MohgaNews|Madina – bagi masyarakat di luar Kabupaten Mandailing Natal (Madina) barangkali selama ini jarang mendengar sebuah desa yang bernama Runding yang terletak di wilayah Kecamatan Panyabungan Barat.
Tetapi bagi warga Madina, nama Desa Runding beberapa tahun terakhir sering jadi buah bibir masyarakat. Karena, di Desa Runding saat ini ada pengembangan produksi pertanian komoditi pepaya Calina IPB-9. Luas lahan pepaya calina yang sudah ditanami di wilayah Runding sekitar 30an hektar. Pepaya Calina saat ini menjadi komoditi unggulan daerah di Kabupaten Madina, apalagi bukan hanya kalangan orang tua yang menggeluti usaha kebun pepaya, banyak dari kalangan Millenial atau pemuda dan mahasiswa yang baru menyelesaikan kuliahnya merintis usaha pertanian pepaya sepulangnya ke kampung halaman.
Putra Lubis (35) salah satu petani pepaya Calina IPB-9 kepada MohgaNews menceritakan komoditi ini seolah harapan baru pertumbuhan ekonomi masyarakat Runding dan desa-desa tetangga lainnya di Kecamatan Panyabungan Barat. Ia menyebut dahulu banyak lahan mati yang ditinggal masyarakat, tetapi sekarang sudah dikelola dan dibudi daya kembali menjadi lahan pepaya Calina.
“Saat ini sudah ada sekitar 30 hektar kebun pepaya Calina di desa Runding sekitarnya. Dahulu di sini banyak sekali lahan mati dan tidak ada produksi sama sekali, seperti kebun karet yang ditinggal, persawahan yang tidak bagus lagi irigasinya dan jenis tanaman lain yang tidak dikelola. Sekarang lahan mati itu sudah dibuka jadi kebun pepaya Calina dengan kualitas yang cukup baik,” kata Putra.
Ia menerangkan pepaya Calina IPB-9 dari Runding Mandailing Natal sudah jadi incaran market buah di kota Medan. Harga dan kualitasnya bisa bersaing dengan komoditi pepaya dari daerah lain. Hal ini, kata Putra Lubis menjadi semangat bagi petani karena pepaya Calina jadi solusi baru pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Namun, ada suatu tantangan yang dihadapi petani pepaya Calina di Desa Runding Kecamatan Panyabungan Barat. Karena sampai saat ini akses jalan menuju Runding kondisinya rusak parah dan belum diperbaiki sejak 16 tahun yang lalu.
“Ini jadi kendala utama bagi kami petani pepaya Calina. Jalan di sini rusak parah dan sudah sangat lama, hampir 16 tahun belum diperbaiki. Kerusakan jalan ini berpengaruh ke buah. Buah cepat rusak, apalagi kita mengirim buah ke Medan,
“Harapan kami Pemerintah Daerah agar secepatnya memperbaiki akses jalan menuju areal pertanian pepaya Calina. Karena ini akan memudahkan petani mengirim hasil buahnya,” harapnya.
Putra yang juga seorang guru ASN (Aparatur Sipil Negara) itu mengajak masyarakat terkhusus kalangan pemuda agar produktif dan ikut serta menggeluti dunia pertanian dari pada menghabiskan waktu tanpa produktivitas.
“Karena bagi kami bertani itu keren, bertani bisa sejahtera. Jangan malu bertani, mari kita manfaatkan waktu sebaik mungkin dari pada hanya sibuk untuk hal yang tiada berguna,” pesannya. (MN-01)












