Dinas Pertanian Rilis Data Kerusakan Tanaman Pertanian Pascabanjir di Mandailing Natal

MADINA – Dinas Pertanian Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Provinsi Sumatera Utara (Sumut), merilis data sementara terkait kerusakan tanaman pertanian masyarakat pascabanjir melanda di penghujung tahun 2025.

Plt. Kepala Dinas Pertanian Taufik Zulhandra Ritonga, mengatakan petugas penyuluh lapangan (PPL) dan koordinator lapangan di tingkat kecamatan telah turun ke seluruh wilayah di Madina untuk mengecek dan mendata areal pertanian warga yang rusak akibat bencana alam banjir.

Taufik menyebut sampai dengan hari ini, Selasa 2 Desember 2025, seluas 4.498.78 Hektare (Ha) lahan dan tanaman pertanian terdampak. Sementara yang mengalami puso atau tanaman gagal panen total (Rusak berat) seluas 3.630.35 Ha dari total terdampak.

“Jenis tanaman yang terdampak dan mengalami puso itu, antara lain padi, jagung, cabe, timun, tomat, terong, dan kacang panjang,” kata Taufik, juga menjabat Kepala Dinas Ketahanan Pangan itu, Selasa (2/12/2025).

Taufik merinci tanaman terdampak dan mengalami puso. Untuk padi,
Wilayah paling banyak mengalami kerusakan berat berada di Kecamatan Siabu. Seluas 2.226.45 Ha terdampak. Dari data itu, tanaman mengalami puso seluas 2.132.05 Ha.

“Lahan pertanian masyarakat yang mengalami kerusakan akibat bencana alam banjir itu adalah Kecamatan Siabu, serta disusul Kecamatan Muara Batang Gadis dan Panyabungan Utara,” ungkap dia.

“Data ini masih sementara terhitung sampai hari ini. Petugas dari PPL dan kordinator setiap kecamatan masih bekerja untuk mendata kerusakan sektor pertanian akibat bencana alam,” lanjut Taufik.

Taufik menyebut Pemerintah Kabupaten terus melakukan upaya terkait permohonan bantuan kepada pemerintah pusat atas kerugian yang dialami oleh petani.

“Kita masih fokus melakukan pendataan. Soal bantuan untuk petani itu, akan kita upayakan semaksimal mungkin,” ujarnya.

Berikut di bawah ini daftar kerusakan tanaman pertanian yang terdampak dan puso tersebar pada 17 kecamatan di Madina.

Kecamatan Siabu. Tanaman padi terdampak 2.053.4, yang mengalami puso seluas 2.000 Ha.
Jagung terdampak 181 Ha, yang mengalami puso seluas 100 Ha. Cabai 7 Ha terdampak dan seluruhnya mengalami puso. Terong 14 Ha terdampak dan seluruh puso. Kacang Panjang 13 Ha terdampak dan seluruhnya puso.

Kecamatan Hutabargot. Tanaman padi 57 Ha terdampak, mengalami puso 30 Ha. Jagung 14,5 Ha terdampak, mengalami puso 5 Ha. Cabai 0,2 Ha terdampak dan puso. Timun 0,5 Ha terdampak dan puso. Pepaya 0,5 Ha terdampak dan puso.

Kecamatan Tambangan. Padi 14 Ha terdampak, puso 10 Ha. Jagung 2 Ha terdampak dan alami puso. Cabai 0,2 Ha terdampak dan puso.

Kecamatan Puncak Sorik Marapi. Padi 50,62 Ha terdampak, puso seluas 20 Ha. Cabai 0,12 Ha terdampak dan alami puso. Tomat 0,03 Ha terdampak dan puso.

Kecamatan Panyabungan Barat. Padi 107 Ha terdampak, 50 Ha puso. Jagung 6,5 Ha terdampak, 4 Ha puso. Cabai 1,60 Ha terdampak dan puso. Tomat 1,75 Ha terdampak dan puso. Terong 0,5 terdampak dan puso. Kembang kol terdampak dan puso 0,75 Ha.

Kecamatan Panyabungan Selatan. Padi 4,1 Ha terdampak, puso 2 Ha.

Kecamatan Nagajuang. Padi 35 Ha terdampak, puso 25. Jagung 32 Ha terdampak, 20 puso.

Kecamatan Panyabungan Utara. Padi 394,6 Ha terdampak, 60 Ha puso. Jagung 143 Ha terdampak, 100 puso.

Kecamatan Ulu Pungkut. Padi 31,2 Ha terdampak, 14 Ha puso.

Bukit Malintang. Tanaman padi 10 hektare terdampak banjir.

Kecamatan Batang Natal. Tanaman padi terdampak 30,1 Ha, puso 3 Ha.

Kecamatan Kotanopan. Tanaman padi terdampak 24 Ha, puso 23 Ha. Tanaman jagung 0,1 Ha terdampak.

Kecamatan Muara Batang Gadis. Tanaman padi terdampak 987 Ha terdampak dan seluruhnya puso.

Kecamatan Panyabungan. Tanaman padi terdampak 27,5 Ha, puso seluas 20 Ha.

Kecamatan Ranto Baek. Tanaman padi 12,60 Ha terdampak banjir. Jagung 3,3 Ha terdampak, alami puso seluas 3 Ha.

Kecamatan Batahan. Tanaman padi terdampak 115 Ha.

Kecamatan Natal. Tanaman padi terdampak 147,5 Ha. (FAN)