa Hutapungkut jae kecamatan Kotanopan, beliau dilahirkan di dalam rumah berukuran 5×4 meter rumah panggung beratapkan Ijuk atau pelapah pohon enau yang beberapa tahun terakhir ini atapnya diganti dengan atap seng, Pak Nas lahir pada tanggal 3 Desember 1918 dan meninggal dunia pada 6 september tahun 2000.

Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, Pahlawan Nasional merupakan putra kedua dari pasangan H Abdul Halim Nasution dengan Hj Sahara Lubis, dia memiliki 6 saudara yang paling sulung yakni Hj Sofiah Nasution, lalu anak ketiga yakni Hj Nafisah Nasution, Hj Syakdiyah Nasution, H Abdulhadi Nasution, H Musa Nasution, dan terakhir Hj Mardiyah 

Pak Nas memiliki dua orang putri yakni Heriyanti Sahara Nasution, dan Adek Irma Suryani Nasution yang menjadi salah satu korban saat tragedy berdarah pada peristiwa penghianatan Partai Komunis Indonesia (PKI) tanggal 30 Sepetember tahun 1965 atau dikenal gerakan PKI, sedangkan Heriyanti saat ini disibukkan dengan mengurusi Yayasan Adek Irma Suryani di Jakarta. 

Abdul Haris Nasution semasa kecilnya sudah terlihat dan diketahui sebagai anak yang cerdas dan ulet serta berkeperibadian tak banyak bicara dan kalau bicara selalu bermakna, sesekali bercanda dengan anak-anak yang lain.

Pak Nas menempuh pendidikan pada masa Belanda di Kotanopan sama dengan anak-anak lainnya, namun ada sedikit berbeda dari kebiasaan anak-anak seusianya. pak Nas menjalani pendidikan sekolah dasar tidak sampai 6 tahun, karena dia sekali naik kelas bisa melangkahi kelas yang lain, itu disebabkan kepintaran otaknya yang beda dengan murid yang lain.

Apabila ditinjau dari kehidupan dan ekonomi keluarga, orangtua Pak Nas cukup sederhana karena ayahandanya hanya sebagai pedagang garam di pekan-pekan tak jauh dari desa tempat tinggalnya, sedangkan Ibundanya hanya sebagai Ibu Rumah Tangga dan juga memiliki sebidang tanah persawahan di desa itu juga
 
Adalah H Mahyuddin Lubis (86) yang pernah diwawancarai penulis pada November tahun 2011 yang lalu. Mahyuddin Lubis sempat mengetahui sedikit mengenai kehidupan Pak Nas, Mahyuddin yang familiar disapa dengan nama ‘Hidup’ terlihat sudah tua renta saat ditemui wartawan di rumah kecilnya tepat di belakang rumah Pak Nas, Mahyuddin sangat riang dan gembira sambil matanya terlihat berlinang ketika diajak berbicara seputar Pak Nas

Rumah kecil berukuran 5×5 meter tempat lahir dan dibesarkannya Jenderal Besar Abdul Haris Nasution

Tidak Banyak Bicara Tapi Periang
 
Dia bercerita bahwa usia Pak Nas masih jauh di atasnya, tetapi dia masih ingat persis Pak Nas sering bercanda dengan anak-anak di bawah usianya, dengan berbagai cara Pak Nas selalu membuat suasana riang dengan anak-anak di bawah umurnya,

”Saya masih ingat beliau sering membuat riang anak-anak yang sedang asyik bermain dan terkadang juga bercanda, misalnya saya waktu itu asyik dengan gerobak dorong kemudian saya waktu itu terjatuh, lalu beliau ketawa sambil bilang tau gak kenapa kamu terjatuh, saya jawab tidak, lalu dia bilang karena badan saya gemuk dan hitam lalu dia ketawa terbahak-terbahak dan semua anak-anak yang lain ikut tertawa,” kisah Mahyuddin sambil sesekali meangis mengenang almarhum Pak Nas yang dikenal sebagai orang taat beragama dan selalu jadi contoh untuk anak-anak lain di desanya itu.

selain alim, Pak Nas juga orangnya pintar dan cerdas sehingga menempuh pendidikan dasar tak sama lamanya dengan murid lain, dan setelah dia menamatkan sekolahnya di Kotanopan pak Nas melanjutkan pendidikannya ke Bukit tinggi atas usul gurunya.

”Saya masih pernah mendapat cerita kalau pak Nas tak lama di Bukit tinggi hingga akhirnya masuk ke sekolah militer, dan setelah masuk ke Militer beliau jarang sekali pulang,” kenangnya.

