Layak Jadi Inspirasi, Abgan Siregar Bermodal Tekad dan Bahasa Inggris Sukses Berkarir di Luar Negeri

0
413
Abgan Siregar, mahasiswa luar negeri asal kota Padangsidimpuan

MohgaNews|Sidimpuan – Ternyata untuk dapat pergi ke luar negeri itu tidak selamanya bergantung dengan dana yang besar. Misalkan saja, Abdul Gani Siregar yang akrab dipanggil “Abgan”, pria berusia 22 tahun ini berhasil membuktikan ungkapan tersebut.

kemahirannya berbahasa asing ternyata dimotivasi oleh film favoritnya HarryPotter, sejak itulah dia belajar untuk berbahasa Inggris.

Yah, putra Padangsidimpuan ini mampu keliling luar negeri bermodalkan keahlian dan kemampuannya berbahasa Inggris. Memang, Abgan sangat mahir dalam pengetahuan ini sejak ia duduk di bangku Aliyah (MAN) dulu. Teman-temannya bahkan sering mengejeknya karena selalu berbahasa Inggris hampir disetiap hal.

Menonjol di bidang bahasa Inggris, membuat lelaki kelahiran 1995 ini selalu menjadi utusan dari sekolah dalam berbagai lomba dan kompetisi dalam bidang bahasa Inggris. Hampir dari semua lomba yang diikutinya, ia berhasil mengharumkan nama baik sekolah dengan membawa piala kemenangan di tingkat sekolah yang diselenggarakan Kementrian Agama maupun sekolah umum se Kota Padangsidimpuan.

Satu pengalaman yang tidak pernah ia lupakan, saat dia terpilih mewakili siswa Madrasah Aliyah kota Padangsidimpuan untuk lomba pidato bahasa Inggris se Provinsi Sumatera Utara di Kota Medan. Dengan latihan maksimal, Abgan mampu mengambil posisi walau hanya berada di posisi ke 4 dari 27 peserta. Dengan prestasi – prestasi inilah ia juga ditawarkan beberapa sumber beasiswa seperti beasiswa tidak mampu dan beasiswa berprestasi.

Pertengahan 2013 yang lalu, memasuki dunia kampus, Abgan berjuang untuk mendapatkan izin kedua orangtuanya. Ekonomi keluarga yang tidak mendukung membuat Abgan hampir putus asa untuk meraih mimpinya, namun pamannya turut membantu meringankan kesulitannya. Siswa lulusan MAN 1 Padangsidimpuan ini melanjutkan prestasinya ke jenjang perkuliahan.

Berlatar belakang dari sekolah MAN, beliau dapat diterima di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara yang sekarang berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara dengan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.
Tinggal jauh dari kedua orangtua dengan ekonomi yang lemah, sungguh perjuangan yang tidak banyak berhasil dilakukan oleh orang-orang yang tidak punya kesungguhan, lalu muncul idenya yaitu lebih baik bekerja daripada putus di tengah jalan.

Pernyataan ini dipatahkan oleh Abgan dengan menorehkan Indeks prestasi di atas rata-rata, dan itu sangat memuaskan. Hingga di awal semester 3, Abgan ditawarkan salah satu dosen untuk mengajar di tempat kursus Bahasa Inggris dan hasilnya mampu meringankan financial yang selama ini ia khawatirkan. Disamping itu, di semester ini Abgan juga mulai aktif dengan kegiatan-kegiatan di kampus, sehingga semua skill yang dia miliki diaplikasikan.

Dari sinilah, Putra Pak Mahlil Siregar ditawarkan dengan banyak beasiswa dan benar-benar berhasil menghapus kekhawatiran mengenai ekonominya. Adapun beasiswa yang diterimanya adalah Beasiswa Kampus dari Comparative Study di Universitas Islam Antarbangsa (Internasional Islamic University) di rajah Malaysia, sebagai hadiah memenangkan lomba pidato Bahasa Inggris se kampus 3 besar, Beasiswa Kementrian Agama-PIU dari Entrepreneurship Program di Universiti Teknologi Mara, Malaka, Malaysia, dan beasiswa Kementrian Agama-MoRA dari Student Mobility Program di Deakin University, Melbourne, Australia.

