OLEH: RINA YOULIDA T
Tanah Mandailing yang dikenal subur memberi berkah bagi mudahnya beraneka tanaman tumbuh.
Perkampungan di Mandailingpun biasanya dikitari perkebunan rakyat yang masih di dominasi tanaman fenomenal yang sudah sejak lama seperti karet, kopi dan coklat. Untuk daerah Pesisir Baratnya didominasi tanaman sawit yang membentang disepanjang pantai yang lebih luas dikuasai cukong-cukong berkelas, sedang sebahagian kecil dimiliki rakyat tempatan.
Selain kebun, sawahnya juga cukup menjanjikan suburanya dengan hamparan padi yang saat menguning bak gelombang laut bila sesaat diterpa angin. Sisi hutannya ada Taman Nasional Batang Gadis yang patut dijadikan ikon kekayaan hutan Mandailing dengan aneka satwa liar yang dilindungi, baik berupa flora maupun fauna. Tentulah taman hutan ini sangat menarik bagi masyarakat perkotaan, dan memiliki daya tarik khusus pula bagi pemerhati alam dan lingkungan karena keasrian hutan ini.
Jangan ditanya lagi soal budaya. Siapalah rasanya yang tidak tercengang, bila menikmati seni musik dengan instrument Gordang Sambilan bila sudah dimainkan. Sembilan gendang mirip beduk dengan ukuran berbeda, terasa sakralitasnya mendentum ke dada dan menghenyak pikiran seakan si Baso itu benar adanya dan sedang berkeliaran disekitar penonton.
Para remaja yang disebut Naposo Nauli Bulung, juga masih banyak yang mampu dengan apik untuk menari yang disebut Tortor. Kalau orang berusia setengah abad, hampir bisa dipastikan tidak kuat rasa untuk tidak turun main bila mendengar Gondang Topap pengiring Tortor mulai dimainkan.
Bangsa ini memiliki pakain khas berupa Ulos tenun (kain panjang khas) dengan corak khas sendiri. Ini merupakan bagian dari peralatan adat dan juga pakain adat. Saat menjadi Raja-Ratu Sehari, Ulos dipakai dengan Bulang (Mahkota Pengantin Wanita) dengan Ampu (Mahkota Raja), yang sudah mulai digemari orang di manca negara karena benar terlihat khas, sakral, indah, megah dan serasi.
Kekuatan budaya dalam kehidupan harian pada pencaraian nafkah masih banyak yang dipelihara untuk memudahkan hidup seperti marsialap ari. Memang indahlah rasanya bila kearifan Dalihan Natolu sebagai tatanan hidup menjaga hubungan sosial mereka.
Namun ada satu budaya Bangsa Mandailing yang cukup menarik, yakni kebisaaan Marlopo. Marlopo (minum di kedai kopi) yang khusus dilakukan bagi kaum bapak sampai larut malam. Tradisi ini masih berlangsung tak tergerus oleh waktu. Menjamurnya kafe-kafe yang sedang trend untuk tempat nongkrong dan bersosialisasinya kaum remaja dan dewasa juga tidak mampu menyingkirkan Lopo (kedai kopi konvensional).
Banyaknya suguhan jenis menu makanan dan minuman kafe, yang terkadang sulit diterima bibir dan lidah karena tak mampu mencernanya, toh juga tak mampu menggerus Lopo. Sangkin banyak dan anehnya sebutan menu sampai tak mampu menyebutkan namanya yang asing dengan bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh kaum milenial. Padahal terkadang sebahagian menunya hanya poles sedikit dan diberi nama baru. Sesuai namanya yang sulit diucapin, sebanding pula mahal harganya, sehingga terkesan hanya kaum berkelas saja yang bisa mampir disana.
