Panyabungan| Namanya Nur Asiah (53), pengrajin ‘Alame’ (dodol) oleh-oleh atau penganan khas Mandailing Natal (Madina) di Kelurahan Kotasiantar Kecamatan Panyabungan. Usaha yang dirintisnya mulai tahun 1999 tergolong mulus. Sebab, dari usahanya itu ia sudah mengantarkan pendidikan anak-anaknya jadi Sarjana.
Alame itu dijualnya langsung kepada pelanggan di Kabupaten Madina dan ada juga pelanggan di luar daerah.
Suaminya bernama Rizal (55), dahulunya saat Nur Asiah memulai usaha tersebut, suaminya Rizal bekerja sebagai seorang sopir truck. Namun, lima tahun belakangan setelah usaha produksi Alame semakin maju, Rizal memutuskan meninggalkan pekerjaan sebagai supir dan memilih membantu usaha yang dirintis istrinya itu.
Saat ditemui MohgaNews ditempat produksi Alame bertempat di depan Sopo Godang halaman bolak banjar bolak, Selasa (17/11/2020). Nur Asiah menyebut dari hasil usahanya itu sudah empat orang anaknya yang sudah menyelesaikan perkuliahan. Sementara tiga orang anaknya saat ini masih duduk di bangku sekolah SMP dan SMA. Di sisi lain, Nur Asiah saat mempekerjakan 12 orang untuk membantu memproduksi Alame atau dodol asli Mandailing itu
Dalam sehari, Nur Asiah bisa memproduksi 400 sumpit (kantong terbuat dari pandan yang disulam), karena setiap hari ia memasak 6 kuali besar dodol.
“Setiap hari kita masak 6 kuali dan setelah dikemas akan dapat 400 sumpit,” sebutnya
Nur Asiah mengungkapkan bahan dasar Alame tersebut seperti tepung ketan, gula merah, santan kelapa, garam dan vanille. Sementara lama proses memasak sekitar 8 jam
“Mengaduknya harus dua orang kalau sudah mulai mengental, karena satu orang tidak akan bisa. Setelah matang dan didinginkan selanjutnya dimasukkan ke dalam sumpit,” ujarnya.
Dari segi pemasaran, Nur Asiah mengaku usahanya sudah sampai ke kota-kota besar di Indonesia. Dengan demikian, ia mampu menyekolahkan 7 orang anak perempuannya serta 12 karyawan.
“Anak saya semuanya perempuan, 4 orang sudah lulus kuliah dan 3 orang masih sekolah, dan sekarang ada 12 orang yang ikut membantu bekerja, mereka diberi upah Rp 50 ribu perorang, Alhamdulillah sampai sekarang usaha ini masih bertahan, untuk penjualan sudah sampai ke Papua dan Kalimantan. Saya jual 10 ribu persumpit,” tambahya
Senada juga diungkapan Rohana (49) salah satu pekerja memasak Alame di tempat Nur Asiah, ia mengatakan sudah 3 tahun bekerja dengan Nur Asiah, ia mengaku usahanya sehari-hari hanya menjadi tukang masak dodol.
“Suami saya tidak ada lagi dek, anak saya 2 orang dirantau, saya tinggal bersama ibu yang sudah tua, untuk menafkahi diri sendiri dan orangtua, saya dapat upah Rp 50 ribu sehari, itulah penghasilan saya, Alhamdulillah sangat terbantu,” ungkapnya sambil mengayuh Alame. (MN-08)