Comparative study to kuala Lumpur, Malaysia (November 2014)

Tahun 2014 merupakan tahun yang sangat berharga karena inilah tahun pertama Abgan menginjakkan kakinya di luar negeri. Setelah memenangkan lomba pidato bahasa Inggris sebagai 3 besar, Abgan dan 2 rekannya bersama beberapa ketua-ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan sebagai hadiah kemenangan mereka direkomendasikan untuk mengikuti perbandingan pembelajaran di IIUM ( Internasional Islamic University, Malaysia ) salah satu kampus Islam Internasional.

“Gak nyangka orang kampung bisa ke luar negeri , ungkapnya nyengir.

Di kampus itu, Abgan bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa muslim yang datang dari hampir 26 negara. Dengan kemampuannya tidak mempersulit komunikasi dengan orang Turki, India, Afrika, Arab dan negara lainnya.
Entrepreneurship Training di Universitas Teknologi Mara, Melaka, Malaysia (Oktober 2015)

Memasuki semester 5, anak ke 4 dari 7 bersaudara ini berkesempatan untuk ke luar negeri. Setelah melakukan seleksi yang lumayan sulit, beliau mengikuti pelatihan kewirausahaan salah satu program Kementrian Agama yang bekerjasama dengan Project Implementation Unit (PIU). Salah satu tujuan program ini ialah untuk meningkatkan jiwa berusaha mahasiswa muslim, karena berwirausaha sangatlah penting untuk dimiliki.

Cam Empower, Prepared, Inspired and Connected (EPIC) di Batu Malang (Januari 2017)

Camp ini merupakan program dari kedutaan besar Amerika di Jakarta yang bekerja sama dengan Indonesia dan Timor Leste. Dan lagi-lagi Abgan mewakili kampusnya untuk mendapatkan pelatihan menjadi seorang guru. Melalui essay bahasa Inggris terpilih menjadi 47 terbaik se Indonesia dan Timor Leste dari 500an pendaftar. Camp ini diadakan selama 2 minggu, yang memberikan pelatihan bagaimana menjadi guru bahasa inggris yang kompeten dan profesional.

“Campers tahun ini ada 42 dari Indonesia dan 5 orang dari Timor Leste, dan kami semua beda agama. Hidup damai dan saling berdampingan sangatlah menyenangkan. Jiwa persahabatan sangatlah terasa bagiku dan bagi campers yang lain”, terang Abgan dengan senangnya.

Akhir tahun 2015 merupakan salah satu momen yang sangat menyenangkan bagi Abgan, sebulan setelah pulang dari Malaysia sebagai perwakilan kampus untuk mengikuti program pelatihan kewirausahaan (beasiswa dari Kementrian agama), Bayo Regar ini juga dinyatakan lulus untuk program pelatihan kepemimpinan ke Melbourne, Australia.

“Awalnya aku sangat ragu akan kelulusanku, bukan karena aku tidak yakin dengan kemampuanku. Masalah percaya diri, aku sangat mengenali diriku sangat percaya diri untuk mencoba semua program dengan apa yang aku miliki. Namun, karena posisi ku sebagai mahasiswa yang sudah mendapatkan dua beasiswa program keluar negeri dari Kementerian Agama ke Malaysia, membuatku ragu tak akan dipilih lagi untuk program beasiswa lain,

“Juga, pada saat wawancara aku lumayan tidak tenang saat pak Dr. Phil. Zainul Fuad MA, salah satu pewawancara menanyakan mengapa aku ikut program ini. Karena seharusnya semua program diratakan kepada semua mahasiswa agar semua bisa merasakan program- program yang ada” sambungnya.

Kini apa yang telah ia berikan kepada negara telah dibalas oleh negara pula dengan membawanya ke Negeri Kanguru untuk mengikuti Student Mobility Program.

