Batang Natal| kegiatan penambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Kecamatan Batang Natal Kabupaten Mandailing Natal (Madina) belakangan ini disoroti banyak pihak hingga meminta penegak hukum melakukan penutupan.
Aksi tersebut ditentang masyarakat di wilayah itu, terkhusus pelaku penambangan emas. Mereka meminta semua pihak memandang kegiatan tambang itu jangan dari satu sudut pandang saja, apalagi kegiatan tambang tersebut sudah banyak masyarakat yang bergantung hidup di situ.
M. Efendi (40), warga Batang Natal selaku pelaku tambang kepada MohgaNews, Sabtu (13/2/2021) menyampaikan, ada ribuan orang masyarakat setiap hari yang mencari nafkah dan penghasilan dari kegiatan tambang itu. Efendi menyebut kegiatan tambang emas di sungai Batang Natal sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu.
Efendi berpendapat sikap beberapa kelompok masyarakat yang meminta kegiatan penambangan emas di Batang Natal ditutup dikarenakan belum mengetahui sesungguhnya kehidupan warga di sana.
“Dan perlu kami sampaikan, bukan hanya masyarakat Kecamatan Batang Natal yang ikut mencari nafkah dalam kegiatan tambang emas di sini, warga dari berbagai kecamatan di Kabupaten Madina banyak yang bergantung hidup dari tambang emas ini,
“Kami paham bahwa apa yang kami lakukan ini suatu pekerjaan yang dilarang dan tidak ada izin. Tapi apakah kami harus dihukum hanya karena mencari nafkah disini, kami tidak punya pendidikan yang layak untuk mencari pekerjaan, kami hanya ingin mencari biaya keluarga dan sekolah anak-anak kami, apalagi dalam setahun ini kita semua mengalami bencana Covid-19. Tentu pekerjaan ini sangat kami butuhkan,” ungkapnya.
Warga lain bernama Ancah (45) menambahkan, kegiatan tambang di sepanjang sungai Batang Natal tidak hanya digiati kaum laki-laki saja, tetapi banyak kaum hawa dan ibu rumah tangga yang ikut mengadu nasip mencari butir emas di sungai tersebut.
“Banyak ibu rumah tangga yang ikut mencari rezeki di sini, mereka mendulang pasir untuk mencari emas, mereka ikut membantu hanya untuk mendapat uang beli beras, mereka berendam seharian di dalam air,
“Ini adalah persoalan ekonomi, jadi kami meminta kita semua jangan hanya melihat persoalan ini dari satu sudut pandang saja, apabila penambangan emas ini ditutup kami akan kesulitan mencari nafkah karena kami tidak bisa bekerja seperti orang yang berpendidikan itu,” keluhnya. (MN-01)






