MADINA, Mohga – Pasca banjir bandang tahun 2018 di Desa Muara Saladi Kecamatan Ulupungkut Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang memakan korban jiwa dan meluluh- lantakkan fasilitas umum termasuk gedung SD Negeri No 235 Patahajang di Muara Saladi, hingga sampai saat ini sekolah tersebut belum pernah dibangun.
Mungkin kita masih ingat kejadian banjir bandang yang sangat memilukan di Desa Muara Saladi pada bulan Oktober 2018 lalu. Sejak peristiwa banjir itu, puluhan anak-anak di desa itu tak lagi mempunyai gedung sekolah dasar ( SD), karena gedung sekolah yang ada telah hancur diterjang banjir bandang dari sungai aek Saladi.
Agar murid-murid sekolah dasar itu tetap bisa mengikuti proses belajar mengajar, mereka kini harus bersabar menumpang di ruangan madrasah yang ada di desa tersebut. Kondisinya dua ruangan madrasah tersebut disekat menjadi lima kelas.
Sedangkan satu kelas lagi berada di bawah ruangan lantai atas. Kondisinya juga sangat memprihatinkan. Tak hanya itu, guru-gurunya pun terpaksa duduk di teras sekolah, karena tidak ada ruangan khusus untuk dewan guru.
Informasi dihimpun di desa itu pada Rabu (7/9/2022), kondisi seperti ini sudah berlangsung hampir empat tahun. Usulan pembangunan kembali unit sekolah baru ( USB) SD Negeri No 235 sudah sering disampaikan masyarakat baik melalui kepala desa, kepala sekolah, bahkan pemerintah kecamatan Ulupungkut. Hasilnya masih nihil.
Sampai saat ini Pemkab Madina belum bisa menyahuti usulan tersebut. Padahal, menurut pengakuan kepala sekolah dan kepala desa setempat, pertapakan dan surat hibahnya sudah diserahkan ke Pemkab Madina tahun 2019 lalu.
Kepala SD Negeri No 235 Patahajang di Muara Saladi M. Syafii berharap agar gedung sekolah yang dipimpinnya secepatnya dibangun kembali. Pasalnya, sampai sekarang murid-muridnya masih menumpang belajar di ruangan madrasah di desa itu.
“Sampai sekarang murid-murid kami masih menumpang belajar di ruangan madrasah di desa ini. Kami sangat kewalahan memberikan pelajaran dengan kondisi dua ruangan disekat menjadi lima kelas,” kata Syafii.
Menurut dia, kondisi ruangan tidak nyaman untuk kegiatan belajar-mengajar. Ruangan guru pun tidak ada.
“Padahal, surat hibah tanah pertapakan sudah beberapa tahun lalu diserahkan kepada bupati Madina,” ungkapnya.
Sementara Kepala Desa Muara Saladi Syafaruddin mengatakan banjir bandang yang melanda Desa Muara Saladi pada 2018 menghanyutkan gedung SD Negeri No 235 Patahajang. Sejak saat itu sampai saat ini, kata dia, pemerintah belum membangun kembali gedung sekolah itu.
Padahal, kata dia, lahan pertapakan untuk sekolah itu sudah disiapkan. Bahkan, surat hibah tanahnya sudah diserahkan pada September 2019 kepada bupati Madina yang saat itu dijabat Dahlan Hasan Nasution. “Sampai sekarang belum ada realisasinya,” ungkapnya.
Syafaruddin berharap gedung SD Negeri No 235 Patahajang segera dibangun. Sebab, kondisi murid-murid yang belajar di dalam ruangan sudah memprihatinkan. Sebab, dua ruangan dibagi menjadi lima kelas dan masih menumpang di gedung madarasah di desa ini.
Sementara Korwil 10 Dinas Pendidikan Madina Paet Rangkuti mengakui usulan pembangunan kembali gedung SD Negeri No 235 Patahajang sudah beberapakali disampaikan melalui proposal maupun kepala sekolah langsung menyampaikan kepada wakil bupati, tetapi belum ada tindak lanjut.
“Walau begitu, dalam waktu dekat ini sesuai dengan pembicaraan kemarin, tanggal 6 September 2022, telah dilaksanakan singkronisasi dapodik. Dengan terlaksananya singkronisasi dapodik ini, kita yakin pelaksanaan pembangunan sekolah ini segera terlaksana,” ujar Paet Rangkuti.
Lebih jauh Paet mengatakan bahwa pihaknya sudah bekerja sama dengan Forkopincam Ulupungkut agar pelaksanaan pembangunan sekolah itu dipercepat. Sedangkan Kadis Pendidikan Madina Lismulyadi belum berhasil dijumpai untuk mendapatkan penjelasan lebih detail. (MN-10)