“Pertama sekali saat sampai di Melbourne, mataku tak pernah berkedip memandangi tiap sudut kota itu. Gedung-gedung pencakar langit, suhu yang sangat dingin sangat dapat aku rasakan. Kala itu aku teringat ketika tali sepatuku masih dipakai oleh kedua orangtuaku, ketika baju seragamku masih dikenakan ,saat aku masih diantar jemput. Ya, saat masih kanak-kanak aku telah bermimpi untuk mengelilingi dunia. Terinpirasi Dari saat itu, aku sudah bermimpi ingin menuntut ilmu sejauh mungkin, khusus nya negeri barat yang disanjung banyak orang”, ucapnya penuh syukur.

Bertemu dengan delegasi-delegasi dari provinsi lain merupakan teman-teman dari berbagai kampus merupakan salah satu hal yang tak akan pernah bisa dilupakan. Bahasa, suku, adat yang sangat berbeda betul-betul ia rasakan. Di Melbourne, Abgan dipertemukan dengan seorang profesor yang jenius dan berbakat parasnya memang tak begitu tampan, tinggi badanpun terbilang pas-pasan, tetapi beliau memiliki banyak kelebihan yang membuatnya tampak berbeda, dialah Prof Ismet Fanany, warga asli Padang namun beristrikan Amerika.

Nilai lebih yang dimiliki oleh Abgan ialah ketaatannya kepada Sang Khalik, beliau tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu dengan alasan apapun. Hal ini merupakan suatu ungkapan syukur atas apa yang telah ia terima selama ini. Namun di negara yang umat Islamnya minoritas, beliau sangat sulit menemukan mushallah terlebih-lebih masjid tempat beribadah. Selama mengikuti program, tak pernah sekalipun Abgan mendengarkan lantunan adzan di negeri ini.

“Saat aku dan Thoip melaksanakan sholat zuhur di bawah tangga di samping kamar mandi. Lumayan tak mengenakkan saat dipandang orang-orang, namun beginilah tuntutan kondisi pada saat itu. Pengalaman ini sangat berharga bagiku, akan kujadikan sebagai adaptasi awal sebelum mengunjungi Negara –negara lain”, katanya.

Namun ada satu kejadian yang membuatnya hampir meneteskan air mata. Hari keenam, merupakan hari terakhir untuk menikmati dan menghirup udara segar di Melbourne. Namun, beliau berpikir bagaimana sholatnya hari ini, sedang hari ini adalah hari jumat dimana hari semua muslim laki-laki diwajibkan untuk melaksanakan sholat jumat berjamaah.

Untungnya, Abgan bertemu dengan salah satu anggota perhimpunan mahasiswa Indonesia yang belajar di Deakin University, tempat mereka melaksanakan pelatihan. Dia pun segera menunjukkan tempat sholat berjamaah. Jauh dari keramaian dan lumayan terpencil, mereka menemukan mushalla yang cukup sejuk di ujung kampus ini.

“Air mataku menetes tak tertahankan, rasanya indah sekali adzan yang dikumandangkan salah satu jamaah sholat jumat tersebut. Walau adzan di negeri ku jauh lebih indah dan enak, namun rasanya mendengar kan adzan disini ibarat hal yang sangat sulit untuk didapatkan. Disinilah pertama kali kumendengarkan adzan di kota Melbourne, negeri kanguru”, ujarnya lirih.

Terakhir, pelajaran yang sangat berharga ia dapatkan ketika masing-masing dari mereka menampilkan seni dan budaya daerahnya. Menyanyi, menari, balas pantun dan lain-lain.

“Aku berfikir ketika itu, sungguh indah negeriku INDONESIA. Negeri yang sangat kaya akan seni, budaya dan bahasa yang tak dimiliki negeri manapun. Saat politik selalu berusaha memecahkan karena perbedaan, tetapi seni dan budayalah yang menyatukannya. Aku memang selalu mengimpikan tuk menjelajahi seluruh negeri, tapi cintaku tetaplah untuk INDONESIA”, katanya bangga.

“Sebagai seorang muslim, sudah kewajiban kita menguasai bahasa arab, dan sebagai muslim yang baik, kuasailah bahasa Inggris, karena hanya kamulah yang bisa membela bangsa, Negara, dan agamamu. Terimakasih kepada MORA yang telah mengadakan program ini. Sungguh pengalaman yang membuatku lebih berarti ada di Indonesia”, tuturnya menutup kisahnya. (MN-red)