MohgaNewsIMadina- Hafiz (40) seorang pengrajin atau produsen gula aren di Desa Sipapaga Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menceritakan cara produksi gula aren yang sudah digelutinya selama 19 tahun

Kepada MohgaNews, Rabu (12/8/2020) ia mengatakan proses produksi gula aren memakan waktu selama dua hari
“Proses produksinya memakan waktu 2 hari. Setelah kita ambil air nira dari pohon enau, lalu dipanaskan di dalam kuali besar, ditunggu sampai setengah matang. Kemudian diangkat dan didinginkan selama satu malam,” terangnya
Kemudian besoknya, air nira setengah matang itu dicampur dengan tumbuhan bernama ‘Andor Mambu, tujuannya agar gula aren tidak terasa asam rasanya’. Andor Mambu dibalurkan ke air nira lalu dipanaskan lagi sampai matang. Dan khusus untuk pesanan luar kota, Hafiz menambahkan bahan campuran lain agar gula aren bisa lebih tahan lama dan tidak mudah lembek.
“Setelah matang betul baru dituang ke cetakan sesuai ukuran yang diinginkan. Ada cetakan kecil dan ada yang besar dalam bentuk bulat,” tambahnya dan menyebut ia memproduksi gula aren sesuai pesanan pengepul dan sebagian dijual ke pasar.
Belakangan ini, Hafiz mengeluh atas usahanya itu. Karena harga gula aren dua bulan belakangan ini menurun. Belum lagi soal produksi air nira dari pohon enau yang semakin sedikit disebabkan pohon enau yang dari dulu sudah banyak produksi air nira.
“Pohon enau ini apabila sewaktu masih masa produksinya bagus dan airnya banyak diambil, maka kalau tanamannya mulai tua airnya juga makin mengering,
“Soal harga saat ini kami hanya bisa menjual Rp 15 ribu perkilo. Sementara dua bulan yang lalu harganya masih bertahan Rp 20 ribu perkilo. Saat ini kami pengrajin gula aren ini tambah kesulitan, harganya menurun produksi air nira juga makin sedikit,” keluh pria yang mengawali usahanya itu mulai tahun 2001. (MN-08)










