Sikap Muslim Negarawan Dalam Mengisi Kemerdekaan

OLEH: Khofifah Indah Al-Husna dan Khoirunnas Pulungan

Dari segi etimologi kemerdekaan mempunyai arti kebebasan. Sedangkan secara terminologi kemerdekaan adalah suatu keadaan di mana seseorang atau negara bisa berdiri sendiri, bebas dan tidak terjajah. Dalam bahasa Arab, kemerdekaan ditafsikan dalam kalimat: “al-Taharrur wa al-Khalāsh min al-Qayd wa al-Saytharah al-Ajnabiyyah” artinya bebas dan lepas dari segala bentuk ikatan dan penguasaan pihak lain.

Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat tentang kemerdekaan. Salah satunya makna kemerdekaan dapat dilihat dalam Q.S al-An’am ayat 76-79. Dalam ayat tersebut dikisahkan perjalanan spiritual Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan. Nabi Ibrahim melakukan eksperimen tauhid melalui 3 benda. Yakni Bintang, Bulan, dan Matahari. Kemudian ia, secara sadar maupun tidak, berfikir melalui nalar induksi, yakni mengumpulkan data–data khusus untuk menemukan sebuah teori yang dapat digeneralisasi.

Dalam hal ini Nabi Ibrahim mengumpulkan premis–premis tentang keberadaan sebuah kekuatan supranatural yang ia sebut sebagai Tuhan. Hal tersebut merupakan upaya Ibrahim dalam membebaskan hidupnya dari orientasi hidup yang diyakininya keliru, namun hidup subur dalam masyarakatnya. Seperti diketahui bersama bahwasannya masyarakat Ibrahim saat itu menyembah berhala. Bagi Ibrahim, penyembahan terhadap berhala merupakan kesalahan besar. Sebab manusia telah melakukan penghambaan yang justru menjatuhkan harkat dan martabat dirinya sebagai manusia.

Selain dari kisah di atas, makna kemerdekaan juga dapat dipetik dalam Q.S Al-A’raaf:127, Al-Baqarah: 49, dan Ibrahim: 6, yaitu tentang kisah Nabi Musa ketika membebaskan bangsanya dari penindasan Firaun. Kekejaman rezim Firaun terhadap bangsa Israel banyak dikisahkan dalam berbagai ayat Al-Qur’an. Keangkuhan rezim penguasa ini membuat mereka tak segan membunuh dan memperbudak kaum laki-laki bangsa Israel dan menistakan kaum perempuannya. Keangkuhan inilah yang mendorong Musa tergerak memimpin bangsanya untuk membebaskan diri dari penindasan, dan akhirnya meraih kemerdekaan sebagai bangsa yang mulia dan bermartabat.

Kemudian dalam Q.S Al-Maa’idah: 3, Q.S Luqman: 13; Yusuf: 108; Adz-Dzaariyaat: 56; Al-Jumu’ah: 2. Q.S Al-Hasyr: 7, Q.S Al-Humazah: 1-4 dan Al-Maa’uun: 2-3. Ayat-ayat tersebut memiliki inti tentang kisah sukses Nabi MuhammadSAW dalam mengemban misi profetiknya di muka bumi, yang menjadi sumber ilham tak pernah habis bagi bangsa Indonesia untuk memaknai kemerdekaan secara lebih holistik dan integral. Rasulullah berjuang keras mengajarkan kepada umat manusia untuk menyembah Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan tuhan-tuhan mereka, yang menurunkan harkat dan derajat manusia.

Dari kisah-kisah di atas maka dapat disimpulakan beberapa bentuk makna kemerdekaan yang sejalan dengan pandangan Islam, yakni kemerdekaan secara spiritual, berupa penghentian jiwa dari keterbelengguan dosa dan keterikatan duniawi yang menghalangi hubungan manusia dengan Tuhan. Kemerdekaan spiritual dicapai melalui ketaatan pada ajaran Allah SWT, melakukan ibadah, dan memperkuat hubungan dengan Allah. Selain itu, makna kemerdekaan juga mencakup pada intelektual, karena Islam mendorong umatnya untuk berpikir dan merenungkan tentang hikmah penciptaan.

Kemerdekaan intelektual mengacu pada kemampuan individu untuk mengembangkan pemikiran, mencari pengetahuan, dan mengembangkan akal budi tanpa adanya kesulitan atau dogma yang membatasi sebagaiman kisah Nabi Ibrahim yang sekilas telah digambarkan di atas. Kemudian selain itu, makna kemerdekaan juga termasuk dalam hal moral, di antara yang termasuk kemerdekaan moral ini adalah menghindari perbuatan buruk, melindungi kebaikan, dan mempertahankan integritas pribadi, sehingga kemudian mendorong manusia untuk berperilaku dengan baik dan menjaga tata nilai agama dalam segala aspek kehidupan.

Selanjutnya kemerdekaan sosial. Dimensi ini melibatkan tanggung jawab terhadap masyarakat dan kesejahteraan bersama. Hak sebagai manusia Merdeka tidak dapat digunakan sebagai alasan untuk merugikan orang lain atau merusak keharmonisan masyarakat. Sebaliknya, individu diharapkan berperan positif dalam membangun masyarakat yang adil, sejahtera, dan beretika. Dan terakhir kemerdekaan dari keadilan dan ketidakadilan. Islam betapa pentingnya melawan keadilan, ketidakadilan, dan eksploitasi.

Kemerdekaan dalam konteks ini mencakup hak individu untuk memperjuangkan hak-haknya dan hak-hak orang lain serta peperangan segala bentuk penindasan yang merugikan individu atau kelompok tertentu. Sebagaimana yang telah diperbuat oleh Rasulullah SAW.

Lantas bagaimana seharusnya sikap seorang Muslim zaman sekarang ini dalam mengisi kemerdekaan? Apakah dengan memenangkan lomba-lomba 17-an? Jawabannya yaitu dengan mensyukuri secara sungguh-sungguh dan sepenuh hati atas anugrah kemanan agama dan negara kita dari belenggu penjajahan yang menyengsarakan, sehingga kemudian atas rasa syukur kita sebagai negarawan dalam mengisi kemerdekaan tersebut dapat meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. SWT.

Di samping itu, kemerdekaan Indonesia sebagai nikmat dari Allah swt harus disyukuri dengan menyadari secara mendalam bahwa kemerdekaan ini adalah karunia yang sangat mulia dari Allah SWT, yang merupakan amanah untuk dimanfaatkan dan digunakan untuk meraih kembali kedaulatan negara, kehormatan, keadilan, kesejahteraan dan kemuliaan sebagai manusia dan hamba Allah. Selain itu, sikap kita atas kemerdekaan harus kita tunjukkan dengan mencintai negeri ini dengan memperhatikan berbagai kemaslahatan dan kemudharatan bagi eksistensinya. Maka tidak heran bila sejumlah ulama memunculkan jargon hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman). Demikianlah sikap yang harusnya ditunjukkan oleh seorang Muslim dalam mengisi kemerdekaan.

Penulis adalah: Mahasiswa Program Magister (Pascasarjana) UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan