Falyaqul Hairan au Liyasmuth

DALAM hadis Rasulullah Muhammad SAW diriwayatkan dari Imam Bukhari: man kana yu’minu billah walyaumil akhir falyaqul khairan au liyashmut “siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka berkatalah yang baik-baik atau (memilih) diam sama sekali”

Manusia, sebagai mahluk Tuhan yang paling sempurna punya panca indera berperan penting menggerakkan hati dan pikiran. Bentuk panca indrera itu pun sempurna. Semisal hidung punya dua lobang dan menghadap ke bawah (sudah terbayangkan apa yang terjadi bila menghadap ke atas).

Hidung punya fungsi utama penciuman. Kemudian manusia punya dua mata untuk melihat, punya kedua telinga untuk mendengar, punya lisan untuk menyampaikan kehendak (berbicara), punya tangan dan kaki dengan bentuk yang sangat baik. Karenanya, Allah SWT mengingatkan bahwa manusia adalah mahluk paling sempurna. Firmannya di dalam surah At-Tin: Laqad holaknal insana fi ahsani taqwim “sesungguhnya kami menciptakan manusia dengan bentuk paling sempurna”

Di balik fungsi panca indera, banyak orang kurang memaknai penciptaan lisan atau lidah.

Secara bentuknya, lisan berada pada rongga mulut. Dia tersembunyi. Selain tempatnya tersembunyi ada juga yang melindunginya yaitu gigi. Tak cukup gigi saja, lisan dilindungi lagi dengan dua bibir. Begitulah ketatnya pengamanan diciptakan Tuhan bagi lisan manusia.

Pengamanan tersebut menafsirkan dan memahamkan bagi seluruh manusia pentingnya menjaga lidah, pentingnya menahan diri, menahan hati. Lisan adalah media komunikasi hasil kerja otak dan hati manusia.

“Jika lidah melukai hati ke mana obat hendak dicari”

pepatah ini sebuah umpama bahwa luka dan sakit hati dari setiap ucapan/perkataan akan menyimpan rasa yang tersimpan sampai akhir hayat kita. Karenanya, jagalah lisan kita, bicaralah yang baik-baik, atau diam sama sekali. Karena bicara yang tidak bermakna bisa menimbulkan hal yang tidak baik bagi diri sendiri dan orang lain.

Sebelum lisan mengeluarkan apa kata akal, pertimbangkanlah dengan hati. Sehingga lisan mengeluarkan hal-hal kebaikan. Sebab pikiran atau akal bisa saja berbohong tapi hati akan berjuang untuk kebenaran dan kebaikan. ***

Oleh: Muhammad Ridwan Lubis///Mahasiswa Pascasarjana prodi Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Padangsidimpuan