PDAM Tirta Madina Jawab Keluhan Warga, Banyak Fasilitas Rusak

MADINA, Mohga – Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Madina, Monang Hasibuan memberikan keterangan tentang beberapa keluhan masyarakat yang berlangganan air dengan PDAM, Selasa (19/7/2022).

Monang menjelaskan, kondisi pompa air milik PDAM Tirta Madina yang berada di Kelurahan Dalan Lidang berjumlah 4 pompa dan sudah termakan usia. Akibatnya, penghisap air menggunakan pompa kurang maksimal sehingga pembagian air kepada pelanggan dilakukan secara bertahap.

Monang juga menceritakan, pompa air yang bisa digunakan saat ini hanya 2 pompa, sedangkan pompa lainnya sudah rusak. Pompa tersebut sudah tidak bisa diperbaiki karena produk yang lama dan alat-alat sulit didapat.

Selain terkendala pada pompa air, saluran pipa masih menggunakan pipa lama yang sudah berumur 15 tahun lebih sehingga tingkat kerusakan sangat tinggi.

”keluhan-keluhan masyarakat tentang air dari PDAM macet kita akui itu benar. Kendalanya pertama adalah masalah pompa air kita di Danau Siombun Dalan Lidang, pompa ini seharusnya bisa beroperasi empat unit dan sekarang yang bisa beroperasi hanya dua unit,

”kenapa demikian, kondisi pompa yang sudah lama lebih kurang dari 15 tahun belum ada peremajaan ataupun penggantian yang signifikan. Pompa ini termasuk masih model lama sehingga kita perbaiki pun sparepart nya sulit untuk didapat,” jelasnya.

Dengan keadaan pompa yang kurang, otomatis pengisapan air berkurang. Sementara penggunaan pompa tersebut masuk dataran tinggi mulai dari Dalan Lidang, Desa Parbangunan dan Perumahan Cemara sehingga dibutuhkan tenaga yang kuat.

”sudah berjalan enam bulan kita mengambil kesimpulan membagi waktu seperti memasukkan air ke daerah Parbangunan mulai dari pukul 05.00-14.00 Wib, kemudian daerah perumahan Cemara mulai pukul 14.00-05.00 Wib. Ini kendala sehingga kondisi air tidak sama-sama masuk dengan keterbatasan kondisi pompa,” ungkapnya.

Sementara untuk wilayah pasar lama Panyabungan hingga ke Desa Gunung Tua, PDAM Tirta Madina menggunakan tenaga gravitasi yang bersumber dari sungai Aek Mata dan Gunung Tua.

Monang menyebut, Kendala gratifikasi tersebut bergantung pada cuaca. Contohnya seperti sekarang musim kemarau air mengecil sehingga tenaga yang masuk ke pipa itu sangat sehingga dorongan air otomatis sangat kecil juga.

”misalnya kalau banjir ataupun hujan, air tersebut akan membawa pasir dan warna air berlumpur. Sementara bak kita di atas ataupun disumber itu belum standar atau belum cukup kolam-kolam untuk penyaring,” imbuhnya.

Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, Monang mengaku tujuh tahun belakangan ini Pemda Madina belum pernah memberikan penyertaan tambahan modal sehingga perbaikan-perbaikan yang memerlukan dana yang agak besar belum bisa dilaksanakan.

”kita sangat mengharapkan bantuan dana tersebut agar dengan tuntutan masyarakat bisa kita capai peningkatan pelayanan prima termasuk kondisi air yang lancar, bersih hingga bisa digunakan sebagaimana mestinya,” terangnya.

PDAM Tirta Madina hingga saat ini mempunyai langganan sebanyak 5.200 pelanggan yang berada di Kecamatan Panyabungan, Kelurahan Simangambat (gravitasi), Kecamatan Natal (gravitasi) dan Kotanopan (gravitasi). Namun yang aktif hanya sekitar 4.000 pelanggan.

Tarif pembayaran air, Kata Monang sesuai dengan peraturan Bupati merujuk pada peraturan Gubernur sesuai dengan pemakai bersifat sosial seperti masjid dikenakan tarif Rp 500 perak perkubik.

Sedangkan, untuk penggunaan rumah pribadi berukuran 5×7 meter dan 6×10 meter dibandirol harga Rp 700 perak perkubik.

”tarif harga sesuai dengan pemakaian pelanggan,” tutupnya. (MN-08)