Pak Nas Tidak Suka Pemberian Orang Lain

Selain H Mahyuddin, wartawan juga menemui Yusuf Nasution salah seorang cucu dari adik Pak Nas yakni Abdul Hadi yang tinggal di Tanjung morawa Medan, sedangkan Yusuf saat ini yang menjaga rumah milik orangtua Pak Nas.
Yusuf bercerita bahwa keperibadian kakeknya yang satu ini kurang suka menerima pemberian orang lain dan kalau bisa dia yang memberi, hal ini terbukti pada sekitar tahun 1969 atau setelah usai penumpasan gerakan PKI di tahun 1965, tanpa sepengetahuan Pak Nas, Pemerintah sempat membangun rumah buat keluarganya di desa Hutapungkut jae rumah semi permanen berukuran sekitar 10×7 meter (persis di depan rumah tempat lahir Jenderal AH Nasution), namun kata Yusuf dari cerita orangtua dan kakeknya, Pak Nas saat mengetahui keberadaan rumah bantuan pemerintah tersebut secara tegas menolak pemberian rumah itu, dan sebagai solusinya Pak Nas membayarnya dengan cara mencicil dari uang pensiunan beliau,

Rumah bantuan dari Pemerintah di kampung halaman Jenderal Abdul Haris Nasution yg akhirnya ditolak AH Nasution dan memilih mencicil dari uang pensiunannya.

”Waktu itu, Ompung kami di kampung (adik jenderal AH Nasution) didatangi pemerintah membangun rumah, dan setelah rumah dibangun ompung Pak Nas tau, lalu dia langsung pulang kampung memeriksanya dan memutuskan untuk mengganti uang pemerintah dengan cara mencicil dari uang pensiunannya, karena beliau memang tak suka menerima pemberian dari orang lain, sampai beliau tutup usia saja tak ada satupun hartanya di kampung kami ini,” ujar Yusuf
 
Pak Nas Jarang Pulkam

Masih diceritakan Yusuf, ada hal yang belum terjawab dan diketahui pasti kenapa selama Pak Nas bertugas di militer jarang sekali pulang kampung, apakah karena Pak Nas menikahi seorang putri Sunda keturunan Jerman ataukah memang padatnya tugas yang memaksa Pak Nas meninggalkan kampung kelahirannya, ternyata dari cerita orangtua dan kakek Yusuf kepadanya, Pak Nas jarang pulang kampung karena tugas negara yang selalu melilitnya,

”Saya juga tidak bisa pastikan, namun dari cerita orangtua dan kakek saya atau adik kandung dari beliau, Pak Nas tidak bisa pulang kampung karena selalu dicekal oleh Pak Harto yang saat itu sebagai Presiden RI, sempat keluarga menerima surat dari beliau tidak bisa pulang karena tugas negara yang cukup berat sehingga tak bisa ditinggalkan. Ompung kami hanya bisa berkirim surat karena pak Nas orang yang dibutuhkan negara saat itu,” tuturnya

Pak Nas juga diceritakan memiliki pribadi yang sangat bertanggung jawab dengan tugas, bahkan meskipun tidak sempat dekat dengan keluarga, Pak Nas selalu memberikan nasihat kepada adik-adiknya dan keluarganya untuk selalu disiplin dan tanggungjawab.

”Itulah salah satu ajaran beliau kepada keluarga kami, dalam mengabdi tidak boleh mencari balas jasa, biarlah itu dinilai sebagai Ibadah kepada Ilahi, makanya tak ada seorangpun diantara kami keluarganya yang bisa mengikuti jejak beliau karena tidak pernah diberikan dukungan untuk menjadi seperti dia, beliau hanya berpesan untuk selalu berbuat baik dan jangan suka menerima imbalan, itu saja pesannya,” pungkasnya

Dia juga bercerita bahwa keluarganya tidak pernah merasa memiliki saudara atau keluarga yang memiliki nama besar, artinya dari kebesaran nama kakeknya itu dia tak pernah memiliki kelebihan baik dari siapa saja begitu juga dengan Pemerintah,

”Soal bantuan seperti yang saya sampaikan tadi, termasuk bantuan dari Pemerintah, kami tak diizinkan menerima pemberian dari siapa saja, kami hanya mencari nafkah dengan kemampuan kami sendiri, itu memang amanah dari beliau, beliau juga tak pernah merasa besar meski telah banyak berbuat demi bangsa dan negara kita,” tutupnya. (Ridwan Lubis/dokumen November 2011)