MADINA, Mohga – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) terus berbenah dalam meningkatkan pelayanan bagi pasien melalui program internal yang diciptakan manajemen rumah sakit sendiri yakni “Sijeges”.
Hal ini disampaikan oleh Direktur RSUD Panyabungan Dr Rusli Pulungan pada kegiatan coffe morning di aula rumah Sakit bersama dewan pengawas rumah sakit dan beberapa wartawan termasuk Ketua PWI Madina, Muhammad Ridwan Lubis, Sabtu (10/12/2022) pukul 10.00 WIB.
Dalam program Sijeges, masing-masing huruf memiliki arti diantaranya; S diartikan senyumlah dengan tulus; I; Ikhlas dalam merawat pasien, J; Jangan judes dalam berkomunikasi, E; Empati dalam memberikan pelayanan, G; gegaslah dalam melakukan tindakan, E; Edukatiflah setiap memberikan informasi, S; Sapalah semua orang dengan sopan.
Rusli Pulungan menyampaikan sosialisasi tersebut merupakan instruksi dari Bupati Madina, H. Muhammad Ja’far Sukhairi Nasution dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan keluhan masyarakat selama ini.
“Pak Bupati mengharapkan ada perbaikan di sana sini, makanya kami mengundang rekan-rekan wartawan karena kami yakin perubahan yang kita lakukan di RSUD Panyabungan juga perlu disampaikan kepada masyarakat dan kami juga berharap apa-apa keluhan masyarakat bisa disampaikan secara langsung oleh rekan sekalian sehingga perbaikan sistem pelayanan rumah sakit dapat segera terwujud,” katanya.
Selama ini, banyak keluhan masyarakat tentang pelayanan kurang baik terhadap pasien. Keluhan tersebut menurut Rusli merupakan suatu bentuk perhatian bagi pihak rumah sakit untuk bisa berbenah menuju ke arah yang lebih baik.
“Sijeges ini merupakan jawaban terhadap keluhan masyarakat terhadap pelayanan yang kita berikan. Sijeges kita buat sebagai bentuk motto pelayanan yang kita harapkan menjadi karakter pelayanan di rumah sakit. Memang mengubah karakter itu sangat sulit, namun inilah yang diusahakan semaksimal mungkin,” ungkapnya.
“Makanya kita berharap tidak perlu ada deking-dekingan untuk mendapatkan pelayanan. Deking masyarakat atau pasien yang sedang berobat ke rumah sakit adalah saya sebagai direktur, kemudian dokter, manajemen dan perawat rumah sakit. Bukan orang lain di luar institusi,
“Masyarakat juga perlu tahu ada aturan-aturan yang harus dipenuhi, pertama aturan administrasi. Karena kita saat ini sudah masuk pada era asuransi BPJS tentu ini harus kita ikuti, tidak ada yang bisa manabrak aturan tersebut,” ujarnya.
Kedua, Pemerintah Kabupaten Madina melihat bahwasanya masyarakat Madina yang sudah di cover oleh BPJS belum termasuk keseluruhan. Maka dari itu, Rusli menyebut pemerintah daerah bekerja sama dengan pihak lain mencari solusi untuk meringankan beban masyarakat yang mau berobat.
“Ada program yang namanya non register bekerja sama dengan pemerintah provinsi. Alhamdulillah setelah kita melakukan pendekatan ke provinsi akhirnya Kabupaten Madina per Agustus 2022 menjadi bagian dari program non register. Ini tidak banyak, hanya beberapa Kabupaten/Kota di Sumatera Utara yang dibantu,
“Kemudian juga Pemerintah Kabupaten Madina mendorong untuk memberdayakan Baznas. Begitu diberdayakan, RSUD Panyabungan melakukan pendekatan. Kebetulan juga di Baznas ada program Madina Sehat, maka kita segera membuat MoU dengan tujuan mengcover masyarakat kita yang kurang mampu,” jelasnya.
Dokter spesialis telinga, hidung dan tenggorokan ini menjelaskan RSUD Panyabungan sejak tahun 2016 sudah ditetapkan sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), namun pelaksanaan secara mandiri baru sejak Januari 2022.
“Tahun 2022 ini RSUD Panyabungan tidak lagi mendapatkan dana APBD dari Pemerintah Daerah Kabupaten Madina untuk menggerakkan rumah sakit ini. Yang diterima RSUD Panyabungan dari APBD hanya gaji PNS dan tunjangannya, di luar itu menjadi tanggung jawab rumah sakit,” terangnya.
Menurutnya, untuk mendukung kemandirian tersebut harus mempunyai usaha-usaha untuk mengefesiensikan dan mengefektifkan pendapatan dan belanja. Salah satu efesiensi pendapatan adalah memakai atau mengaplikasikan sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS).
“Begitu kita aplikasikan SIMRS pada tanggal 1 Februari 2022 di RSUD Panyabungan ini maka administrasi pasien begitu masuk harus masuk ke sistem. Kalau sudah masuk ke sistem, merubah status fasien tersebut sangatlah sulit. Maka kami harap masyarakat kita itu datang ke rumah sakit ini dengan kondisinya yang sebenarnya,
“Tidak mampu sampaikan saja kepada kami bahwa tidak mampu, kami tidak akan membedakannya dengan yang mampu. Tapi kami akan mencari solusi yang terbaik dengan cara mengandalkan program kita yang ada,” tutupnya. (MN-08)