Berbeda dengan lopo yang selalu begitu dari zaman ke zaman, paling dimodernisasi dengan dilengkapi televisi LED dengan tayangan yang bervariasi dengan menggunakan teknologi parabola atau internet wifi. Modernisasi sebagai tuntutan zaman ini mampu memancing para pengunjung lopo agar lebih ramai walau hanya disuguhi bermacam roti sobek dan kerupuk-kerupuk produk lokal dengan harga murah agar terjangkau. Seduhan kopi konvensional terkadang bahan kopinya sudah diberi campuran, hingga bisa terjual dengan harga dua sampai tiga ribuan secangkir.
Jangan ditanya nikmatnya, karena mampu memberi rasa bahagia bagi para penikmatnya. Sepertinya marlopo bukan hanya sekedar tradisi, tapi seperti ritual sosial, sangkin pentingnya selalu harus hadir untuk menikmati secangkir kopi. Kenapa seperti jadi ritual, ternyata bukan hanya tempat menikmati kopi saja fungsi lopo namun ada banyak hal keberadaan lopo. Bisa menjadi sarana pengetahuan juga informasi yang berkembang secara up to date dan viral, baik ekonomi, kesehatan bahkan politik pun bisa diperoleh di lopo. Belum lagi candaan garing yang dalam Bahasa Mandailing disebut “marsiirsakan” menjadi salah satu sebab lopo selalu dirindukan.
Tak terkecuali, di lopo desa Gunung Pambiar, sebuah lopo sederhana beratap daun rumbia dengan luas hanya sekitar 3 x 5 meter dengan dinding papan sempengan sisa bangunan rumah warga. Dindingnya setinggi pinggang, tiangnya sudah mulai sedikit meleyot miring menadakan sudah usia tua dan terkesan tidak kokoh lagi namun masih dapat terus bertahan dari terpaan angin dan hujan yang deras.
Lopo yang terletak di persimpangan jalan menuju persawahan warga membuat lopo ini tidak pernah sepi disinggahi petani yang singgah membeli bekal ke sawah atau beristirahat sejenak melepas lelah hingga saat pulang dari sawah, yang menyempatkan diri singgah sekedar bersapa dengan penghuni komunitas lopo.
Makin menarik pula, ketika saat sesaat terlihat fenomena lain dan aneh di lopo. Ada seseorang pengunjung yang tidak dikenali wajah dan asal muasalnya, apalagi namanya. Kumis tipis dengan senyum manis selalu disunggingkan, yang membuat lesung pipinya lerlihat jadi lebih jelas. Tutur katanya yang santun membuat Etek Gori penjaga lopo merasa terhibur dan senang dengan kehadirannya. Yang biasanya ia hanya disuguhi wajah-wajah lelah dan penuh kesusahan dari para pengunjung yang umumnya hanya warga yang sedang berjuang demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Saat sedang ramai-ramainya pengunjung, pria yang sibuk dengan HP nya menikmati konten tik tok berisi berita soal peperangan di negara Timur Tengah sana, tiba-tiba berdiri dan menjumpai Etek Gori untuk membayar semua belanjaan pengunjung lopo. Bukan itu saja, pria yang sangat irit bicara itu juga tak segan-segan menyodorkan bantuan dengan memberi pijatan pada beberapa tobang-tobang (orang tua) yang kelelahan setelah marbabo (menyiangi) di sawah.
Sebagian lagi yang pinggangnya terasa ngilu setelah memungut keong untuk makanan itik. Tingkahnya inilah yang menimbulkan tanda tanya yang besar bagi pengunjung lopo Etek Gori.
Para pengunjung lopo yang melihat kehadiran pengunjung baru dan semakin sering muncul, makin bertanya dalam hati, soal pria misterius yang belakangan ini rajin mampir di lopo Etek Gori .
Namanya lopo, pasti jadi tempat yang seru untuk membahas hal sekecil apapun. Ada yang bilang, dia itu mungkin pegawai Pemda yang baru pindah tugas, ada yang menyangka mungkin pengusaha yang sedang mengamati lahan untuk dijadikan tempat usaha baru, dan ada juga yang bilang jika dia itu mungkin saja seorang Caleg yang sedang berusaha mendekati warga untuk mengumpul suara saat pemilihan calon legislatif yang akan berlangsung beberapa bulan lagi.
