MADINA, Mohga – kementerian pendidikan, kebudayaan dan teknologi melalui direktorat jenderal PAUD, pendidikan dasar dan pendidkan menengah menetapkan lima sekolah penggerak angkatan III di kabupaten Madina
Penetapan tersebut berdasarkan surat nomor 7883/C/HK.030.01/2022 tentang penetapan satuan pendidikan pelaksana program sekoah penggerak angkatan III.
Dari lima sekolah dari berbagai jenjang ini, tiga sekolah di antaranya berasal dari kecamatan Kotanopan yang dikenal sebagai kota pejuang dan pendidikan.
Kelima sekolah tersebut adalah TK Model Panyabungan, SD Negeri No 193 Kotanopan, SMP Negeri 1 Kotanopan, SMA Negeri 1 Kotanopan dan SMA Negeri 3 Panyabungan.
Sekolah Penggerak merupakan sekolah yang berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik. Upaya ini dilakukan dengan mewujudkan profil pelajar pancasila yang mencakup kompetensi kognitif (literasi dan numerasi) serta nonkognitif (karakter) yang diawali dengan SDM yang unggul (kepala sekolah dan guru). Kepala sekolah dan guru dari sekolah penggerak melakukan pengimbasan kepada satuan pendidikan lain.
Program Sekolah Penggerak (PSP) adalah program untuk meningkatkan kualitas belajar siswa yang terdiri dari lima jenis intervensi untuk mengakselarasi sekolah bergerak 1-2 tahap lebih maju dalam kurun waktu 3 tahun ajaran.
Kepala dinas Pendidikan kabupaten Madina melalui Korwil VIII Kotanopan Hj. Wahdeni Nasution kepada mohganews, Selasa (27/9/2022) membenarkan hal tersebut.
“Patut kita syukuri karena pada tahun 2022 ini ada lima sekolah di Madina yang berhasil ditetapkan sebagai sekolah penggerak. Penetapan ini sudah melewati proses seleksi ketat oleh tim kementrian pendidikan. Semoga ini dapat menjadi motivasi bagi sekolah lainnya untuk terus mempersiapkan diri menjadi sekolah penggerak ke depannya,” ucapnya.
Menurutnya, sekolah penggerak ini diharapkan menjadi role model di Kabupaten Madina dan menjadi tolak ukur pendidikan di kabupaten ini nantinya. Untuk menjadi sekolah pengggerak, persyaratannya tentu unggul dari kepala sekolah dan guru yang di bukikan dengan prestasi yang sudah di raih selama ini.
“Jadi peran kepala sekolah dalam hal ini sangat besar, sebab sekolah itu berjalan tentu cerminan dari kepala sekolahnya. Program yang sudah di buat kepala sekolah tentu menjadi acuan, sehingga sekolah tersebut baik dalam kompetensi dan unggul dalam Sumber Daya Manusianya ( SDM),” ujarnya.
Sementara kepala SD Negeri No 193 Kotanopan Rosmala Dewi yang dihubungi mengakui bahwa sekolahnya lolos menjadi sekolah pengggerak dan satu-satu sekolah dari tingkat SD yang lolos di Kabupaten Mandailing Natal.
Rosmala Dewi menjelaskan setelah sekolahnya lolos jadi sekolah pengggerak, Dinas Pendidikan kabupaten sudah sering datang untuk koordinasi dan menanyakan apa-apa yang di perlukan untuk menyukseskan program ini.
“Dukungan dari Dinas Penddikan Madina terkait dengan hal ini sangat besar. Untuk menjadi sekolah pengggerak ada beberapa test dan tahapan-tahapan yang harus dilalui kepala sekolah,” katanya.
Rosmala Dewi mengatakan banyak mamfaat dari sekolah penggerak, di antaranya meningkatkan hasil belajar siswa.
“Kemudian meningkatkan kompetensi guru dan kepala sekolah dan percepatan digitalisasi serta pencapaian profil pelajar pancasila,” sebutnya.
Kepala SMP Negeri 1 Kotanopan Pargugunan yang dihubungi juga mengatakan benar sekolahnya sudah lolos menjadi sekolah penggerak.
“Saat ini kita sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk menunjang program ini. Sebab, rencananya penerapan sekolah pengggerak ini nanti di tahun pelajaran 2023,” paparnya.
Hal yang sama juga disampaikan kepala SMAN 1 Kotanopan Siti Aminah bahwa sekolahnya sudah lolos menjadi sekolah penggerak sekitar bulan Agustus tahun 2022 pada angkatan III. Adapun hal yang mendorongnya untuk menjadi sekolah penggerak, karena SMA Negeri 1 Kotanopan itu telah banyak menghasilkan lulusan terbaik di Madina, provinsi maupun tingkat nasional.
Terkait dengan kesiapan sekolah, Siti Aminah mengutarakan karena sekolah penggerak bertujuan mengikuti transformasi pendidikan, tentu beberapa hal perlu di persiapkan. “ Persiapan tersebut yaitu mulai dari kualitas guru agar bisa berubah cara mengajarnya dari konvensional menjadi pembelajaran yang berpusat kepada siswa,” tuturnya. ( MN-10 )









