Puluhan Hektar Lahan Pertanian di Panyabungan Utara Terendam Banjir

MADINA– Kurang lebih seluas 40 Hektar (Ha) lahan pertanian warga di Desa Huta Damai dan Desa Kampung Baru, Kecamatan Panyabungan Utara, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) terendam banjir akibat Bondar (Parit) Saba Lombang meluap.

Lahan pertanian dua desa itu sudah tidak bisa dimanfaatkan kurun waktu dua tahun belakangan ini. Lahan persawahan, kolam ikan dan lahan perkebunan milik warga terendam banjir lebih kurang lebih 1 meter.

Parit itu dimasuki material pasir, batu dan sampah dari sungai yang berada di wilayah Bandara AH Nasution, Kecamatan Bukit Malintang.

Petani yang ditemui di lahan persawahan Huta Damai bernama Hasudungan Pardede mengaku lahan pertanian sudah dua tahun tidak bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Parahnya, Hasudungan mengaku setengah dari penduduk Huta Damai dan Kampung Baru sudah kehilangan pekerjaan.

“Beginilah kondisinya, kami tidak bisa lagi menanam padi karana lahan kami tergenang air. Parit tersumbat disebabkan material dari sungai di wilayah Bandara Abdul Haris Nasution,” kata petani berusia 57 tahun itu, Minggu (4/8/2024).

Hasudungan menerangkan, semenjak lahan pertanian digenangi air, kebanyakan petani sudah beralih ke pekerjaan lain seperti kuli bangunan, menangkap ikan di lahan pertanian mereka itu untuk dijual lalu beli beras.

“Berat sekali rasanya kalau kondisi seperti ini terus menerus dipertahankan. Kami sangat berharap pemerintah peduli akan nasib kami ini,” keluhnya.

Kepala Desa Huta Damai, Albert P Sihombing membenarkan pernyataan warganya itu. Albert juga mengaku sudah menyurati Bupati Madina HM Ja’far Sukhairi Nasution untuk memohon petunjuk atas penderitaan petani.

“Efek yang ditimbulkan bencana ini sangat merugikan masyarakat, kami tidak sanggup lagi untuk memulihkannya. Mohon kepada Bapak Bupati, Ibu Wakil Bupati agar ini dicarikan solusi terbaik,” ujar Albert.

Disinggung apakah pihak pemerintah desa pernah mengajukan keberatan kepada pihak Bandara, Albert mengakui pihak bandara dahulu pernah merespon baik dan bersedia memberikan bantuan untuk pengerukan dengan cara gotong royong.

“Kalau pihak bandara sudah pernah kami temui, waktu itu dibantu untuk pengerukan sungai. Tapi itu saja kan tidak cukup, setelah material diangkat, tidak lama akan masuk lagi material yang baru. Ini harus dicarikan solusi agar peristiwa ini tidak terulang dan warga bisa nyaman bertani,” ungkapnya.

Terakhir, Albert memohon bantuan kepada Pemerintah baik itu Pemerintah Pusat, Provinsi atau Kabupaten untuk pembukaan parit baru.

“Menurut kami solusinya adalah penambahan parit agar material yang masuk ke parit itu berbagi, tidak semuanya ke Bondar Saba Lombang saja,” tutupnya. (FAN)

News Feed