Namanya juga orang desa, banyak sulaha (segan). Mau bertanya saja berat rasanya apalagi pria itu berpenampilan parlente dengan tatanan rambut yang ditata rapi berminyak dan aroma parfum yang semerbak wangi, ciri seseorang yang hidup dalam kemakmuran.
“Nataboan kopi ni etek on dabo, inda cukup iba sakali mancubo, malungun sajo do roha ibaenna”
( Nikamat sekali kopi buatan etek ini, tak cukup sekali mencobanya, rindu hati dibuatnya)
Pria itu tiba-tiba melebur keheningan yang ia sadari karena kehadirannya. Ia berusaha memecah suasana agar lebih akrab dan berbaur dengan baik.
“Olo mantoong, ise naso mamboto kopi ni Etek Gori, sa humaliang on do mangakuina na tabo kopi nai”
( tentu saja, siapa yang tidak kenal dengan kopi etek gori.Sekampung ini sudah mengakui kenikmatannya)
Seorang pria paruh baya menjawab dengan rasa bangga.
Demikian dalam beberapa hari, si pria misterius telah berinteraksi dengan baik dan mulai saling nyaman berinteraksi dengan pengunjung lopo meskipun mereka belum juga tau dan belum berani menanya identitas pria yang mereka panggil dengan sebutan Amang atau Angkang bagi yang merasa lebih muda dari pria itu. Bisa jadi aji mumpung, siapa saja yang tau jika pria misterius itu sudah mampir di lopo, mereka bergantian untuk singgah.
Maklum saja sedang ada yang membandari. Padahal jika dihitung-hitung, biaya belanjaan warga lopo sangatlah murah dan bernilai sedikit apalagi untuk ukuran pria misterius tampan itu. Setiap ke lopo selalu membawa mobil Fortuner edisi terbaru yang masih mulus kinclong. Ditambah lagi setiap akan membayar semua belanjaan pengunjung lopo, dari sakunya selalu keluaar gepokan uang rupiah jika tidak biru ya merah. Untuk ukuran parlopo biasa, kekuatan tobang-tobanga untuk jajan segelas teh manis panas, dua gorengan atau sepotong roti saja sudah sangat cukup. Biasanya bawa lima ribuan, kaau sepuluh ribu saja sudah nominal yang dianggap besar bagi mereka.
Pikir punya pikir, setelah lebih dari seminggu, Salohot yang penasaran dengan pria baik dan sopan itu pun akhirnya angkat bicara. Ia merasa harus tau siapa dan apa tujuan dari pria ini selalu hadir di lopo kebanggaan desa ini. Suasana politik yang sedang panas-panasnya memasuki masa pemilu membuat ia merasa harus waspada dengan apa yang akan mempengaruhi warga di desanya. Dengan rasa sedikit gugup ia mulai bertanya.
“Santabi ma jolo di angkang i, pala ma naron adong na so pade pangkulingku di angkang so parjolo di moofkon angkang i iba. Taringotna ale, nasian dia do ita angkang ? ise do goar ni angkang i. Nabahat ma boto ami parrasokion epeng ni angkang, tai sampe boto sannari urang do padena ami lala, harana inda pe na marsitandaan ita. Ningrohangku, inda na alak Mandailing on angkang i, harana na marcampur bahasa polisi do ami bege angkang i manombo. Ampot memang na polisi do roai? Jadi tolong ma jolo ipatanda angkang ji ami le, so rap mamboto be ita na di lopo on”.
