Azhari Tambunan Diberhentikan dari PBNU, Ketua PKB Sumut Bereaksi

MADINA, Mohga – Ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Sumut H. Muhammad Jafar Sukhairi mengaku heran atas pemberhentian tokoh Nahdhatul Ulama (NU) Sumut H. Azhari Tambunan dicopot dari jabatan Wakil Bendahara Pengurus Besar NU (PBNU)

Namun Sukhairi menyebut keputusan PBNU tersebut tidak perlu ditanggapi. Sebaliknya warga NU di manapun berada harus tetap solid dan kompak menjaga keutuhan bangsa, dan menjaga kultur Nahdhatul Ulama dalam sendi kehidupan

“Keputusan itu tidak perlu kita komentari, barangkali itu yang terbaik menurut para pimpinan dan orang tua kita di PBNU. Tapi yang perlu kita luruskan bahwa pak Azhari Tambunan itu orang yang sangat berjasa untuk NU di Sumatera Utara. Kita cukup terheran-heran (pencotopan Azhari Tambunan),” kata Sukhairi di Mandheling Coffee Panyabungan, Madina, Jumat (15/9/2023) kepada wartawan

Di sisi lain, Sukhairi menjelaskan bahwa PKB didirikan oleh sesepuh Nahdhatul Ulama, tentu sebagai titisan dari para ulama, Sukhairi Nasution mengajak seluruh kader NU baik secara struktulah maupun kultural agar tetap menjaga gerakan Aswaja.

“Partai ini tidak bisa dipisahkan dari NU, karena yang melahirkan PKB adalah NU. Kultur NU ini sudah mendarah daging di kalangan masyarakat,

Sukhairi juga mengatakan pencopotan Azhari Tambunan dari PBNU tidak meruntuhkan semangat berjuang untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Azhari Tambunan saat ini maju sebagai Bacaleg DPR RI dari PKB

“Politik bagi kami adalah perjuangan. Pak Azhari juga begitu. Beliau dua kali sebagai Ketua PWNU Sumut dan dua kali menjadi Bupati Deliserdang. Zurriyat beliau pun jelas NU-nya. Semua ia lakukan karena kecintaannya kepada bangsa dan negara, karena perjuangan untuk umat tidak ada batasnya, perjuangan melalui PKB karena partai ini juga dilahirkan dari Nahdhatul Ulama,” jelasnya

Terakhir Sukhairi berpesan kepada seluruh kader NU di Sumut agar tetap menjaga NU baik struktur maupun kultural. Terkhusus kepada seluruh kader dan pengurus PKB agar tetap kuat dan tegar menghadapi semua dinamika politik yang akan terjadi

“Kita harus kuat dan tegar. Usaha dan kerja keras kita lakukan, dan terakhir adalah tawakkal berserah diri kepada yang Maha Kuasa. Ini bagian dari takdir kemenangan kita semua,” ujarnya

Di samping itu, Sukhairi mengungkapkan, ada sekitar 60 juta kultur NU yang diyakini mendukung pasangan Anies- Muhaimin (Amin). Karena menurut Sukhairi, pasangan Amin ini merupakan representatif dari keberagaman budaya di Indonesia.

“Pasangan Amin ini, seperti kultur NU. Beragam dan menyatu untuk membesarkan NU,” tegasnya.

Menanggapi Pernyataan Menteri Agama
Pria keturunan Ulama Madina ini pun menyesalkan pernyataan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas yang menyatakan pasangan Amin adalah Bid’ah. Dia menilai seharusnya pernyataan tersebut tidak diucapkan oleh seorang Menteri Agama.

“Menteri Agama harusnya menjadi penyejuk dan perekat bagi keberagaman umat beragama. Namun dengan keluarnya pernyataan itu kita menyesalkan pernyataan tersebut,” tuturnya.

Sukhairi menilai seharusnya di tahun politik ini, Menteri Agama bisa menunjukkan independensinya. Tidak memihak atau mendukung salah satu calon.

“Masyarakat kita itu sudah cerdas. Kita serahkan semuanya kepada masyarakat untuk memilih,” ujar Sukhairi sembari menyarakankan Menteri Agama Gus Yaqut meminta maaf atas pernyataannya.

Penjelasan PBNU

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) merombak sejumlah pengurus masa khidmah 2022-2027. Sekjen PBNU Saifullah Yusuf pun mengungkap alasannya.

Saifullah Yusuf menyebut, pergantian terjadi karena adanya evaluasi setiap tahunnya. Di antara pengurus ada yang merangkap jabatan, tidak pernah aktif, dan juga tersandung kasus pidana.

Saifullah mengatakan, pergantian kepengurusan menjadi hal yang biasa dalam sebuah organisasi. Ini merupakan evaluasi tahap pertama yang terjadi pada PBNU demi melakukan penyegaran.

“Jadi nggak ada yang istimewa sebetulnya, jadi itu diputus lewat rapat gabungan, diputusnya lewat permusyawaratan di lingkungan perkumpulan NU. Jadi PBNU itu mengambil tindakan berdasarkan pada pedoman AD/ART dan turunannya sekaligus lihat fakta-fakta di lapangan,” imbuhnya.

“Ada juga yang reposisi, dari wakil sekjen menjadi ketua. Ada juga yang ketua lembaga menjadi salah satu ketua. Jadi ada reposisi yang memang berdasarkan kebutuhan,” tukas Saifullah

Pergantian kepengurusan tersebut berdasarkan Surat Keputusan PBNU Nomor 01.b A.II.04/06/2023 tentang Pengesahan Pergantian Antar Waktu Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Masa Khidmat 2022-2027. Surat ini dikeluarkan oleh PBNU pada Rabu (13/6/2023).

Pengurus yang diberi amanah baru, bisa langsung bekerja tanpa adanya pelantikan. Mereka diharapkan bisa bekerja dengan baik. (MN-08/int).