MADINA, Mohga – eks staf khusus Bupati pertama Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Irwan Hamdani Daulay menyebutkan bahwa kehadiran pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) PT Sorik Marapi Geotermal Power (SMGP) merupakan permintaan pemerintah daerah sewaktu Bupati Madina dijabat H. Amru Helmi Daulay

Pernyataan ini disampaikan Irwan saat Aliansi Mahasiswa Bersatu Madina (AMBM) melakukan aksi unjuk rasa di kantor Bupati yang berakhir diskusi di aula Setdakab, Kamis (20/10/2022) pukul 11.30 WIB.
Dalam aksi yang diikuti puluhan mahasiswa ini, mereka meminta Pemkab Madina melakukan tindakan secara tegas dalam menyikapi beberapa persoalan di PT SMGP yang bertempat di Kecamatan Puncak Sorik Marapi.
Kedatangan mahasiswa itu langsung disambut baik oleh wakil bupati Atika Azmi Utammi Nasution dan beberapa organisasi perangkat daerah lainnya.
Diskusi antara AMBM dengan pemerintah daerah terpantau cukup alot, bahkan waktu makan siang dan salat zuhur terlewati. Diskusi secara terbuka ini berakhir pukul 13.30 WIB.
Irwan Daulay mengaku kepada mahasiswa bahwa ia dan Irwansyah Nasution hadir di forum itu sebagai perwakilan dari masyarakat dan pro terhadap mahasiswa. Irwan pun memberikan tanggapan atas tuntutan yang disampaikan mahasiswa yang disampaikan secara terbuka oleh kordinator aksi Rahmad Hidayat Batubara.
Irwan menjelaskan, kehadiran PT SMGP di Kabupaten Madina atas permintaan pemerintah daerah kepada pemerintah pusat untuk mengekspolrasi sumber panas bumi di Madina karena tegangan listrik waktu itu sangat rendah yang tidak mencapai 220 volt.
“Dengan kerendahan tegangan listrik makanya waktu itu lampu sering kedip-kedip dan barang elektronik mudah rusak. Jadi mahasiswa harus catat, yang mengeluarkan IPB (izin panas bumi) itu menteri, makanya kewenangan untuk menutup SMGP adalah kewenangan menteri ESDM, bukan daerah,” jelasnya.
Irwan menilai sikap pemerintah daerah untuk mengatasi segala persoalan sebenarnya sudah melampaui kewenangan termasuk dalam menyampaikan kepada PT SMGP untuk menghentikan operasional sumur T-011.
Irwan juga menerangkan bahwa 6 insiden yang pernah terjadi di SMGP merupakan penyebab akibat yang berbeda. Pasalnya, informasi yang diterima Irwan pada saat bersama tim Polda Sumut insiden terakhir terindikasi ada unsur dugaan Sabotase.
“Setiap insiden memiliki sebab akibat yang berbeda-beda. Informasi yang terakhir ada unsur dugaan sabotase sewaktu saya bersama tim dari Polda. Kalau insiden sebelumnya (25 Januari 2021) ada paparan H2S, benar karena ada yang meninggal dan setelah itu ada kebocoran dan ada semburan. Oke, itu sudah dilakukan upaya-upaya,” ungkapnya.
Sebagai perwakilan masyarakat, Irwan mengaku diperintahkan Bupati Madina HM Ja’far Sukhairi Nasution untuk melakukan investigasi. Irwan kembali menanyakan mahasiswa apakah sudah pernah juga melakukan investigasi terkait apa saya dampak dirasakan penduduk di sekitar wilayah kerja perusahaan (WKP).
“Saya perwakilan masyarakat yang diperintahkan Bupati untuk melakukan investigasi, apakah adek adek pernah melakukan itu? Yang meninggal apakah sudah kalian jumpai keluarganya, apakah sudah kalian ziarah ke kuburnya karena kalian sering bilang prihatin. Coba kalian turun ke sana sehingga kita betul-betul ikhlas dalam memperjuangkan ini untuk kepentingan yang lebih besar,” ujarnya.
Irwan pun memberikan pemahaman kepada seluruh mahasiswa agar permasalahan yang ada di SMGP agar diberikan kepercayaan kepada seluruh forkopimda, pemerintah daerah serta pihak pihak yang terlibat dalam hal tersebut untuk menyelesaikannya.
“Dukungan kalian (AMBM) ini sangat luar biasa. Jujur, begitu kalian share aksi itu, saya share langsung ke kementerian ESDM sembari mengatakan inilah aspirasi masyarakat Madina. Sebab aspirasi kalian itu banyak wewenang mereka. Adindaku sekalian, coba terima ini dengan lapang dada, tanpa kepentingan apa-apa dan coba investigasi ke sana apa yang dialami masyarakat sehingga kalian memahami, coba dalami,” tutupnya. (MN-08)