( Permisi bang, jika nanti ada kalimatku yang kurang berkenan tolonglah dimaafkan. Teringatnya, darimanakah abang, siapakah nama abang, sudah banyak rasanya kami meikmati rezeki dari abang, tapi sampai saat ini kurang nyaman rasanya karena kita belum saling kenal. Mungkin abang bukan orang daerah sini karena bahasanya seperti polisi. Atau apakah abang seorang polisi? Jadi tolonglah abang untuk memperkenalkan diri agar kita saling kenal di kedai ini)
“Namaku Caleg”. Jawab si pria. Belum selesai ia memperkenalkan diri, lopo seketika riuh begitu mendengar namanya.
“Aaahhh…. kan peto do, na caleg do apak on, ima so nadengganan dabo. Baen na adong do antong hagiot ni apak on so ro sajo apak i tu lopontaon”. Dengan nada sedikit ngegas salah seorang pengunjung lopo menjawab, ia merupakan warga desa Gunung Pambirik yang kebetulan juga sedang ikut mencaleg di periode ini.
( Ahh.. betulkan abang ini caleg makanya dia sangat baik.Karena ada la maunya makanya dia dating saja ke kedai ini)
“ Hehehehe…. Mohon maaf bang jika selama ini saya sudah membuat banyak tanda tanya di benak abang dan bapak semuanya. Saya juga bersalah karena tidak memperkenalkan diri sebelumnya sehingga membuat semuanya mungkin merasa tidak nyaman. Kalau begitu izinkan saya memperkenalkan diri saya ya”.
Dia melanjutkan “Nama saya Fayezyla Calegory Nasution. Nama panggilan saya Caleg. Jadi bang, Caleg itu nama saya, bukan kerjaan saya. Dulu sekali orangtua saya pernah tinggal di desa ini, waktu itu saya masih sangat kecil. Karena suatu hal, orangtua saya harus pindah ke Jakarta dan membangun usaha disana. Sebelum wafat, ayah saya pernah berpesan jika saya sukses nanti agar saya mengunjungi desa ini dan menjumpai warga desa yang dulu sangat baik pada keluarga saya. Ayah saya memang sangat mencintai desa ini. Saya beberapa hari ini berkunjung karena ingin melihat bagaimana pekembangan desa ini dan saya berniat untuk berwakaf untuk membangun sebuah masjid.
Jadi…. mohon sekali lagi saya dimaafkan atas ketidaknyamanan yang saya perbuat”.
Tetap dengan senyum tersungging pria itu menjelaskan tentang dirinya.
“Booooo le bayaaa… na anak ni si Sulaiman do ho langa amang? Pas mai boto, adong najolo anak nia na baru lahir ama na maol mandokkon goarna. Ho ma langa baya danak i”.
( Yaa ampuun.. ternyata kamu anaknya si Sulaiman. Tepat sekali itu dulu ada anaknya yang baru lahir dan sangat sulit menyebutkan namanya, kamulah ternyata anak itu)
Seorang bapak tua spontan berdiri menghampiri dan langsung memeluk Caleg. Dengan mata berkaca-kaca Ia ingat bagaimana dulu ia sangat akrab dengan ayah Caleg yang kini telah tiada.
“Aku dulu dabo kawan ayahmu nya bayaaa. Kami sama-samanya itu setiap hari ke sawah”.Suara sedikit bergetar ia bercerita tentang kenangannya dengan ayah si Caleg.
Suasana lopo pun akhirnya seketika berubah menjadi penuh rasa haru dan bahagia. Yang usianya sudah jauh lebih tua saling berbagi cerita dan berusaha mengingat kenangan mereka dimasa lalu dan yang lebih muda merasa kagum dengan pria yang telah sedikit mereka salah fahami.
“Booooo bayaaaa, rupanya si Caleg nya nama bayo yang baik ini” kata Etek Gory sambal menungkan air panas ke gelas yang sudah diberi sedikit gula pasir.
“Diambang namancaleg ampengan si Caleg do. Jadi mada”.
( Disangka yang mencaleg, rupanya si Caleg nya).
Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia di SMPN 6 Panyabungan












