Perpustakaan Mini Gratis Karya Putra Madina

MohgaNews|Madina – di tengah pandemi corona virus disease (Covid-19) semua anak-anak diharuskan belajar dari rumah, banyak orangtua yang kewalahan mengurus belajar anaknya.

Situasi tersebut dimanfaatkan oleh Muhammad Poso (25) warga Desa Sibanggor Julu Kecamatan Puncak Sorik Marapi Kabupaten Mandailing Natal (Madina). pria yang baru selesai kuliahnya dari Universitas Negeri Medan itu merasa prihatin dengan anak-anak di desanya yang tidak lagi terurus pembelajarannya. Sehingga ia memutuskan membuka perpustakaan mini (Miniper) sejak 18 April yang lalu.


Kepada Mohga, Muhammad Poso menerangkan metode pembelajaran di perpustakaannya. Untuk hari Senin, Selasa, dan hari Kamis kegiatannya adalah Tadrus buku atau membaca dan memahami isi dalam buku.

Kemudian hari Rabu English camp, dan Jumat menggambar serta mewarnai, dan untuk hari Sabtu kegiatannya adalah Game Education.
Muhamad Poso Pendiri Perpustakaan Mini salah satu alumni dari Universitas Negeri Medan jurusan Fisika menjelaskan tujuan MiniPer untuk komunitas yang bergerak bertujuan meningkatkan literasi anak bangsa.

“Yang mendirikan MiniPer (Perpustakaan mini) ini adalah komunitas The Power of Different(Kekuatan yang berbeda) yang bergerak untuk meningkatkan literasi anak bangsa, dan berlokasi di desa Sibanggor. Saya Mengelola perpustakaan ini bekerja sama dengan pemuda setempat,” kata Poso yang merupakan lulusan fakultas fisika itu.

Ia bercerita, membuka MiniPer ini berawal dari keprihatinan melihat anak-anak kecil di lingkungan kampung halamannya nyaris tidak pernah membaca buku diluar buku sekolah semenjak adanya pandemi virus corona.

“Maka kami berinisiatif untuk mengumpulkan buku bacaan anak-anak dan remaja yang kemudian kami sajikan secara sederhana. Keprihatinan juga muncul ketika melihat kenyataan sebagian besar orang tua disini adalah buruh tani yang asing dengan dunia pendidikan dan berpenghasilan di bawah rata-rata,” ungkapnya.

Pria Berhati Mulia itu mengatakan akan terus berusaha mengembangkan perpustakaan mini di desa lainnya khususnya daerah Madina.

“kita punya mimpi besar untuk membangun perpustakaan mini di beberapa desa untuk program jangka panjang serta bercita-cita menjadikan Madina sebagai kabupaten literasi di Indonesia,” harapnya.

Ia juga juga menuturkan tidak digaji bahkan untuk ikut gabung terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

“kami tidak digaji dan anak-anak juga tidak dikutip biaya, karena tujuan kita membuka ini untuk meringankan beban orang tua akibat covid-19 ini. Saya merasa sedih kepada anak-anak yang diliburkan, makanya kita ajak mereka kembali membuka buku,

“Untuk saat ini murid sudah mencapai 100 orang, Alhamdulillah mereka senang membaca, kita mencerdaskan lewat buku,kita akan ajari sampai yang mereka baca bisa dipahami dan buku sudah mulai lengkap di perpustakaan. Tentu kita berharap pemerintah daerah agar ikut berperan dalam memberikan dukungan ke perpustakaan mini ini dengan menambah judul buku yang dibutuhkan. Semoga program ini bisa meningkatkan literasi bangsa,” harapnya lagi. (MN-08)