MADINA, Mohga – majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mengeluarkan beberapa pendapat tentang hewan yang tidak boleh digunakan dalam berqurban.
Belakangan ini, Kabupaten Madina telah dimasuki Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak sapi dan kerbau. Bahkan, hingga hari ini, sesuai dengan data Dinas Pertanian, 12 ekor sapi telah terindikasi wabah PMK yakni di Desa Rumbio dan Desa Gunung Tua Jae.
Ketua MUI Madina, H Muhammad Nasir LC menerangkan, di dalam hadits tentang kategori tidak layaknya hewan digunakan untuk qurban ada 4 macam jenis. Namun, semua kategori tersebut disimpulkan, bahwa segala penyakit yang mengurangi kapasitas daging pada hewan tidak boleh digunakan untuk hewan qurban.
”segala bentuk penyakit yang mengurangi timbangan daging pada hewan, tidak sah digunakan untuk hewan qurban. Kedua, ketika binatang qurban pengidap penyakit yang bisa membahayakan kepada yang mengonsumsi serta ketika dikatakan bahwa lembu atau kerbau itu gila,” jelasnya, Kamis (2/6/2022).
Namun, kata Nasir, untuk secara detail penyakit yang ada pada hewan harus diteliti dan dikaji secara rinci dengan tim kesehatan hewan, baru pihak MUI bisa mengambil sikap.
Nasir juga mengungkapkan, apabila berbicara soal hewan qurban tantang kajian fiqih, maka menjadi syarat panitia qurban harus menyertakan surat sehat hewan dari dokter yang ahli.
”surat kesehatan hewan itu wajib ada jika kita libatkan pada kajian fiqih. Panitia qurban harus memperlihatkan kepada peserta qurban, apabila nantinya pas mau penyembelihan hewan itu mengidap penyakit, maka panitia wajib mengganti dengan hewan yang sehat,” imbuhnya.
Berdasarkan temuan di Desa Rumbio Kecamatan Panyabungan Utara, 2 ekor sapi milik peternak mandiri terindikasi wabah PMK. Pemilik ternak itu mengaku sapi yang ia pelihara tersebut semakin kurus, bahkan turun sekitar 30 kilogram dalam satu hewan.
Kepala Dinas Pertanian, Siar Nasution SP melalai Kepala Bidang Peternakan, Franky Hidayat membenarkan hewan sapi terindikasi wabah PMK di Rumbio tersebut semakin kurus.
”PMK ini kan mengurangi nafsu makan pada hewan, otomatis berat badannya semakin menurun. Benar, yang di Rumbio sapi nya sudah kurus,” terangnya.
Franky menerangkan, apabila pengobatan pada hewan terus dilakukan, maka nafsu makan semakin meningkat.
”kita terus antisipasi penyebaran PMK ini, beberapa hewan sapi yang terjangkit sudah mulai membaik setelah dilakukan penyemprotan dan penyuntikan vitamin dan antibiotik,” tutupnya. (MN-08)












